SuaraJogja.id - Selama bulan Juli ini publik Jogja dapat merasakan kembali padatnya kegiatan seni dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Terutama semenjak membaiknya kondisi pandemi dan kegiatan ekonomi termasuk di dalamnya berbagai aktifitas seni dan budaya yang mulai kembali bangkit dan bergairah di tahun 2022 ini. Meski sebenarnya, seperti tahun-tahun sebelum pandemi setiap waktu Jogja tak pernah sepi dari kegiatan seni.
Di tahun ini Yogyakarta mulai kembali dipenuhi dengan atmosfer kreatif yang luar biasa dimana para seniman menumpahkan segala daya kreasinya.
Turut merayakan dan menyemarakkan kegiatan kesenian di Yogyakarta D'art Management, Project Eleven dan Hotel Melia Purosani Yogyakarta menghadirkan gelaran pameran seni bertajuk “No Boundaries.
Persoalan jarak bagi sebagian orang bukan perkara penting. Jarak tidak menakutkan, kata sebagian pihak, diikuti frasa-frasa puitik. Namun, cobalah tanyakan arti jarak bagi para pengungsi perang Kosovo yang menempuh ratusan kilomenter menuju Serbia dengan berjalan kaki. Tiap tapak di tanah basah penuh darah itu diikuti ingatan akan kemalangan. Tentang rumah dan tanah yang dirampas. Kehidupan yang dirampas.
Atau tanyakan pada Wilhelm Pieck. Betapa menakutkannya jarak sehingga ia membangun beton sepanjang 40 kilometer. Sekalipun diruntuhkan paksa demonstran pada 1989, tembok itu telah menemukan bentuk terbaiknya. Dalam realita kekinian, bentuk itu menyesap dalam darah. Kita mengenalnya dengan wajah berbeda. Curiga dan tamak dua di antara.
Jarak, makin menakutkan. Ketamakan jadi hasad, lalu mengulang peperangan laiknya Kosovo, Irak, Iran, dan tanah-tanah lain
Pandemi laiknya tembok yang tidak hanya memisahkan manusia dengan manusia lainnya, tetapi juga melahirkan ruang ekslusif yang sulit dijamah. Pandemi mewariskan pandangan baru, di mana nyawa tidak lebih dari deretan angka sekaligus tanda bahaya, seolah seperti pengungsi Kosovo yang entah selepas perang. Saat ini perang masih berlangsung karena jarak, yang dibekukan pandemi, belum benar-benar diterabas.
"Fenomena itu kami ungkapkan melalui pameran rupa bertema 'No Boundaries'. Pemilihan tema terinspirasi dari album kompilasi berjudul sama yang rilis tahun 1999. Kompilasi dari 15 musisi atau band dunia dibuat untuk mengumpulkan dana untuk para pengungsi Kosovo selama masa perang. Masa yang hampir sama dengan keadaan saat ini" jelas Ditya, mewakili D’Art Management.
Saat "perang" berlangsung dan menciptakan banyak kesedihan, kerugian, dan kehilangan 15 seniman yang berpartisipasi di pameran bersatu. Mereka mencoba mengambil energi yang sama dengan 15 musisi/band pada album kompilasi tersebut. Bahwa untuk membantu sesama, tak ada batasan (genre, media, dan latar belakang) dalam berkarya.
Baca Juga: Resmi Dibuka, ARTJOG 2022 Gandeng Komunitas Difabel dan Hadirkan Program ARTJOG Kids
Esensi dari seni rupa erat dengan kreativitas dan pengkaryaan yang seharusnya tidak mengenal batasan dan jarak. Bila sebuah karya dikerangkeng dengan ukuran-ukuran maupun disekat, karya tersebut bakal sulit untuk lebih berkembang. Dengan kata lain pembatasan berpotensi mengecilkan karya itu sendiri.
Berkaitan dengan perkembangan seni rupa di tanah air. Menyikapi tren yang sedang terjadi dan bergejolak, "No Boundaries" secara literal mempunyai arti tanpa batas, sebuah harapan pada seni rupa agar terus maju bersama tanpa ada penyekatan yang dilakukan seniman itu sendiri, maupun pasar seni rupa. Pada dasarnya dengan menyekat segala sesuatunya, akan berimbas menjadi monoton, sehingga tidak bisa berkembang.
"Lewat gelaran pameran 'No Boundaries' ini Melia Purosani Yogyakarta bersama dengan D'art Management dan Project Eleven berupaya turut mendukung kegiatan kesenian di Yogyakarta. Pameran ini juga merupakan perwujudan komitmen Melia Purosani untuk terus mendukung kreativitas berbagai komunitas dalam hal ini komunitas seni di Yogyakarta" demikian disampaikan R Danang Setyawan dan Ratih Muntaana dari team Marketing Communications Melia Purosani Yogyakarta.
Pameran "No Boundaries" digelar di Hotel Melia Purosani 9-24 Juli 2022 di Mezanine Floor lantai 1. 15 seniman yang menuangkan energinya adalah Anang Saptoto, Aarwin Hidayat, Begok Oner, Eko Didyk Sukowati, Indra Dodi, Iwank HS, Miftahul Khoir, Micomic, Purnomo Clay, Prihatmoko Moki, Soni Irawan, Suparyanto Bofag, Yusuf Novantoro, Yogi Septifano, dan Rangga A. Putra.
Pameran ini terbuka untuk umum dan free entry, menampilkan berbagai karya seni dari para emerging artist dan established artist yang berbasis di Yogyakarta. Pameran dibuka secara resmi oleh Bapak Deni Rahman dan Juga Dr. Melani W Setiawan pada 9 Juli 2022, dengan menampilkan Art Performance dari Seniman FJ Kunting dan Music Performance oleh Jewawut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Iran Sakit Hati Kapal dan Minyak Miliknya Rp 1,17 triliun Dilelang Indonesia
- 10 Potret Rumah Baru Tasya Farasya yang Mewah, Intip Detail Interiornya
- 4 HP Xiaomi RAM 8 GB Paling Murah, Performa Handal Multitasking Lancar
- Panas! Keluarga Bongkar Aib Bunga Zainal, Sebut Istri Sukhdev Singh Pelit hingga Nikah tanpa Wali
- 5 Shio yang Diprediksi Beruntung dan Sukses pada 27 Maret 2026
Pilihan
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
Terkini
-
Permudah Akses Uang Tunai, BRI dan GoPay Luncurkan Layanan Cardless Withdrawal
-
Eks Bupati Sleman Sri Purnomo: Jangan Sampai Menghukum Orang yang Tak Berdosa
-
Wacana WFA ASN untuk Efisiensi BBM Mengemuka, Pemda DIY Pertanyakan Efektivitas Kerja
-
Pledoi Sri Purnomo: Kuasa Hukum Tegaskan Tak Ada Persekongkolan dan Keuntungan Pribadi
-
Pameran Kuliner dan Kemasan Skala Internasional Siap Digelar di Jogja, Dorong Standardisasi Mutu