SuaraJogja.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta tengah menggencarkan gerakan Organikkan Jogja. Program itu sebagai respons tentang belum terpilahnya secara maksimal sampah organik dan anorganik di Kota Jogja.
Gerakan ini menyasar dari level yang paling rendah yakni rumah tangga di wilayah masing-masing. Masyarakat diharapkan lebih peduli tentang pengolahan khususnya sampah organik.
"Gerakan Organikkan Jogja itu supaya masyarakat mbok ayo yang (sampah) organik dikelola sendiri, yang namanya sisa dapur, sisa makanan itu. Skala rumah tangga menjadi kekuatan dasar kita," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Yogyakarta Aman Yuriadijaya, Selasa (6/8/2024).
Aman yang juga merupakan Ketua Bank Sampah Kota Yogyakarta itu mengatakan pengolahan sampah organik di level rumah tangga akan membantu TPS3R untuk semakin maksimal melakukan pengolahan sampah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF). Pasalnya memang selama ini pengolahan tersebut belum optimal.
Masih minimnya kesadaran masyarakat untuk mengolah sampah organik itu menjadi kendala tersendiri. Apalagi setidaknya 60 persen dari 200 ton per hari sampah yang dihasilkan masyarakat Kota Yogyakarta itu merupakan sampah organik.
Pembuangan di depo pun, kata Aman sudah dibatasi hanya sampah anorganik dan residu organik. Misalnya daun, rumput dan sampah lain yang relatif lebih kering dan mempunyai nilai kalori untuk RDF.
"Meskipun kalori tidak sangat tinggi tapi kalau cair, misalnya bakso, kuah soto, saos, itu tetap menjadi basah berkadar air. Ini yang sebetulnya ingin kita dorong masyarakat [menggolah sampah organik]," ucapnya.
Saat ini, Aman bilang paradigma dan pemahaman seluruh pihak seharusnya berada pada tahapan menuju aspek pengelolaan. Bukan semata-mata hanya soal kebersihan saja.
"Kalau kebersihan itu bagaimana kota dibersihkan kemudian selesai, tetapi persoalannya adalah pengelolaan yang kita fokuskan," tuturnya.
Baca Juga: Sampah Organik Mendominasi, Kadar Air RDF Hasil Pengolahan Sampah Kota Jogja Terlalu Tinggi
Kebersihan akan menyusul dibicarakan ketika kondisi pengelolaan sudah mapan. Mulai dari metode yang tepat hingga hasil nyata terkait pengolahan sampah itu.
"Kalau senyatanya pengelolaan sampah itu masih membutuhkan waktu yang tepat untuk bisa selesai metode dan selesai volume ya. Maka tentu efeknya kebersihan ini belum maksimal. Jadi kita mau bicara kebersihan apapun kalau pengelolaan sampahnya ini belum selesai ya pasti tidak akan selesai," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- Djarum Digeledah KPK, Publik Ramai Kaitkan dengan Isu Haji Isam dan DBS
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 Shio Paling Beruntung 29 Oktober 2026: Bisnis Lancar dan Finansial Aman
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Coach Justin Nilai AXIS Nation Cup Buka Jalan Talenta Muda ke Level Profesional
-
Gratis! Grand Final AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan 16 Tim dan Deretan Artis
-
Pasca Ramai Seruan Boikot, RANS Carnival di Maguwoharjo Ditinggal Musisi dan UMKM
-
Polresta Sleman Sita 561 Botol Miras Ilegal Selama Oktober 2026
-
Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival