SuaraJogja.id - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DI Yogyakarta, sedang menelusuri adanya praktik tying yang dialami beberapa pedagang di Pasar Beringharjo saat membeli minyak goreng. Meski sudah menerima laporan sepihak dari masyarakat, Disperindag belum menemukan distributor atau toko yang diduga melakukan tying tersebut.
Kabid Perdagangan Dalam Negeri Disperindag DIY, Yanto Apriyanto menuturkan bahwa pihaknya sedang menelusuri kembali distributor yang melakukan praktik-praktik tying. Sidak di sejumlah toko besar dan distributor masih dilakukan.
"Jelas kalau tying itu tidak boleh, melanggar aturan dan dapat dikenai sanksi," ujar Yanto dihubungi wartawan, Rabu (23/2/2022).
Ia melanjutkan berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang persaingan usaha, praktek tying sama seperti halnya upaya monopoli pasar.
"Jadi dasar hukumnya ada, ini yang harus diperhatikan para pelaku usaha terutama distributor untuk tidak melakukan praktik tying yang merugikan salah satu pihak ," kata dia.
Sesuai Pasal 15 ayat (2), UU No. 5/1999 dijelaskan, para pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pihak lain dengan persyaratan bahwa pihak yang menerima barang dan atau jasa tertentu harus bersedia membeli barang dan atau jasa dari pelaku usaha pemasok.
"Tetap ada sanksi, kami tegaskan itu tidak boleh. Kami akan beri teguran terlebih dahulu, sebelum dijatuhkan sanksi," ungkap dia.
Yanto mengatakan, kegiatan tying tidak dibolehkan pada situasi minyak goreng sedang kekurangan stok di beberapa toko termasuk di pasar-pasar.
"Sebenarnya kemarin sudah kami bahas. Jadi kami imbau ke pelaku usaha tidak perlu sampai melakukan tying. Kalau seandainya ada tying mungkin dari distributornya," kata dia.
Baca Juga: Juru Parkir Pasar Beringharjo Meninggal Saat Keluarkan Motor dan 4 Berita SuaraJogja
Ia tak menampik sidak sudah dilakukan beberapa waktu terakhir. Namun distributor atau toko besar yang ditanyai soal praktik tying ini, mereka tidak mau mengaku.
"Laporan sepihak masyarakat sudah ada. Tapi kami datangi, mereka mengaku tidak melakukan tying," kata dia.
Beberapa distributor masuk dalam daftar mapping Disperindag DIY yang diduga melakukan praktek tying. Kendati demikian belum ada nama pasti yang akan dibeberkan.
"Jangan ada oknum-oknum yang menggunakan kesempatan ini. Untuk distributor, kami terus terang sedang menelusuri," ujarnya.
Untuk diketahui praktik tying adalah usaha penjual memberikan syarat pada konsumen untuk membeli barang kedua setelah membeli barang pertama. Secara undang-undang hal itu bertentangan dengan hukum antimonopoli dan dapat dikenai sanksi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Jelang COP31, Jaringan Orang Muda Kritik Eksploitasi Alam di Jogja, Rakyat yang Tanggung Akibatnya
-
Korban Luka Kericuhan Malioboro Capai 116 Orang, 13 Jalani Dirawat Inap
-
Bukti Negara Hadir Tingkatkan Kesehatan Masyarakat: Program CKG Sudah Deteksi Medis 105 Juta Orang
-
Usung Pelestarian Budaya Berkelanjutan, Ini Rangkaian Acara Tentrem Cultural Week 2026
-
JPW Pertanyakan Sikap Humanis Polda DIY: Ada Pelempar Berlindung di Balik Barikade Polisi