Scroll untuk membaca artikel
Muhammad Ilham Baktora
Kamis, 30 November 2023 | 17:10 WIB
Kondisi TPST Piyungan, Bantul yang sudah penuh dengan sampah. [Kontributor Suarajogja.id/ Julianto]

Biasanya, Tejo dan warga sekitar melakukan pemilahan sampah ketika tidak sedang mengangkut sampah.

Pemilahan tersebut meliputi barang apa saja yang bisa dijual, digunakan ulang, itu dipisahkan. Lalu untuk sampah-sampah sisa makanan, itu biasanya diolah untuk jadi pakan ternak atau ikan.

Sedangkan sisanya, sampah yang sudah tak bisa dimanfaatkan lagi kemudian ditumpuk. Menunggu pemerintah untuk mengambil dan mengirimnya ke Piyungan.

"Kalau lagi enggak ngangkut sampah, kami biasanya memilah sampah. Jadi, sampah yang bisa dijual, digunakan, itu kami pisahkan. Tapi kalau kaya sisa makanan, itu nanti bisa jadi pakan ternak atau pakan ikan. Nah sisanya itu numpuk, tergantung pemerintah yang ngambil.", tegas Tejo.

Baca Juga: 4 Wilayah di Indonesia Paling Baik Kelola Sampah dengan Metode TPS3R, Jogja Nanti Dulu Deh

Tak hanya Tejo, Novem (34) selaku rekan Tejo dalam mengelola sampah di wilayah Terban juga mengatakan hal yang sama. Ia dan kelompok warga melakukan pemilahan sampah.

TPS tempat dirinya bekerja dikelola bersama warga dibantu dengan pemerintah. Tidak seperti TPS di Lempuyangan, Kotabaru, dan lain sebagainya. TPS-TPS tersebut dikelola penuh oleh pemerintah, di mana setelah dipilah oleh warga, langsung diangkut oleh DLH ke Piyungan.

"Di wilayah Terban ini masuknya mandiri, 50-50 sama pemerintah. Kalau di Lempuyangan, Kotabaru itu kan beda. Di sini itu kami pilah dulu, lalu kemudian nanti diangkut sama DLH [pemerintah] ke Piyungan.", ucap Novem.

Kontributor: Fristian Setiawan

Baca Juga: Klaim Dagangannya Sepi Akibat Toko Online, Empat Pedagang asal Jawa Barat Nekat Tipu Korban Ratusan Juta

Load More