Dia menilai bahwa larangan yang dilakukan secara bertubi-tubi itu justru akan membuat masyarakat lebih bertanya-tanya.
"Kenapa sebegitu seriusnya pemerintah menangani kasus bendera ataupun mural One Piece ini, bukankah ada yang lebih penting sebenarnya yang bisa pemerintah lakukan dari pada gercep ke bendera atau gambar anime ini," tegasnya.
Terlepas dari itu, Menzheng mengaku tak ada niatan untuk memecah belah persatuan bangsa apalagi pada momen Kemerdekaan RI ke-80 tahun.
Melainkan bahwa ekspresi ini merupakan tanda cinta dan kepedulian terhadap Indonesia.
"Yang jelas kami tetap cinta tanah air indonesia tapi kami juga berhak bersuara apabila negara ini memang perlu dibenahi, ya salah satunya lewat kritik tersebut," ucapnya.
Dia berharap elit pemerintah dapat menanggapi fenomena ekspresi sekaligus kritik dari masyarakat dengan bijak pula.
"Karena salah satu bentuk kepeduliaan kita ke negara atau pemerintah adalah mereka yang peduli melalui kritik agar yang di atas bisa berbenah dan lebih bijak lagi dalam membuat peraturan-peraturan yang bisa membantu masyarakat, jangan yang memberatkan," tandasnya.
Sementara itu Dukuh Temuwuh Kidul, Firmansyah Zaenuri menyebut bahwa mediasi maupun audiensi telah dilakukan pihaknya dengan warga serta para pemuda pembuat mural itu.
Hasilnya memang disepakati bahwa mural itu dihapus sebab berada di jalan umum.
Baca Juga: Terungkap, Motif Mahasiswa Sleman Tega Habisi Nyawa dan Kubur Bayi, Ada Unsur Kekerasan?
"Kemarin karena itu mural di jalan umum, artinya kalau di jalan umum dilewati orang umum juga, akhirnya antara warga masyarakat dan pemuda si pembuat mural punya kesepakatan kalau mural itu lebih baik dihapus. Karena itu jalan umum yang digunakan untuk fasilitas umum," ucap Firmansyah.
Sebelumnya diketahui, Sekretaris Karang Taruna Temuwuh Kidul, Dandun Asmara, menyebut bahwa mural tersebut awalnya dibuat hanya sebagai bagian dari renovasi lingkungan untuk menyambut HUT ke-80 RI.
Mural bertema One Piece itu sudah digambar sejak 25 Juli 2025 lalu. Sedangkan pemilihan karakter One Piece sendiri, kata dia, memang bukan tanpa alasan.
Pasalnya mayoritas pemuda Karang Taruna di sana memang penggemar berat anime tersebut. Bagi mereka, cerita tentang bajak laut itu terasa relevan dengan realitas hidup rakyat kecil di Indonesia.
"Nah, kalau untuk One Piece-nya ya, menurut teman-teman ini kan sangat setia dan suka. Kok kayaknya ini mirip banget sama negeri ini," ujarnya.
"Seperti pemerintah dunia kalau di anime One Piece. Sebenarnya kayak nggak adil buat rakyat juga. Pasti semua orang merasakan sih," imbuhnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Jogja Fashion Week 2026: Panggung Kreativitas dan Regenerasi Desainer Muda
-
Bentangkan Merah Putih 1.000 Meter, Serukan Rakyat Masih Bersatu di Tengah Persoalan Bangsa
-
Hari UMKM Nasional, BRI Peduli Perkuat UMKM Desa Brilian melalui Pendampingan Berkelanjutan
-
Perusakan Makam Mertua Seniman Djaduk Berakhir Damai, Polisi Ungkap Alasan Juru Kunci
-
Prabowo Rombak Buku Pelajaran karena Font Kekecilan, Dewan Pendidikan DIY Sebut Tak Urgen