SuaraJogja.id - Tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) Universitas Gadjah Mada (UGM) berinovasi dengan pengolahan sampah plastik. Inovasi itu berupa batako yang tak hanya terbuat dari campuran sampah plastik tapi juga dibuat agar lebih tahan gempa.
Tim Leader proyek tersebut, Yohanes Mario Putra Bagus menuturkan inovasi itu muncul dari keresahan dan keprihatinan timnya terkait permasalah sampah di Indonesia. Terutama sampah-sampah plastik yang terurai sangat lama.
"Ini berangkat dari keresahan dan keprihatinan kami terhadap permasalahan sampah di Indonesia. Jadi ini menjadi fokus penanganan," kata Mario, dikutip, Selasa (9/7/2024).
Mahasiswa Teknik Fisika UGM itu menuturkan tak hanya sampah plastik saja yang digunakan dalam pembuatan produk bernama EnviroBlock tersebut. Melainkan juga limbah sekam padi serta oli bekas.
"Nah dari itu kami ingin mengelola ketiga bentuk sampah itu karena kami juga melihat salah satu manfaat dari beberapa sampah itu untuk peningkatan kualitas batako. Kemudian kami memikirkan untuk membuat EnviroBlock tapi tidak itu saja kami juga memikirkan untuk mitigasi dampak bencana gempa bumi," ujarnya.
Mohammad Ridwan, anggota tim lainnya, mengatakan komposisi untuk pembuatan batako itu sudah melalui riset. Penelitian untuk EnviroBlock sendiri sudah dimulai sejak April kemarin.
Komposisi perbandingan antara semen dan plastik yakni 1:6. Mereka setidaknya menggunakan sampah plastik sebesar 25 persen kemudian dicampur pasir, lalu sekam padi sekitar 10 persen dan oli sekitar 1-3 persen.
"Takaran itu menentukan produk kami. Prosentase ini sudah melwati beberapa riset, tidak bisa terlalu banyak maupun terlalu kurang," ucap Ridwan.
Shafa Zahra Aulia, selaku anggota tim lainnya menyebut bahwa abu sekam padi memiliki kandungan silika yang tinggi. Hal itu berfungsi untuk meningkatkan kualitas batako.
Baca Juga: Terinspirasi Tungku Arang, Warga Sleman Ciptakan Mesin Pengolah Sampah Jadi BBM
"Abu sekam padi memiliki kandungan silika yang tinggi. Silika ini berfungsi untuk meningkatkan kualitas ketahanan batako sehingga tidak mudah retak," tutur Zahra.
Anggota tim lainnya, Rakha Faiq Muyassar, menambahkan terkait produk batako yang dapat meminimalisir dampak gempa bumi tersebut. Hal itu dikuatkan dengan desain yang dibuat sedemikian rupa.
"Kami juga punya inovasi lainnya yaitu sebagai meminimalisir dampak gempa bumi, ini ditandai dengan desain kami yang menggunakan desain interlocking dimana desain ini bisa menahan gaya lateral saat terjadi gempa bumi. Sehingga bisa meminimalisir dampak gempa bumi," kata Rakha.
"Jika kita tidak menggunakan teknologi ini dan menggunakan batako biasa ketika terjadi gempa bumi itu nanti akan terjadi patahan atau retakan di batako tersebut," sambungnya.
Ratri Dwiyanti menambahkan pihaknya juga memperhatikan keberlanjutan dari bisnis tersebut. Alasan itu juga yang mendasari pemilihan tiga bahan utama dari batako itu.
"Ya dari sisi aspek pengerjaan dan juga produksi itu bisa ditekan dari segi biaya. Dari sisi penjualan produk kami juga lebih unggul daripada batako konvensional dan batako plastik lainnya yang ada di pasaran karena memang produk kami ini dipatok dengan harga Rp5.300 /pcs," ujar Ratri.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Bagaimana Cara Menonton Film Pesta Babi? Ini Syarat dan Prosedurnya
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
Terkini
-
Jogja Darurat Pendidikan: 5.023 Anak Putus Sekolah, Nasib Guru Honorer di Ujung Tanduk
-
Rupiah Tembus Rp17.600, Aisyiyah: Pernyataan Prabowo 'Desa Tak Butuh Dolar' Cederai Rakyat
-
Polisi Sebut Kasus Tewasnya Pelajar di Kawasan Kridosono Bukan Klitih, Tapi Perselisihan Antar Geng?
-
Update Kasus Daycare Little Aresha, Polresta Jogja Siapkan Pelimpahan 13 Tersangka ke Kejaksaan
-
Dinilai Terlalu Berbelit, Trah Sri Sultan HB II Ajukan Uji Materi UU Nomor 20 Tahun 2009 ke MK