- Adik Paku Buwono XIII bicara soal penerus tahta Keraton Surakarta
- Pengangkatan raja melalui sebuah kesepakatan yang harusnya saling menghormati
- Harapannya situasi internal Keraton Surakarta tetap kondusif
SuaraJogja.id - Adik kandung mendiang Paku Buwono XIII, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Benowo, menanggapi kabar munculnya sejumlah pihak yang mengklaim diri sebagai penerus tahta Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Ia mengaku telah mendengar beberapa nama yang menyatakan diri sebagai pengganti sang kakak tak lama setelah kabar duka menyebar.
"Jadi saya baru mendengar, apa betul atau enggak. Kalau misalnya iya, silakan siapapun mau mendeclarekan," kata Benowo, Rabu (5/11/2025).
"Nanti jangan-jangan saya juga medeclarekan diri sebagai pengganti Paku Buwono yang ke XIV," imbuhnya sarkas.
Gusti Benowo menegaskan bahwa suksesi raja bukan perkara klaim sepihak. Menurutnya, proses pengangkatan raja semestinya dilakukan dengan kebijaksanaan, bukan dengan ambisi pribadi.
"Tapi kan tidak pantas, mestinya kan harus ada mufakat, musyawarah demi kebaikan keraton. Ini kan bukan untuk kepentingan kita pribadi tapi demi kepentingan kebaikan keraton ke depan. Itu yang penting," tegasnya.
Disampaikan Gusti Benowo, menjadi raja bukan hanya soal garis keturunan.
Melainkan mempertimbangkan soal kemampuan untuk mengemban tanggung jawab besar menjaga warisan budaya leluhur.
Menurut dia, mengurus keraton bukan perkara yang sederhana. Lebih lanjut, Gusti Benowo menyebut kemampuan finansial juga menjadi faktor penting dalam keberlangsungan keraton.
"Soalnya ditinggali rumah yang sebesar itu, rumah, dikatakan rumah saja bukan keraton atau bukan kerajaan, itu mau ngopeni setengah mati, kalau kita tidak mempunyai kemampuan. Apalagi kalau kita tidak pandai mencari finansial untuk merawat keraton, mustahil bisa menjadi raja, jangan mimpi," ujarnya.
Meski begitu, ia berharap situasi internal Keraton Surakarta tetap kondusif. Gusti Benowo mengajak seluruh keluarga besar dan para kerabat untuk duduk bersama mencari mufakat.
"Ya sebetulnya kita mencoba nanti dengan saudara-saudara itu ayolah dibicarakan siapa yang mau dijadikan pengganti sama kakak saya misalnya seperti itu," ujarnya.
Terkait tradisi penunjukan penerus tahta, Gusti Benowo menjelaskan bahwa secara adat seharusnya keputusan itu berada di tangan raja yang sedang berkuasa.
Penunjukan itu pun tak selalu diberikan kepada anak tertua. Melainkan kepada yang dianggap layak secara spiritual dan moral oleh raja sebelumnya.
"Kalau penunjukan biasanya kalau menurut adat-adat pastilah ditunjuk dari bapaknya. Jadi bapaknya menunjuk, tidak harus yang tua. Enggak tau firasat bapaknya seperti apa menunjukkan anaknya iki loh anakku, itu contohnya Paku Buwono X itu juga bukan yang tertua," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- 5 Motor Irit tapi Bukan Honda BeAT, Mesin Awet untuk Jangka Panjang, Cocok untuk Pejuang Nafkah
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
Pilihan
-
Kronologi Kecelakaan Bus vs Minibus di Pekanbaru, Tewaskan Bocah Perempuan
-
Diduga Kurang Berhati-hati, Minibus Nyemplung di Bundaran HI Usai Tabrak Pembatas Jalan
-
Usai Lebaran, Para Bos Anak Usaha Astra Kompak Mundur
-
Kronologi Pemudik Terjebak di Jalan Sawah Sleman Akibat Google Maps, Antrean Panjang Tak Terhindar
-
Puncak Arus Balik dari Jogja Pertama Terlewati, Gelombang Kedua Diprediksi Akhir Pekan
Terkini
-
Kronologi Pemudik Terjebak di Jalan Sawah Sleman Akibat Google Maps, Antrean Panjang Tak Terhindar
-
Viral! Google Maps Sesatkan Pemudik Lebaran ke Jalan Sawah, Arus Balik Mencekam di Tengah Padi
-
5 Tips Agar Tiket Jambi Jakarta Bisa Lebih Menguntungkan
-
Bosen WFA di Rumah? ASN Jogja Wajib Coba 5 Cafe Alam Ini, Kerja Lancar Hati Tenang!
-
WFA Pasca Lebaran 2026 Diberlakukan, 36 Ribu Pemudik Masuk ke Jogja