Scroll untuk membaca artikel
Muhammad Ilham Baktora
Selasa, 19 November 2024 | 17:34 WIB
Guru besar FKMK UGM, Bayu Sasongko memperlihatkan cara kerja kamera fundus portabel berbasis smartphone di Yogyakarta, Selasa (19/11/2024). [Kontributor Suarajogja.id/Putu]

SuaraJogja.id - Angka pasien diabetes di Indonesia sudah semakin mengkhawatirkan. Kementerian Kesehatan mencatat, angka pengidap diabetes di Indonesia saat ini telah mencapai 19,5 juta jiwa pada 2021. Jumlah tersebut diprediksi akan melonjak mencapai 28,5 juta penduduk pada 2045.

Padahal penyakit diabetes berpotensi membuat pasien mengalami kebutaan. Saat ini diperkirakan sudah sekitar 1,5 juta pasien diabetes yang mengalami kebutaan akibat penyakit tersebut.

Sementara deteksi dini untuk pemeriksaan mata pasien diabetes masih sulit dilakukan. Peralatan kesehatan seperti fundus camera untuk mendeteksi kebutaan pasien diabetes di rumah sakit masih sangat mahal hingga mencapai Rp600-700 juta.

Yang mengkhawatirkan, tren menunjukkan penderita diabetes semakin muda. Jika dulu banyak terjadi pada usia 45-50 tahun, kini banyak yang sudah mengalami kebutaan akibat diabetes pada usia 35 tahun.

Baca Juga: Tingkatkan Reproduksi, Fapet UGM Kembangkan Embrio Berkualitas pada Hewan Ternak Melalui Metode IVF

Karenanya peneliti sekaligus guru besar FKMK UGM, Bayu Sasongko mengembangkan kamera fundus portabel berbasis smartphone. Kamera ini dapat mendeteksi secara dini risiko kebutaan pada pasien diabetes. Inovasi alat tersebut dapat menjadi solusi untuk masalah keterbatasan akses screening retinopati diabetika di Indonesia.

"Alat ini sangat sederhana. Cukup ditempelkan pada smartphone, kemudian didekatkan ke mata pasien untuk mengambil foto retina," ujar Bayu dalam workshop Inovasi Model Layanan Skrining Retinopati Diabetika di Yogyakarta, Selasa (19/11/2024).

Menurut dokter di RS Sardjito tersebut, pengembangan alat tersebut dilakukannya selama enam tahun sejak 2018. Melalui sejumlah pengembangan prototype, akhirnya alat tersebut berhasil dia buat.

Penggunaannya cukup sederhana. Alat tersebut cukup dipasang ke smartphone. Kemudian dengan mode memotret, alat tersebut didekatkan pada mata pasien diabetes.

Alat ini memiliki tingkat akurasi sekitar 85 persen dibandingkan dengan foto fundus di rumah sakit. Hasil foto dapat langsung dikirim ke tenaga medis melalui sistem konsultasi jarak jauh.

Baca Juga: Pakar Pembangunan Sosial UGM: Transmigrasi di Papua Masih Diperlukan, Tapi...

"Hasil dari foto tersebut nantinya bisa digunakan tim medis untuk mendeteksi resiko kebutaan sampai pada tahap apa," ujarnya.

Alat tersebut rencananya akan dibuat massal dan dijual dengan harga di bawah Rp20 juta. Saat ini, tim peneliti sedang dalam proses pengurusan izin edar dan mengusulkan agar alat ini menjadi salah satu topik prioritas teknologi kesehatan di Kementerian Kesehatan.

Inovasi ini dirancang agar dapat dioperasikan oleh kader kesehatan di puskesmas, posyandu lansia, atau kelompok diabetes, sehingga memungkinkan screening retinopati diabetika yang lebih luas dan terjangkau di masyarakat.

"Harga yang lebih terjangkau ini memungkinkan penggunaan alat di tingkat puskesmas atau komunitas. Alat ini bertujuan mendeteksi kondisi retina sebelum kebutaan terjadi. Jika penderita diabetes masih memiliki penglihatan yang baik, screening tetap harus dilakukan untuk mengambil foto retina. Dengan begitu, kondisi retina dapat dipantau, misalnya setiap 6 bulan atau setahun sekali," imbuhnya.

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Load More