- Relokasi PKL eks TKP ABA tak memberikan perubahan ekonomi yang dijanjikan Pemkot Jogja
- Pedagang yang pindah ke bekas Menara Kopi tak memiliki pelanggan
- Para pedagang bakal kembali berjualan di sekitar Tempat Parkir ABA karena lebih banyak wisatawan
SuaraJogja.id - Setelah lebih dari lima bulan direlokasi dari kawasan eks TKP ABA Malioboro ke kawasan Menara Kopi, para pedagang kaki lima (PKL) saat ini harus gigit jari.
Harapan akan tempat baru yang lebih tertata dan ramai pengunjung belum juga terwujud.
PKL dan juru parkir tidak banyak mendapatkan pemasukan, termasuk saat akhir pekan.
Sulitnya akses masuk bus-bus besar ke Menara Kopi ditambah dibukanya kawasan parkir baru di Jalan Margo Utomo membuat Menara Kopi sepi wisatawan.
"Kita ini sudah hampir enam bulan tidak ada armada wisata sama sekali yang masuk ke tempat kami. Bus-bus wisata yang biasanya menurunkan penumpang di sekitar sini sekarang parkirnya di Mangkubumi [Jalan Margo Utomo]," papar Wakil Ketua Paguyuban Keluarga Besar ABA, Agil Haryanto di Yogyakarta, Senin (13/10/2025).
Sejak arus kendaraan wisata beralih ke Jalan Margo Utomo dan lainnya, Menara Kopi justru sepi bus masuk.
Akibatnya perekonomian di kawasan itu berhenti karena omzet pedagang maupun juru pakir pun turun drastis, bahkan banyak yang memilih berhenti berjualan.
Para pedagang yang dulu bisa mengandalkan wisatawan Malioboro kini harus menunggu seharian tanpa pembeli.
Bahkan, juru parkir dan pekerja kecil lain yang biasanya hidup dari aktivitas di sekitar kawasan ikut kehilangan penghasilan.
Baca Juga: Jogja Bergerak Lawan Kanker Payudara, 3.000 Perempuan Ikut Skrining, Wali Kota Beri Edukasi
Sekarang banyak pedagang yang memilih tutup karena tidak ada pembeli.
Juru parkir juga banyak yang berhenti karena tidak ada kendaraan yang masuk.
"Kalau dulu, sehari bisa dapat cukup buat makan dan bayar listrik. Sekarang, jangankan itu, untuk bayar iuran BPJS aja berat. Pedagang yang buka paling dua-tiga orang aja. Kalau enggak ada bus, ya mereka tutup. Percuma buka kalau enggak ada yang lewat," sebut dia.
Para pedagang menilai ada ketimpangan dalam penerapan aturan di kawasan Sumbu Filosofi.
Meski aturan menyebut kendaraan besar dilarang masuk ke eks TKP ABA, nyatanya banyak kendaraan wisata masih bebas keluar-masuk melalui Jalan Margo Utomo yang juga merupakan kawasan Sumbu Filosofi.
Dinas Perhubungan (dishub) dan Pemkot yang mengumbar janji ikut meramaikan Menara Kopi pun juga nyatanya tidak melakukannya.
Keberlangsungan PKL dan juru parkir tidak diperhatikan.
"Dari dulu pemerintah bilang enggak boleh ada kendaraan besar di kawasan ini. Tapi kenyataannya ya masih lewat. Apakah ada pihak tertentu yang diistimewakan? Kami enggak tahu. Yang jelas, kami ini seperti dibiarkan sepi," ujar dia.
Karena itu, ratusan PKL dan juru parkir berencana membuka lapak sementara di sekitar Pos Gumatan yang tak jauh dari kawasan eks TKP ABA.
Hal itu dilakukan karena banyak wisatawan yang parkir di Jalan Margo Utomo masuk ke kawasan Malioboro.
"Kalau tidak ada solusi dari pemerintah, kami akan gelar dagangan di sekitar Pos Gumatan. Paling tidak di sana masih ada wisatawan yang lewat dari arah parkir. Kami hanya butuh tempat untuk tetap mencari makan," tandasnya.
Langkah tersebut juga akan mereka bicarakan dalam pertemuan dengan Wali Kota Yogyakarta yang dijadwalkan Rabu (15/10/2025).
Para pedagang berharap ada perhatian lebih serius dari Pemkot maupun Pemda agar sirkulasi ekonomi di kawasan relokasi bisa kembali hidup.
"Kalau pemerintah serius ingin menjaga nilai filosofi kawasan, kami setuju. Tapi tolong jangan matikan ekonomi rakyat kecil. Kami ini hanya ingin hidup, bukan menentang aturan," ungkapnya.
Relokasi para pedagang dari eks TKP ABA ke kawasan Menara Kopi sebelumnya merupakan bagian dari kebijakan Pemda DIY dalam rangka penataan kawasan Sumbu Filosofi, jalur warisan budaya dunia yang membentang dari Tugu Pal Putih hingga Panggung Krapyak.
Penataan ini meliputi pembatasan kendaraan besar, pengaturan parkir wisata, dan penertiban aktivitas ekonomi di kawasan inti.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Berita Terkait
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- HP yang Awet Merek Apa? Ini 6 Rekomendasi Terbaik dengan Performa Kencang
Pilihan
-
Iran Akui Ayatollah Ali Khamenei Meninggal Dunia, Umumkan Masa Berkabung 40 Hari
-
Iran Bantah Klaim AS dan Israel: Ali Khamenei Masih Hidup!
-
Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
-
Iran Klaim 200 Tentara Musuh Tewas, Ali Khamenei Masih Hidup
-
Israel Klaim Ali Khamenei Tewas, Menlu Iran: Ayatollah Masih Hidup
Terkini
-
Waktu Berbuka Tiba! Cek Jadwal Magrib dan Doa Buka Puasa Ramadan 27 Februari 2026 di Jogja
-
Skandal Dana Hibah Pariwisata Sleman: Bawaslu Tegaskan 'Nihil Pelanggaran' di Pilkada 2020
-
Antisipasi Tren Kemunculan Gepeng Selama Ramadan, Satpol PP Kota Jogja Intensifkan Operasi
-
Kronologi Pemuda Nekat Tusuk Juru Parkir di Sleman, Tak Terima Ditegur?
-
6 Fakta Insiden Penganiayaan di Jalan Godean Sleman yang Viral di Media Sosial