Scroll untuk membaca artikel
Galih Priatmojo | Hiskia Andika Weadcaksana
Selasa, 14 Mei 2024 | 16:35 WIB
Ilustrasi pilkada. [Ist]

Survei ini juga menggali preferensi responden terhadap latar belakang calon wali kota. Hasilnya sebanyak 28 persen responden menginginkan wali kota berlatar organisasi atau tokoh keagamaan, 24 persen ingin berlatar akademisi, dan 16 persen berlatar masyarakat sipil.

Disampaikan Edward, survei ini turut menggali masalah sosial-politik di Kota Jogja untuk diangkat dalam visi misi kandidat nanti. Tercatat 55 persen responden menginginkan kepala daerah mengangkat isu ketimpangan dan kesenjangan sosial.

Kemudian 38,20 persen responden menginginkan isu pengelolaan sampah. Sedangkan sisanya memilih isu lain seperti lingkungan, infrastruktur publik dan biaya pendidikan.

"Temuan ini menunjukkan bahwa isu sosial-ekonomi dan pengelolaan sampah menjadi prioritas utama yang diharapkan masyarakat untuk diatasi dalam visi dan misi calon wali kota dan wakil wali kota Yogyakarta," ungkapnya.

Baca Juga: Pendaftaran Ditutup, Tak Ada Calon Perseorangan dalam Pilkada Kota Jogja 2024

Kemudian, dari temuan Muda Bicara ID, sebanyak 71 persen responden menganggap bahwa baliho tidak berpengaruh terhadap pilihan mereka di Pilkada. Selain itu, sebanyak 72 persen responden menganggap bahwa video merupakan bentuk konten kampanye politik yang menarik.

Edward bilang temuan ini mengindikasikan bahwa pemilih masa kini lebih cenderung terpengaruh oleh kampanye yang menyediakan konten yang informatif, interaktif, dan relevan dengan kebutuhan serta keinginan mereka. 

Hal ini pentingnya untuk strategi komunikasi politik yang inovatif dan adaptif dalam era digital. Apalagi pemilih mencari lebih dari sekadar sloganeering tetapi substansi dan keterlibatan yang nyata.

Load More