SuaraJogja.id - Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) bersama dengan IDI Wilayah DI Yogyakarta dan Dewan Jamu Indonesia menggelar puncak peringatan Hari Bakti Dokter Indonesia ke-116. Kegiatan ini mengangkat tema 'Sinergi dan Kolaborasi Untuk Negeri'.
Rangkaian kegiatan HBDI ke-116 ini diisi dengan beragam acara baik ilmiah maupun kegiatan bakti sosial. Salah satu materi yang menjadi pembahasan menarik adalah kebijakan IDI terkait pengembangan obat tradisional.
Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Moh. Adib Khumaidi tak memungkiri Jogja sangat dekat dengan jamu. Apalagi jamu pun sebagai warisan budaya dan erat dengan sejarah perkembangan Yogyakarta.
"Jogja sebagai heritage sebagai kota bersejarah untuk Indonesia, sehingga kita mendoronga ada namanya dewan jamu di daerah Istimewa Yogyakarta," kata Adib, ditemui di Hotel Grand Rohan, Yogyakarta, Jumat (17/5/2024).
Materi itu dibahas dalam seminar bertajuk 'Saintifikasi Jamu'. Disampaikan Adib, pihaknya sangat mendukung upaya untuk mendorong warisan budaya Indonesia itu dapat dimaksimalkan potensinya. Apalagi yang berkaitan dengan obat-obatan tradisional tadi.
Tujuannya untuk kemudian bisa menjadi bagian di dalam komponen untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Namun, ia menegaskan akademis ilmiah dan passion safety yang tetap akan dikedepankan.
Seminar ini merupakan seminar yang kolaboratif antara profesi dokter dengan tenaga kesehatan lain. Termasuk di dalamnya ada pemerintah dan didukung Badan POM.
"Ini adalah upaya untuk mendorong obat-obatan tradisional Indonesia untuk menjadi lebih digiatkan lagi. Tentunya didukung oleh negara karena regulasi sudah ada, Perpres kemudian di dalam undang-undang kesehatan 17/2023 juga sudah ada. Tinggal bagaimana penataan pelaksanaan implementasi programnya saja," terangnya.
Adib menilai ada potensi yang lebih besar untuk jamu di Indonesia. Kendati memang masih perlu proses panjang dalam merealisasikan hal tersebut.
Baca Juga: Tolak RUU Omnibus Law Kesehatan, IDI DIY Soroti soal Rekomendasi Surat Izin Praktik Dokter
"Tentunya untuk masuk ke dalam farmakope, untuk masuk ke dalam Badan POM dalam satu proses ini herbal ataukah fitofarmaka ini proses. Saya kira sudah ada juga di dalam regulasi yang ada di Badan POM," tuturnya.
Saat ini penelitian berbasis pelayanan masih terus dikembangkan di sejumlah wilayah termasuk Yogyakarta. Ketika berbicara skala nasional, kata Adib, masih ada sejumlah proses atau prosedur yang harus dilakukan.
"Untuk kemudian menjadi skala nasional apalagi nanti masuk di dalam aspek pembiayaan yang ada di jaminan kesehatan nasional, tentunya ada standarisasi dan sebagainya yang sudah ada dalam regulasi baik itu di Kementerian kesehatan maupun di badan POM," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
Pilihan
-
Gempa M 5,5 Guncang Laut Barat Laut Tanimbar, Getaran Terasa hingga Saumlaki
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
Terkini
-
RANS Carnival Kena Cancel Culture, Pakar Komunikasi Sebut Ini Bukan Sekadar Retorika
-
Dominasi Lapangan, SMK Nusantara dan MAN 1 Kabupaten Sukabumi Jadi Juara AXIS Nation Cup 2026
-
Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat
-
Coach Justin Nilai AXIS Nation Cup Buka Jalan Talenta Muda ke Level Profesional
-
Gratis! Grand Final AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan 16 Tim dan Deretan Artis