Scroll untuk membaca artikel
Eleonora PEW
Senin, 01 Agustus 2022 | 22:15 WIB
Kolase potret Jokowi saat bertemu dengan Zelenskyy dan Vladimir Putin (Instagram/@jokowi)

SuaraJogja.id - Setelah Juni lalu bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, lalu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Joko Widodo atau Jokowi menceritakan isi pertemuannya tersebut.

"Saya saat itu ketemu dengan Presiden Ukraina, Presiden Zelenskyy, dia cerita ke saya ada stok (gandum) di Ukraina di gudang 22 juta ton, stok dalam proses panen 55 juta ton, artinya 77 juta ton gandum diam di Ukraina, tidak bisa keluar karena perang," kata Presiden Jokowi, menceritakan pembicaraannya soal krisis pangan dunia, saat menghadiri acara "Zikir dan Doa Kebangsaan 77 Tahun Indonesia Merdeka" di halaman Istana Merdeka Jakarta, Senin.

Presiden Jokowi diketahui bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, di Istana Maryinsky, Kyiv pada 29 Juni 2022. Presiden Jokowi juga bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin pada 30 Juni 2022.

"Saya bicara 1,5 jam dengan Presiden Zelenskyy lalu pindah ke Moskow ketemu Presiden Putin. Dia cerita juga ke saya ada stok gandum di Rusia 130 juta ton, berarti di Ukraina plus Rusia jumlah stok gandumnya ada 207 juta ton, bukan 207 ton tapi 207 juta ton. Inilah yang menyebabkan 333 juta orang kelaparan dan mungkin 6 bulan lagi 800 juta orang akan kelaparan akut karena tidak ada yang dimakan, sekali lagi," tambah Presiden.

Baca Juga: Presiden Volodymyr Zelenskyy Copot Dua Pejabatnya Akibat Dugaan Bersekongkol Rusia

Presiden Jokowi menyebut setelah hampir 2,5 tahun seluruh negara mengalami sakit berbarengan karena pandemi COVID-19, negara-negara di dunia kembali mengalami masalah yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya.

"Baru akan melakukan pemulihan tapi muncul sesuatu yang dadakan yang tidak kita perkirakan sebelumnya, sakitnya belum sembuh, muncul yang namanya perang di Ukraina sehingga semuanya menjadi bertubi-tubi, menyulitkan hampir semua negara, semua negara berada dalam posisi yang sangat sulit," ungkap Presiden.

Namun Presiden Jokowi menyebut Indonesia patut bersyukur karena bila bensin di negara lain harganya sudah Rp31 ribu-Rp32 ribu, namun di Indonesia harga pertalilte masih Rp7.650.

"Tapi perlu kita ingat subsidi BBM sudah terlalu besar dari Rp170 triliun sekarang sudah Rp502 triliun, negara mana pun tidak akan kuat menyangga subsidi sebesar itu, tapi alhamdulilah kita sampai saat ini masih kuat, ini yang perlu kita syukuri," tambah Presiden.

Di bidang pangan, Indonesia juga patut bersyukur karena harga beras di Indonesia tidak naik.

Baca Juga: Presiden Zelenskyy Pecat Sejumlah Dubes Ukraina, Ada Apa?

"Ini patut kita syukuri, berkat kerja keras bapak ibu, berkat ikhitar gotong royong kita bersama-sama," ungkap Presiden.

Load More