Galih Priatmojo | Rahmat jiwandono
Minggu, 10 Oktober 2021 | 08:45 WIB
Mural di Jembatan Kewek yang mendapatkan penghargaan, Rabu (15/09/2021) dalam Lomba Mural Gejayan Memanggil. [Kontributor / Putu Ayu Palupi]

SuaraJogja.id - Ketua Program Studi Pengkajian Seni pertunjukan dan Seni Rupa SPS UGM Budi Irawanto mengkritisi maraknya mural yang dihapus oleh pemerintah melalui aparat. Sebab,  beberapa mural dianggap berisi kritikan kepada pemerintah.

Menurutnya mural merupakan seni jalanan yang bersifat visual. Sekarang ini tidak sedikit seni jalanan ini berisi kritik sosial dan politik tidak hanya terjadi di Indonesia namun hampir di banyak negara.

Namun, ia tidak sepakat apabila penghapusan mural dengan menggunakan isu vandalisme atau dianggap mengganggu keindahan kota.

“Mural sebagai bagian dari seni jalanan sangat dekat dengan kritik sosial dan politik, tapi tidak semua mural bermuatan politik," ujar dia, Sabtu (9/10/2021).

Ia mengatakan, mural sebenarnya lebih banyak mengekspresikan keindahan visual menggunakan medium dengan yang ada di jalan, dinding, dan bangunan arsitektur. Untuk itu, dia mengajak seniman mural untuk membuat mural yang mampu membangun keindahan kota dengan baik.

"Meski berbagai mural juga berisi konten yang berupa kritik sosial dan politik kepada pemerintah sebagai bagian dari ekspresi," katanya.

Harapannya pemerintah atau aparat tidak alergi terhadap kritik sosial lewat mural. Budi Irawanto mendukung penghapusan mural apabila berisi gambar ajakan kebencian dan provokasi serta tidak menampilkan karya seni yang sesungguhnya.

"Mural sebagai bagian dari seni sangat berkaitan erat dengan kondisi sosial dan politik yang  ada di suatu masyarakat," terangnya.

Ia menyampaikan, seni sudah bergeser bukan lagi sebatas ekspresi individual dari senimannya. Namun bagian ekspresi kolektif dan komunitas.

Baca Juga: Pukat UGM: Kiprah KPK Tak Akan Sehebat Dulu

“Seni juga bagian upaya melakukan penyadaran karena memiliki muatan pengetahuan," tuturnya.

Load More