- Wali murid SDN Nglarang menolak relokasi sementara akibat proyek Tol Jogja-Solo, bersikeras menunggu selesainya pembangunan gedung sekolah baru.
- Desain relokasi SDN Nglarang tahun 2024 tertunda karena lahan pengganti teridentifikasi sebagai lahan sawah dilindungi (LSD/LP2B) oleh BPN.
- Pemkab Sleman berkomitmen membantu proses perizinan ke pusat dan memastikan pembangunan gedung sekolah baru dilakukan sebelum penggusuran.
SuaraJogja.id - Polemik relokasi SD Negeri Nglarang, Kalurahan Tlogoadi, Mlati, Sleman, masih berlanjut. Para wali murid menolak pemindahan sementara sekolah yang terdampak proyek pembangunan Tol Jogja-Solo-YIA Seksi 2 Paket 2.2 Trihanggo-Junction Sleman ke shelter.
Para orang tua siswa bersikeras, pemindahan baru bisa dilakukan setelah gedung sekolah baru benar-benar selesai dibangun.
Menanggapi hal itu, Pimpro Jalan Tol Jogja-Solo Seksi 2.2 Dyah Ekawati Suryani menuturkan bahwa pada 2024 pihaknya sebenarnya telah menyiapkan desain dan anggaran untuk relokasi SDN Nglarang.
Adapun rancangan itu dibuat menyesuaikan bentuk lahan pengganti yang sebelumnya ditunjuk oleh Kalurahan Tlogoadi.
"Pada 2024 desain itu sudah kami selesaikan kemudian sudah kami sampaikan juga ke Disdik Sleman untuk kemudian menyetujui apakah desain yang sudah kami buat. Satu secara fungsi, dua secara kelayakan sudah memenuhi atau belum," kata Dyah, saat pertemuan dengan warga di Kantor Kalurahan Tlogoadi, Senin (10/11/2025).
Namun, di akhir tahun 2024, muncul kebijakan baru dari pemerintah pusat yang memprioritaskan ketahanan pangan.
Kemudian dari hasil pengecekan Badan Pertanahan Nasional (BPN) menunjukkan bahwa tanah calon lokasi sekolah pengganti ternyata termasuk kategori lahan sawah dilindungi (LSD) dan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B).
Kondisi itu membuat proses perizinan pembangunan kini menjadi panjang dan rumit.
"Dua lahan ini yang menjadikan kami sulit untuk membangun, karena dari pemerintah pusat sendiri dengan sekarang baru mendorong sekali ketahanan pangan," ucapnya.
"Kemudian dari Kementerian Pertanian keluar surat edaran ada moratorium untuk menghentikan sementara perubahan status tanah yang mana berstatus LSD dan LP2B," imbuhnya.
Meski begitu, Dyah menegaskan bahwa pihaknya membuka opsi lain.
Jika pemerintah kalurahan atau pihak terkait bisa menyediakan lahan pengganti seluas 2.000-3.000 meter persegi yang statusnya bukan LSD maupun LP2B, pembangunan bisa segera dilakukan.
"Satu, permasalahan lahannya. Jika ada lahan alternatif yang bukan LSD atau LP2B luas 2.000 atau 3.000 monggo bisa disampaikan. Supaya kami bisa langsung mengeksusi baik lahannya maupun pembangunannya," tegasnya.
Jika izin penggunaan lahan yang sekarang tak kunjung turun hingga masa kontrak proyek berakhir, maka kata dia, relokasi yang sudah dianggarkan Jasamarga dapat dialihkan kepada pemerintah daerah.
Sehingga pembangunan gedung sekolah baru tetap bisa dilanjutkan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
Terkini
-
Gelombang Pengunduran Diri di Partai Buruh Berlanjut, Seluruh Pengurus DIY Kompak Pamit
-
Viral Debat Mahasiswa dan Rektorat UNY saat Hendak Gelar Aksi, Begini Kronologi Lengkapnya
-
Sri Sultan Absen dari Agenda Pemerintahan, Paku Alam X Ditunjuk Jadi Plh Gubernur DIY
-
Rp4,6 Miliar Digelontorkan, Mesin Produksi Susu di DIY Diduga Tak Pernah Berfungsi
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda