- Sejumlah siswa mengolah menu MBG mandiri viral di medsos
- Kesiapan SPPG sendiri dipertanyakan terhadap program Prabowo Subianto ini
- Ribuan korban kasus keracunan menjadi rapor hitam program yang bertujuan mengurangi stunting ini
Ini adalah cerminan ironis bahwa program yang bertujuan memberikan nutrisi siap saji, justru seringkali membutuhkan campur tangan "koki-koki" cilik di sekolah.
Polemik Keracunan Makanan: Sisi Gelap di Balik Program MBG
Di balik kisah-kisah jenaka tersebut, terbentang polemik yang jauh lebih serius terkait keamanan makanan dalam program MBG.
Sejumlah insiden keracunan makanan telah menimpa ratusan, bahkan ribuan siswa di berbagai daerah di Indonesia, menyebabkan mereka harus dilarikan ke rumah sakit.
Misalnya, pada September 2025, lebih dari 800 siswa jatuh sakit setelah mengonsumsi makanan dari program MBG dalam dua kasus terpisah.
Di Garut, Jawa Barat, 569 siswa dari lima sekolah mengalami mual dan muntah setelah makan ayam dan nasi.
Pada hari yang sama, 277 siswa lainnya di Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, juga keracunan.
Insiden serupa juga dilaporkan di Lebong, Bengkulu, yang mempengaruhi 427 siswa pada Agustus 2025.
Total, sekitar 978 siswa harus dirawat di rumah sakit dalam sebulan antara Agustus dan September 2025 dengan gejala seperti diare, mual, muntah, dan sesak napas setelah mengonsumsi makanan MBG.
Baca Juga: Kritik Presiden Prabowo, BEM KM UGM Minta Program Makan Bergizi Gratis Harus Dievaluasi Total
Kasus-kasus ini memicu perhatian serius dari berbagai pihak, termasuk Kantor Staf Presiden (KSP) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), yang menyerukan evaluasi komprehensif terhadap program tersebut.
Kepala BGN (Badan Gizi Nasional), Dadan Hindayana, bahkan telah memerintahkan penangguhan operasional dapur MBG di Cipongkor, Bandung Barat, setelah 301 siswa diduga keracunan, menyoroti kemungkinan kelalaian dan perlunya kepatuhan pada standar operasional yang ketat, termasuk kebersihan, kelengkapan peralatan, dan staf.
Pemerintah sendiri telah meminta maaf atas insiden keracunan yang berulang dan berjanji untuk memperketat pengawasan penyedia makanan.
Evaluasi menyeluruh dari hulu ke hilir sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa program ini tidak membahayakan nyawa anak-anak.
KSP menekankan bahwa MBG harus beroperasi dengan standar "nol kecelakaan" karena bahkan tingkat keracunan sekecil 1 persen pun tidak dapat ditoleransi.
Dengan demikian, meskipun kreativitas siswa dalam mengolah menu MBG bisa menjadi kisah yang menghibur, ia juga menjadi pengingat pahit akan perlunya perbaikan mendesak dalam pelaksanaan program ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5482 Korban Keracunan MBG, Viral Ucapan Wapres Gibran: Bawa Bekal dari Rumah, MBG Jangan Dimakan
- WNI Tentara Bayaran Rusia, Rendi Apriyanto Sempat Kirim Duit ke Ortu Tapi Rekening Diblokir
- Angka Hoki Shio untuk Menarik Rezeki dan Keberuntungan Finansial
- Timnas Indonesia vs Everbody: Panen Cibiran dari Negara Se-Asia Tenggara
- Indonesia Impor Nikel dari Filipina Gara-gara RKAB
Pilihan
-
Babak I Indonesia vs Bangladesh: Garuda Pesta Gol, Mitchell Baker Quattrick
-
Bahlil Jadi Menko Hilirisasi Baru, Bagaimana Nasib Proyek Batu Bara di Sumsel?
-
Buntut Temuan di Lapas Cibinong, Dirjenpas Mashudi Mundur dari Jabatan
-
Reshuffle Kabinet: 'Orang Jokowi' Tersingkir, Sugiono Disebut Rangkap Jadi Menko PMK
-
Diberhentikan dari Kapolri, Listyo Sigit Prabowo Disebut Bakal Jadi Kepala KSP
Terkini
-
Keluarga Eks-Napiter Terjebak Stigma, Deradikalisasi Dinilai Tak Cukup Sasar Pelaku
-
JPW: Kapolri Baru Tak Berdampak Jika Pekerjaan Rumah Dibiarkan Mangkrak
-
Pratikno dan Listyo Sigit Kena Resuffle, Prabowo Disebut Bersih-bersih Orang Jokowi
-
BRI Peduli Buka Peluang Bagi Penyandang Disabilitas di Makassar Dengan Pembekalan Kewirausahaan
-
Erna dan Ari, Pasangan Atlet Disabilitas yang Tumbuh Bersama Lewat Warung Kelontong