SuaraJogja.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Yayasan Vasatii Socaning Lokika mendesak Kerajaan Inggris mengembalikan manuskrip dan aset milik Sultan Hamengku Buwono II yang dirampas dalam peristiwa Geger Sepehi 1812.
Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengatakan bahwa manuskrip dan aset Sri Sultan HB II adalah bagian dari kekayaan bangsa.
"Tidak mudah untuk mengumpulkan manuskrip, apalagi ini tentang naskah-naskah kuno. Baik manuskrip, harta, maupun aset warisan lainnya merupakan warisan keluarga. Minimal digital, sehingga bisa dipelajari orang lain dan menjadi bagian dari aset," kata Tri Handoko dalam keterangannya, dikutip, Jumat (1/8/2025).
Disampaikan Tri Handoko bahwa proses claiming aset juga akan melibatkan lintas komunitas.
Sehingga diharapkan proses pengembalian malah lebih cepat.
Tak tanggung-tanggung, anak-anak muda pun bakal dilibatkan untuk mempelajari naskah kuno itu dan sekaligus diberikan beasiswa bagi jenjang S1, S2, dan S3.
Adapun saat ini BRIN memiliki Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah (DPKI).
Tugasnya antara lain untuk mendokumentasikan dan membuka akses koleksi manuskrip tersebut bagi kepentingan riset dan konservasi.
"Kami punya program gedung koleksi baik untuk koleksi hayati maupun arkeologi, termasuk manuskrip," tandasnya.
Baca Juga: Sri Sultan HB II Layak Jadi Pahlawan Nasional, Akademisi Jogja Ini Ungkap Alasannya
Sementara itu, Ketua Yayasan Vasatii, Fajar Bagoes Poetranto menegaskan, pihak keluarga Sultan HB II akan terus menempuh jalur Claiming Equity Prasasti International terhadap aset yang dirampas secara tidak sah tersebut.
"Kami melihat telah terjadi kejahatan kemanusiaan dalam peristiwa Geger Sepehi 1812," ujar Fajar.
Ia menilai audiensi dengan BRIN ini dapat membantu menjembatani proses klaim aset dari pihak Inggris kepada para ahli waris yang sah.
Sementara itu, Imam Samroni dari Komunitas Geberjawa menegaskan pengembalian aset peristiwa Geger Sapei 1812 merupakan bentuk tanggung jawab dalam pelestarian dan pemanfaatan warisan budaya.
Termasuk dalam proses mengidentifikasi naskah-naskah kuno di tahun 1812.
"Hal itu pentingnya digitalisasi, kemudian penterjemahan aksara dan pengajian naskah-naskah sebagai sumber inspirasi pengembangan ilmu dan teknologi karena banyak sejarah kita yang terputus," tandas Imam.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
BRI Perkuat Inklusi Keuangan, BRILink Agen Jangkau 80 Persen Desa Indonesia
-
Tokoh Yogyakarta Silaturahmi dengan Amir Nasional Muslim Ahmadiyah Indonesia
-
Holding UMi Jadi Bukti Komitmen BRI Bangun Ekonomi Rakyat yang Terintegrasi
-
Lewat Musik di Album Terbaru, Grego Julius Dekatkan Umat pada Bunda Maria
-
Teror May Day di Jogja: Mahasiswa Dikeroyok Preman Diduga Ormas, HP Dirampas Saat Rekam Aksi Brutal