SuaraJogja.id - Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo Eryono menyatakan reservasi hotel di Yogyakarta masih tinggi usai masa libur nataru tepatnya Januari hingga Februari 2024. Hingga saat ini terpantau reservasi berkisar antara 40-55 persen.
Padahal, diakui Deddy, biasanya pada bulan Januari hingga Februari sendiri merupakan low season. Mengingat masa liburan telah usai dan sekolah sudah kembali masuk.
"Januari reservasi sudah cukup baik, ya 50-55 persen terutama hotel bintang. Februari itu 40-50 persen, yang biasanya Januari-Februari low season ini alhamdulillah ada tamu reservasi," kata Deddy, Rabu (3/1/2024).
Menurut Deddy, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Termasuk sejumlah acara penting yang akan digelar di Yogyakarta dalam dua bulan ini.
Salah satunya yakni "Dhaup Ageng" atau pernikahan agung di Kadipaten Pakualaman. Apalagi berdasarkan informasi akan ada sejumlah tamu penting negara yang akan menghadiri acara tersebut.
Ditambah pula dengan sejumlah masyarakat yang memilih menunda liburan. Sehingga memilih awal tahun untuk berpergian termasuk ke Jogja.
"Ya itu karena ada Dhaup Ageng Pakualam, lalu karena dari bulan Desember tidak dapat kamar kemudian dia [wisatawan] mundur ke Januari. Jadi intinya minat wisatawan untuk datang ke DIY itu masih tinggi," ungkapnya.
PHRI DIY menargetkan setidaknya okupansi hotel di wilayahnya pada Januari-Februari mendatang berada di angka 75-80 persen. Pihaknya optimis target itu bisa tercapai melihat tren positif belakangan ini.
"Bulan ini kemungkinan masih ada kenaikan. Target Januari hanya 75-80 persen, turun 10 persen [dari target saat libur nataru] karena biasanya low season di bulan ini [Januari]. Februari cukup 75 persen. Kalau tahu lalu [okupansi] Januari 70 persen dan Februari 55 persen," terangnya.
Baca Juga: Ziarah ke Makam Sang Ayah, Anies Baswedan Ingat Pesan Soal Perubahan
Bulan Februari yang diketahui merupakan ajang Pilpres 2024 pun, dikatakan Deddy, masih akan menyumbangkan wisatawan yang cukup banyak. Namun dengan catatan tidak ada gejolak politik selama masa kampanye hingga Pilpres nanti.
Pasalnya reservasi pun bisa mundur atau bahkan dibatalkan jika situasi stabilitas politik tidak terkendali. Apalagi jika terjadi gesekan antar kelompok.
"Masih ada gelombang wisatawan iya, bahkan menjelang coblosan pun masih ada, setelah coblosan juga ada. Makanya kita berharap kondisi keamanan dan stabilitas politik di Daerah Istimewa Yogyakarta itu terkendali. Lebih-lebih ini masa kampanye," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Arya Iwantoro Anak Siapa? Ternyata Ayahnya Eks Sekjen Kementan yang Pernah Diperiksa KPK!
- Usut Kematian Nizam Syafei yang Disiksa Ibu Tiri, Video di Ponsel Korban akan Diperiksa
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Pilihan
-
Debut Berujung Duka, Pemain Senegal Meninggal Dunia Usai Kolaps di Lapangan
-
Di Tengah Jalan Raya, Massa Polda DIY Gelar Salat Gaib Massal untuk Korban Represi Aparat
-
Massa Aksi di Depan Polda DIY Dibubarkan Paksa oleh Sekelompok Orang Berpakaian Sipil
-
5 Fakta Mencekam Demo di Mapolda DIY: Gerbang Roboh hingga Ledakan Misterius
-
Suasana Mencekam di Depan Polda DIY, Massa Berhamburan Usai Terdengar Ledakan
Terkini
-
Disnaker Sleman Buka Posko THR, Pengusaha Diminta Patuhi Kewajiban
-
Kronologi dan Tuntutan Aksi Demo Mencekam di Polda DIY: Soroti Kekerasan Oknum Aparat!
-
5 Fakta Mencekam Demo di Mapolda DIY: Gerbang Roboh hingga Ledakan Misterius
-
Waktu Buka Puasa di Jogja Hari Ini 24 Feb 2026: Cek Jadwal Magrib dan Doa Lengkap!
-
Saling Jaga di Tengah Keterbatasan: Rutinitas Kakak Beradik Mencari Rezeki Demi Keluarga Sejak Dini