SuaraJogja.id - Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul pada Kamis (20/1/2022) kembali ditutup lantaran banyaknya tumpukan sampah. Akibatnya terjadi antrean truk pengangkut sampah.
Dalam video berdurasi 19 detik yang diunggah akun Twitter @merapi_uncover tampak antrean truk pengangkut sampah yang hendak masuk ke TPST Piyungan namun tidak bisa karena ditutup.
Menanggapi hal itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bantul Fenty Yusdayati tak menampik, kondisi TPST Piyungan saat ini mengkhawatirkan. Untuk itu, pada tahun ini akan dilakukan perluasan tempat agar dapat menampung lebih banyak sampah.
"Perluasan tempat sangat mendesak karena setiap harinya warga DIY terus memproduksi sampah," ujar Fenty, Kamis (20/1/2022).
Dijelaskannya, Kabupaten Bantul setiap harinya memproduksi sampah rumah tangga sebanyak 170 ton. Sementara itu, sampah yang dihasilkan dari wilayah Kabupaten Sleman dan Kota Jogja masing-masing mencapai 300 ton per hari.
"Jadi kalau ditotal setiap harinya ada 700 ton sampah yang masuk ke TPST Piyungan," paparnya.
Jika volume sampah tersebut tidak ditekan maka perluasan tempat di TPST Piyungan akan sia-sia. Sebab, pihaknya memperkirakan bahwa pada 2023 mendatang TPST Piyungan tidak lagi mampu menampung sampah dari tiga wilayah itu.
"Tahun depan TPST Piyungan diprediksi tidak bisa lagi menampung sampah sehingga harus dikurangi volumenya. Selain itu kami juga berkejaran dengan waktu untuk memperluas wilayah TPST Piyungan," katanya.
Terlebih wacana terkait dengan Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) sebagai solusi penanganan sampah di TPST Piyungan baru bisa terealisasi pada 2025.
Baca Juga: Beredar Surat Edaran Penutupan TPST Piyungan, Warga Tak Boleh Gembalakan Ternak
"KPBU baru akan dibangun mulai 2025 jadi sebelum KPBU berdiri, bisa jadi sampah di TPST Piyungan sudah membludak. Rencana KPBU kan juga menunggu arahan dari Pemda DIY," kata dia.
Karena itu, dia meminta kepada Pemkab Sleman dan Pemkot Jogja untuk mengolah sampah secara mandiri di sumbernya. Sehingga tidak semuanya dibuang ke TPST Piyungan.
"Misalnya ada pengolahan sisa makanan diolah menjadi sesuatu, entah jadi pupuk atau apapun itu. Dengan begitu volume sampah bisa dikurangi," katanya.
Berita Terkait
-
Beredar Surat Edaran Penutupan TPST Piyungan, Warga Tak Boleh Gembalakan Ternak
-
Kompetisi Drag Race Sisakan Serakan Sampah, Warga Pekanbaru Geram
-
Sebanyak 12 Kecamatan di Kabupaten Bantul Nol Kasus Aktif COVID-19
-
Tumpukan Sampah TPA Sukawinatan Longsor Bikin Banjir, Wawako Janjikan Hal Ini
-
Tumpukan Sampah di TPA Sukawinatan Longsor, Ratusan Warga Terdampak Banjir
Terpopuler
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
- 7 Rekomendasi Lipstik Terbaik untuk Kondangan, Tetap On Point Dibawa Makan dan Minum
- Cari Mobil Bekas untuk Wanita? Ini 3 City Car Irit dan Nyaman untuk Harian
Pilihan
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
-
Pemainnya Jadi Korban Tendangan Kungfu, Bos Dewa United Tempuh Jalur Hukum
-
Penembakan Massal Louisiana Tewaskan 8 Anak, Tragedi Paling Berdarah Sejak Awal Tahun 2024
-
Viral Tendangan Kungfu ke Lawan, Eks Timnas Indonesia U-17 Terancam Sanksi Berat
Terkini
-
BRI Miliki 36 Ribu Pekerja Perempuan, Setara 43% dari Total 86 Ribu Pekerja
-
Sesuai RUPST 2026, BRI Komitmen Ciptakan Pertumbuhan Kinerja Finansial secara Berkelanjutan
-
Dorong Peran Perempuan, BRI Raih 3 Penghargaan di Infobank 500 Most Outstanding Women 2026
-
Harga LPG Non Subsidi Meroket di Jogja, Penjual Resah, Ancaman Migrasi ke Elpiji 3 Kg Menguat?
-
Embarkasi Haji Berbasis Hotel Pertama di Indonesia Resmi Beroperasi di Kulon Progo