- GKR Mangkubumi angkat bicara terkait penambangan yang terjadi di DIY
- Pihaknya menghentikan terlebih dahulu tambang-tambang yang ada di kaki Gunung Merapi dan Bantul
- Anak Sri Sultan HB X ini juga menyoroti isu pengangguran di DIY yang berada di angka 11 persen
SuaraJogja.id - GKR Mangkubumi menegaskan keprihatinannya atas masih maraknya pertambangan di DIY meski telah ada larangan tegas.
Putri sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X itu mengaku jengah karena praktik eksploitasi, khususnya di kawasan sensitif Merapi dan Bantul, tetap berjalan dan mengancam kelestarian alam.
"DIY itu kecil, hanya sekitar 338 ribu hektar. Kalau terus ditambang, ya rusak. Banyak yang setelah menambang pergi begitu saja, tidak peduli orang lain yang kesusahan. Padahal tujuan kita memayu hayuning bawono itu bagaimana manusia hidup bersama dengan lingkungan yang baik," papar Mangkubumi dalam Studium Generale Hipmi Syariah DIY di Yogyakarta, Senin (22/9/2025).
Mangkubumi menyebut masih ada izin-izin tambang yang beredar, meski Pemda sudah mengusung semangat pelestarian.
Hal ini menurutnya harus dikawal bersama agar tidak melahirkan celah kerusakan baru.
Menurutnya, penghentian tambang adalah langkah penting untuk dilakukan.
Dengan demikian DIY tidak kehilangan identitas sebagai daerah istimewa yang menjunjung harmoni antara manusia dan alam.
"Saya mohon maaf, kami harus menyetop pertambangan di Merapi dan kawasan Bantul. Kalau ditambah terus, habis sudah. Maka saya ingin mengajak semua pihak bersama-sama menjaga lingkungan di Yogyakarta. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi," tandasnya.
Pengentasan Pengangguran di DIY
Baca Juga: Lubang Menganga di Sleman, Karst Gunungkidul Terancam: Yogyakarta Kalah Lawan Tambang Ilegal?
Selain isu lingkungan, menurut Ketua Kadin DIY tersebut, semua pihak harus memiliki kepedulian dalam menghadapi persoalan sosial-ekonomi, terutama pengangguran yang masih cukup tinggi di DIY.
Saat ini tingkat pengangguran DIY berkisar 11 persen.
Karenanya dia berharap pada pengusaha muda Yogyakarta, khususnya dari kalangan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) dan komunitas bisnis syariah untuk ikut terlibat mengatasi masalah pengangguran di DIY.
"Hal itu penting karena dunia usaha harus punya kepedulian sosial, bukan hanya mengejar keuntungan," tandasnya.
Sementara Ketua Umum Basnom HIPMI Syariah 2025-2028 yakni Fajaruddin Achmad Muharom mengungkapkan Global market Syariah tumbuh luar biasa dengan beriringan bersama masyarakat muslim dunia.
Indonesia memiliki peringkat kedua penduduk Muslim dunia di bawah Pakistan yang harapannya bisa mengambil peran dalam industri Syariah.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Pengakuan Lengkap Santriwati Korban Pencabulan Kiai Ashari di Lingkungan Pesantren Pati
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 7 Sepatu Lari Lokal untuk Jalan Jauh dan Daily Run Mulai Rp100 Ribuan, Tak Kalah dari Hoka
- 5 HP Terbaru 2026 untuk Budget di Bawah Rp3 Juta, Ada yang Support 5G dan NFC
Pilihan
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
Terkini
-
UPN Jogja Sebut Belum Ada Tawaran Resmi Kelola MBG, Pilih Fokus Ketahanan Energi
-
Revisi UU Pemilu Tertahan di Legislatif, Akademisi Sebut Sekadar Tambal Sulam
-
Anggaran BOSDa DIY 2026 Dipangkas Rp9 Miliar, Sekolah Kecil Terancam Tak Mampu Beroperasi
-
Diduga Kelelahan dan Serangan Jantung, Satu Jamaah Haji Asal Kulon Progo Wafat di Mekkah
-
Hari Ini, BRI Bayar Dividen Para Investor