Dewi menandaskan ketika pertama kali mereka mendapat laporan adanya indikasi warga yang menunjukkan gejala antraks, pihaknya langsung bereaksi. Mereka mengambil langkah antisipatif dengan melakukan penelusuran sekaligus memberikan obat serta penguat daya tahan tubuh.
"Siang kami mendapatkan laporan malamnya langsung kami tindaklanjuti,"papar dia.
Secara umum mereka sebenarnya dalam kondisi baik. Hanya saja ada satu orang yang terpaksa dilarikan ke RSUD Wonosari karena kondisinya mengalami penurunan. Sedangkan untuk warga yang bergejala, semuanya kini ditangani di kediamannya masing-masing.
Dewi mengatakan pihaknya juga melakukan monitoring di lokasi terduga tempat penyebaran Antraks. Prosesnya dilakukan selama 60 hari oleh puskesmas dibantu perangkat setempat, guna memastikan potensi penyebaran bisa dihentikan.
Terpisah, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul memastikan penanganan terhadap hewan ternak yang terkena antraks sudah dilakukan dengan cepat. Dinas juga sudah melakukan investigasi di lapangan.
Kepala Bidang kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Gunungkidul, drh. Retno Widyastuti memaparkan, belasan ternak mati mendadak sejak 14 Desember 2021 hingga terkahir Jumat (28/01/2022) kemarin. Setelah ada sejumlah warga yang tiba-tiba mengalami sakit kulit dan ciri-ciri terpapar antraks.
"Ternak di lokasi tersebut yang masih hidup kita beri vitamin dan injeksi baru dua minggu lagi akan kami vaksinasi," kata Retno, Selasa (1/2/2022).
Ke depan pihaknya berencana akan melakukan vaksinasi terhadap seluruh ternak yang ada di dua kapanewon tersebut. Namun pihaknya tidak menentukan kapan vaksinasi tersebut akan selesai mengingat jumlah populasi ternak di dua kapanewon tersebut cukup banyak.
Dua kapanewon tersebut populasi ternak sapi kambing dan domba mencapai 46 ribu. Dan di satu sisi jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) yang ia miliki cukup minim. Banyak pegawai di lingkungannya yang telah purna tugas dan 13 dokter yang ia miliki juga diperbantukan semua
Kontributor : Julianto
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 5 Sunscreen Brand Jepang untuk Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harga
Pilihan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
Terkini
-
BRI Pastikan Bantuan Korban Gempa NTT Tepat Sasaran Lewat Posko BRI Peduli
-
Tuntut Pelunasan Hak Pekerja Trans Jogja, KSBSI Desak Dishub DIY dan PT AMI Buka Ruang Mediasi
-
JPU Ungkap Fakta Dugaan Anak Ditenggelamkan dalam Kasus Little Aresha
-
Swiss-Belhotel Airport Yogyakarta Gelar GSM Bertema "Noesantara 45" Sambut HUT ke-81 RI
-
13 Terdakwa Little Aresha Akhirnya Disidang, Orang Tua Korban Desak 4 Pelaku Lain Diproses Hukum