SuaraJogja.id - Belasan hewan ternak dari dua kapanewon di Gunungkidul positif terpapar ternak. Salah satu diantaranya adalah yang diduga menjadi pemicu belasan warga Kapanewon Gedangsari terindikasi tertular penyakit tersebut.
Kepala Balai Besar Veteriner Wates Hendra Wibawa usai bertemu Bupati Gunungkidul, Sunaryanta, Senin (31/1/2022) sore mengakui, setelah melalui investigasi dan uji laboratorium memang ada belasan hewan yang terkonfirmasi bakteri antraks. Belasan hewan yang terdiri sapi ataupun kambing itu berasal dari dua Kapanewon.
"Ada dua kapanewon yaitu Ponjong dan Gedangsari,"papar dia.
Dari hasil investigasi yang mereka lakukan ternyata total kematiannya ada belasan. 5 sapi dan 2 kambing berasal dari Kapanewon Ponjong serta 6 sapi dan 2 kambing dari Kapanewon Gedangsari. Belasan sapi tersebut semuanya positif antraks.
Hendra menuturkan hewan ternak yang mati terindikasi terpapar antraks pertama kali pada pertengahan bulan Desember 2021 yang lalu. Peristiwa pertama terjadi di Kapanewon Ponjong dan rentetan terakhir terjadi di Kapanewon Gedangsari yang diduga menular ke manusia.
"Sudah desember lalu. Dinas Peternakan sudah berusaha menanganinya,"ujar dia.
Untuk di Kapanewon Ponjong, ia mengakui jika 2 tahun lalu juga menjadi endemik. Namun kasus antraks kali ini berbeda lokasi atau lokusnya dengan yang sebelumnya muncul 2 tahun lalu. Sehingga dimungkinkan mutasi dari kasus 2 tahun yang lalu.
Untuk asalnya, lanjut dia, dirinya belum bisa mengambil kesimpulan karena masih terus melakukan penyelidikan. Namun dimungkinkan karena sapi ini terpapar dari spora yang muncul dari tanah. Ia memang tidak menampik jika spora antraks di dalam tanah muncul jika di atas tanah yang sebelumnya endemik ditanami rumput.
"Jadi mungkin rumputnya dimakan terus ternaknya terpapar antraks,"terang dia.
Jika cepat ditangani, sebenarnya sapi-sapi ataupun kambing yang terpapar antraks tersebut bisa sembuh. Namun jika terlambat ditangani maka resiko paling besar adalah hewan ternak tersebut mati setelah menunjukkan beberapa gejala.
Hendra menambahkan gejala yang terjadi di kambing adalah penurunan nafsu makan, kemudian diikuti nafas terengah-engah karena kesulitan bernafas dan langsung mati. Namun untuk sapi, tanda paling umum muncul adalah penurunan nafsu makan, lesu, terengah-engah karena kesulitan mendapatkan oksigen.
"Dan langsung fatal bisa mati,"ungkap dia.
Kepala Dinkes Gunungkidul Dewi Irawaty mengatakan dari hasil penelusuran di lokasi endemik hewan terpapar antraks tersebut, didapatkan hasil setidaknya ada 23 warga yang dilaporkan mengalami gejala mirip Antraks. Masing-masing 13 orang dari Ponjong dan 10 dari Gedangsari.
"Gejala yang paling terlihat dari 23 warga ini adalah mengalami luka pada kulit seperti melepuh. Gejala seperti ini lazim ditemukan pada orang yang terpapar Antraks,"ujar dia, Senin (31/1/2022).
Meski sudah menunjukkan gejala mengarah ke antraks namun pihaknya belum memastikan apakah hal tersebut antraks atau bukan. Karena sampai saat ini pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium dari sampel darah yang dikirimkan ke Balai Besar Veteriner Bogor.
Berita Terkait
Terpopuler
- WNI Tentara Bayaran Rusia, Rendi Apriyanto Sempat Kirim Duit ke Ortu Tapi Rekening Diblokir
- 5482 Korban Keracunan MBG, Viral Ucapan Wapres Gibran: Bawa Bekal dari Rumah, MBG Jangan Dimakan
- Kekayaan Jusuf Hamka yang Dilaporkan Hary Tanoesoedibjo ke Polisi
- Jaksa Agung Burhanuddin Muncul di Istana, Bantah Bakal Dilantik jadi Jampidum
- 3 Sepatu Lokal Paling Nyaman dan Empuk untuk Jalan Terbaik Menurut Review
Pilihan
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
-
Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan
Terkini
-
Bahlil Rangkap Menteri dan Menko, Pengamat Sebut Prabowo Selamatkan Agenda Politik 2029
-
Resep Kuliner Tradisional Mulai Hilang, 45 Persen Warisan Gastronomi Indonesia Terancam Punah
-
Keluarga Eks-Napiter Terjebak Stigma, Deradikalisasi Dinilai Tak Cukup Sasar Pelaku
-
JPW: Kapolri Baru Tak Berdampak Jika Pekerjaan Rumah Dibiarkan Mangkrak
-
Pratikno dan Listyo Sigit Kena Resuffle, Prabowo Disebut Bersih-bersih Orang Jokowi