Scroll untuk membaca artikel
Muhammad Ilham Baktora
Selasa, 08 November 2022 | 16:17 WIB
Suasana ruang kelas SD Muhammadiyah Bogor yang atapnya ambruk di Kapanewon Playen, Kabupaten Gunungkidul, Selasa (8/11/2022). [Kontributor Suarajogja.id/ Julianto]

SuaraJogja.id - FA (12) siswa kelas 6 SD Muhammadiyah Bogor, Playen sampai saat ini masih dirawat di ICU RSUD Wonosari. Bocah asal dusun Sumberejro Kalurahan Ngawu Kapanewon Playen ini kritis usai terjepit baja ringan reruntuhan atap bangunan lantai 2 SD tempatnya belajar.

Sementara rekannya, CA (11) siswi kelas 5 SD Muhammadiyah tersebut awalnya dirawat di RSUD Wonosari, namun diperkenankan untuk pulang. Bocah ini awalnya mengalami cidera kaki usai atap ruang kelasnya ambrol, Selasa (8/11/2022) pagi.

Runtuhnya atap bangunan lantai 2 SD Muhammadiyah Bogor ini sempat membuat panik siswa, guru, wali murid dan warga sekitar. Mereka kaget dengan peristiwa yang terjadi Selasa pagi sekira pukul 07.30 ini.

Kapolres Gunungkidul AKBP Edy Bagus Sumantri, saat ditemui di lokasi kejadian menyatakan, terkait peristiwa ambruknya atap gedung SD Muhammadiyah di Kapanewon Playen, polisi akan melakukan penyelidikan penyebab peristiwa tersebut. Penyelidikan ini nantinya terkait konstruksi bangunan.

Baca Juga: Atap SD Muhammadiyah di Gunungkidul Ambrol, Satu Orang Kritis Usai Tertimpa Baja Ringan

"Tim masih melakukan olah TKP," terang Kapolres, Selasa (8/11/2022).

Pihaknya sendiri masih belum bisa menyimpulkan terkait penyebab ambruknya atap tiga ruangan kelas SD ini. Namun petugas Inafis Satreskrim Polres Gunungkidul langsung melakukan olah TKP. Beberapa komponen runtuhan bangunan dinaikkan ke kendaraan petugas untuk penyelidikan lebih lanjut.

Sementara Kapolsek Playen, AKP Hajar Wahyudi, Selasa siang menjelaskan ada tiga ruangan yang ambrol, namun yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar satu ruangan. Belasan siswa mengalami luka akibat kejadian ini

"Untuk jumlah murid yang terluka ada 12 siswa, 11 luka ringan, dan satu luka serius namun dalam dalam keadaan sadar dan dirawat di RSUD Wonosari, rata-rata mengalami luka lecet dan tertimpa genting atau plafon, para murid mengalami ketakutan dan trauma," terang Hajar.

Terpisah, warga setempat yang juga wali murid, Jumiran mengungkapkan, saat peristiwa terjadi ia tengah berada di belakang sekolah. Tiba-tiba ada suara keras seperti besi patah. Kemudian atap tiba-tiba ambrol meskipun tidak bersamaan antara kelas 5 ataupun 6.

Baca Juga: Diguyur Hujan Deras, Banjir Rendam Sekolah dan Balai Dusun di Girisubo Gunungkidul

"Suara tersebut hanya satu kali, jadi ambrolnya tidak barengan," kata dia.

Load More