"Kemudian ketika tahu itu ya sempat marah, benci. Maksudnya karena selama sebelum aku tahu itu banyak, beberapa kali kejadian yang tanpa kusadari bahwa aku itu ternyata juga bagian dari itu," ungkapnya.
Kemarahan Pipit kepada kedua orang tuanya sempat membuat kondisinya drop. Padahal saat itu ia harus menghadapi ujian kelulusan SMA.
"Aku merasa buat apa sih aku susah-susah sekolah nanti aku lulus terus aku tidak bisa memilih menjadi apa. Karena itu sudah digariskan, kemudian karena aku ingat banget dengan cerita di SMP itu semua anak keturunannya tidak akan bisa menjadi pegawai negeri enggak bisa menjadi tentara, enggak bisa terjadi apa-apa yang ada hubungannya dengan pemerintah, waktu itu ketika mendengar bahwa bapakku ternyata begitu itu aku sudah merasa, hancur ini sudah. Aku enggak bisa menjadi sesuatu yang aku inginkan di Indonesia ini," ujarnya.
Namun saat itu Pipit tetap bertekad untuk menyelesaikan sekolahnya di SMA hingga ia kemudian memilih memupus impiannya jadi tentara dan melanjutkan pendidikannya ke jenjang perkuliahan.
Ingin Jadi Anak Pak Harto
Pipit sendiri diketahui melanjutkan kuliah pada Fakultas Pertanian di sebuah universitas negeri angkatan 1999. Dua hingga tiga tahun pertamanya kuliah, Pipit hanya bisa fokus mengerjakan segala tugas-tugasnya, laboratorium hingga praktik dan lain sebagainya.
Pada periode sekitar 2003-2004 akhirnya Pipit mulai mendapatkan sedikit waktu longgar. Masa-masa ini yang juga dianggap sebagai titik awal perspektifnya mengenai stempel PKI itu mulai bergeser.
Awalnya ketika Pipit diminta untuk mengantarkan bapaknya Leo ke sebuah pertemuan anak-anak muda di kampusnya. Ia sendiri tidak tahu pertemuan apa itu.
"Jadi ada anak-anak mahasiswa itu mereka minta bapak untuk ngobrol di situ. Aku mendengarkan tapi aku udah tahu latar belakang bapak aku diam aja sih aku cuma mendengarkannya bercerita," ujar Pipit.
Baca Juga: Alasan TVRI Tak Tayangkan Film Pengkhianatan G30S PKI
Dari situ, bapaknya lantas mempertemukan Pipit dengan anak-anak muda lain, yang notabene sama-sama merupakan generasi kedua. Ia mulai mendengar berbagai cerita, baik dari bapaknya atau teman-teman bapaknya.
"Di situ mulailah aku agak-agak berubah persepsiku. Tidak lagi menyalahkan, ini kan masih ya, tapi sudah tidak terlalu ketika di awal-awal aku mendengar cerita itu tapi kemudian itu sudah mulai berkembang kan," ucapnya.
Pemahaman itu mulai datang ketika ia menyadari bahwa banyak teman-teman mahasiswa yang ingin tahu cerita bapaknya. Dari cerita yang didapatkan pun, ia mendengar bahwa bapaknya sendiri tidak tahu alasanya hingga saat ini kenapa ditahan.
Perang batin semakin dirasakan Pipit. Perspektifnya mulai bergeser. Tidak lagi melihat bahwa orang tuanya sebagai penyebab semua masalah tetapi justru sebaliknya, ada banyak hal kompleks yang melatarbelakangi peristiwa itu.
"Kemudian di situ aku malah terlibat untuk mendengar cerita yang lain gitu. Jadi aku tidak hanya mendengar cerita bapakku, tapi aku mendengar cerita temen-temen bapak yang lain. Itu cukup menggugah dan membuat aku banyak bertengkar sendiri dengan pikiranku," jelasnya.
Kendati memang Pipit mengetahui masa lalu orang tuanya justru lewat teman-teman bapak ibunya. Tetapi ia mengaku sudah sempat diceritakan mengenai hal itu tetapi tidak secara eksplisit.
Tag
Terpopuler
- AMPB Pulang Usai Audiensi DPR, Relawan Ojol Curiga Ada Kesepakatan Transaksional
- Setelah Pelatih Giliran Suporter FC Twente Usir Mees Hilgers: Pemain Malas
- Di Bursa Capres 2029: Elektabilitas Dedi Mulyadi Tembus 42 Persen, Ungguli Prabowo
- Cara Membersihkan Bunga Es dengan Aman dan Cepat Tanpa Merusak Freezer
- Daihatsu Kenalkan Mobil 120 Jutaan, 1 Liter Jalan 27 Km
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
RUU Perampasan Aset Segera Disahkan, Akademisi: Kewenangan Besar Tanpa Pengawasan Bisa Jadi Bumerang
-
Tragedi Drag Race Jadi Alarm, IMI Sebut Tak Semua Daerah Punya Venue Layak
-
21 Ribu Warga Yogyakarta Terdampak Perubahan Desil, Wali Kota Siapkan Refocusing Anggaran
-
Janji 19 Juta Lapangan Kerja Prabowo Ditagih, Pemerintah Diminta Berhenti Berkilah
-
Tinggal di Rumah Bambu Tanpa TV, Janda di Jogja Ini Syok Dicap Masuk Kategori Orang Kaya Desil 10