SuaraJogja.id - Bupati Bantul Abdul Halim Muslih kaget sekaligus malu setelah mengetahui adanya pabrik obat terlarang terbesar di Indonesia berada di Bantul. Ia tidak menampik peristiwa tersebut mencoreng daerah yang ia pimpin.
"Saya kaget dan malu dengan terbongkarnya kasus itu. Membuat nama Bantul menjadi tidak baik jika itu dibiarkan terus menerus. Mudah-mudahan ini jadi kasus yang terakhir," tutur Halim, Rabu (29/9/2021).
Halim mengatakan bahwa memang ada mafia pil koplo yang selama ini tersembunyi di Bantul dan baru terungkap kemarin. Harapannya hal-hal seperti ini bisa diungkap oleh polisi.
"Sehingga Bantul bebas dari narkoba, bebas dari hal-hal yang merusak jiwa generasi muda," terangnya.
Dia menegaskan di Bumi Projotamansari tidak ada pabrik yang sengaja memproduksi pil koplo atau narkoba. Kalaupun ada pasti ilegal dan akan dibubarkan.
"Jika ditemukan pabrik seperti itu akan dibubarkan," tegasnya.
Untuk itu, polisi sudah melakukan pengecekan dan terus akan sweeping tempat-tempat yang dianggap mencurigakan sebagai penampungan obat ilegal.
Soal permohonan izin gudang, menurutnya, sudah ada peruntukannya. Jika izin gudang yang dipakai untuk pil koplo tidak sesuai izin harus ditindak tegas.
"Kami bersama polisi akan melakukan pemantauan dan pengawasan lebih ketat. Setiap menemukan seperti itu, polisi pasti punya perencanaan, jangan-jangan di luar itu masih ada," ujarnya.
Baca Juga: Kejar Cakupan Vaksinasi Hingga 80 Persen, Pemkab Bantul Lakukan Taktik Ini
Ia mengimbau kepada masyarakat Bantul jangan sampai melanggar hukum. Apalagi hukum yang terkait narkoba dan pil-pil yang mengandung zat adiktif.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Krisna H Siregar mengatakan, jajarannya bekerjasama dengan Polda DIY pada Selasa (21/9/2021) pukul 23.00 WIB menangkap tersangka WZ (53) asal Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah dan seorang saksi berinisial A di TKP gudang Kasihan, Bantul. Kemudian dilanjutkan penggeledahan tempat yang diduga sebagai Mega Cland Lab untuk produksi obat-obat keras.
"Di lokasi ini kami temukan mesin-mesin produksi obat, berbagai jenis bahan kimia prekursor obat, obat-obat keras jenis Hexymer, Trihex, DMP, double L, Irgaphan 200 mg yang sudah dikemas dan siap kirim, dan adonan/campuran berbagai prekursor siap diolah menjadi obat," katanya.
Tersangka WZ sebagai penanggungjawab gudang dan saksi AR sebagai pekerja menerangkan bahwa atasannya adalah LSK alias DA (49) asal Kasihan, Bantul. Lantas pada Rabu (22/9/2021) sekitar pukul 00.15 WIB pelaku berhasil ditangkap di kediamannya.
"DA ditangkap di sebuah perumahan Kec. Kasihan, Bantul, DIY. Berdasarkan hasil interogasi DA bahwa masih ada satu pabrik lainnya terletak di gudang Kalurahan Banyuraden, Gamping, Sleman," katanya.
Jajarannya pun langsung bergerak ke lokasi yang dimaksud untuk melakukan penggeledahan dan menemukan pabrik pembuatan dan penyimpanan obat keras.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
Terkini
-
5 Tahun Holding UMi, Sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM Dorong UMKM Bertumbuh
-
Lima Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, Muhammadiyah Minta Pencarian Gunakan Teknologi Terbaru
-
Heboh LHKP Muhammadiyah Cap Program MBG Haram, Haedar Nashir Buka Suara
-
Jelang Tanwir ke-114, Muhammadiyah Sentil Masalah Bangsa Menumpuk, Elite Tak Gerak Cepat
-
Dana Desa Dipangkas untuk Kopdes Merah Putih, Banyak Lurah Takut Masuk Penjara, DIY Andalkan Danais