Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 28 November 2025 | 14:32 WIB
Barter sampah dengan sembako dalam acara "Merawat Alam, Menjaga Kehidupan" di Loman Park Hotel Yogyakarta, Jumat (28/11/2025).
Baca 10 detik
  • Bumiku Lestari menginisiasi barter sampah warga dengan sembako sehat menggunakan sistem poin di Yogyakarta.
  • Mekanisme penukaran meliputi berbagai jenis sampah seperti plastik, galon, hingga minyak jelantah menjadi pangan.
  • Program ini berkolaborasi dengan AEPI DIY untuk pembagian bibit pohon serta mengolah sampah residu melalui pihak ketiga.

SuaraJogja.id - Persoalan sampah yang kian menumpuk di Yogyakarta mendorong munculnya berbagai inisiatif kreatif berbasis komunitas.

Salah satunya adalah program barter sampah dengan sembako dan pangan sehat yang dijalankan Bumiku Lestari melalui berbagai kegiatan edukasi serta kolaborasi dengan Asosiasi Eco Printer Indonesia (AEPI) DIY. 

Konsep yang sederhana namun efektif ini menjadi alternatif solusi pengurangan sampah. Bahkan bisa menjadi penguatan ketahanan pangan masyarakat.

Ridwan Purnama, pengelola Bumiku Lestari dalam acara "Merawat Alam, Menjaga Kehidupan" di Loman Park Hotel Yogyakarta, Jumat (28/11/2025) mengungkapkan mekanisme barter sampah dijalankan menggunakan sistem poin.

Sampah yang ditukar akan dikonversikan ke nilai rupiah, lalu dikembalikan ke warga dalam bentuk telur, beras, daging, atau produk pangan sehat lain yang tersedia di toko koperasi.

"Misalnya sampahnya nilainya 30 ribu, bisa dapat satu kilo telur. Untuk [telur] Ayam Bahagia harganya Rp 2.900 per butir, kalau [telur] Keluarga Bahagia Rp 2.500. Misal bawa sampah 20 ribu, dapat 10 telur. Sisa poinnya bisa disimpan," paparnya.

Menurut Ridwan, warga bisa datang membawa berbagai jenis sampah seperti plastik, kardus, botol PET, galon untuk dibarter dengan sembako. Bahkan sampah elektronik rusak dan minyak jelantah pun bisa ditukar dengan beras, telur dan lainnya.

Sistem deposit ini membuat warga bisa menabung nilai sampahnya untuk kebutuhan lain. Tidak hanya telur, Ridwan menegaskan bahwa penukaran juga bisa dilakukan dengan beras dan daging, sesuai ketersediaan di toko koperasi.

Menurut pengamatan tim Bumiku Lestari, jenis sampah yang paling banyak diterima adalah sampah Polyethylene Terephthalate (PET) yang paling banyak dibarter. 

Baca Juga: Dari Yogyakarta ke Kolombia: Alternativa Film Festival Siap Gaungkan Suara Baru Perfilman Dunia

Sebut saja botol plastik minuman, kardus, dan kemasan seperti kotak minuman instan yang umum dikonsumsi mahasiswa. Selain itu, sampah jelantah rumah tangga juga cukup besar untuk ditukar.

Setiap hari, Bumiku Lestari menerima lebih dari 50 kg sampah, termasuk dari sistem pick-up dan drop-off. Pada satu event saja, jumlah sampah yang terkumpul bisa mencapai 40–50 kg.

Khusus untuk sampah eletronik, Ridwan menyebut sebelum digolongkan sebagai sampah, pihaknya akan mengupayakan perbaikan elektronik tersebut. Mereka bekerja sama dengan seorang teknisi untuk memperbaikinya.

"Kalau masih bisa diperbaiki, ya diperbaiki dulu. Supaya tidak jadi polutan," jelasnya.

Untuk sampah plastik residu, Bumiku Lestari bekerja sama dengan pihak ketiga yang memiliki mesin pirolisis untuk mengubah sampah plastik menjadi solar.

Selain pirolisis, Bumiku Lestari juga berkolaborasi dengan komunitas kreatif Jogja Lots Cycle. Tutup botol dari warga akan diolah menjadi gelang dan produk upcycling lain oleh komunitas tersebut.

"Tutup botolnya kami kirim ke mereka, karena mereka punya alatnya. Jadi tetap bernilai dan tidak berakhir di TPA," ungkapnya.

Ridwan menambahkan, telur yang dibagikan dalam program barter tidak asal-asalan. Telur-telur itu berasal dari ayam yang dipelihara dengan standar kesejahteraan hewan. 

Ayam ditempatkan di ruang terbuka, bisa mandi pasir. Ternak itu juga mendapat sinar matahari langsung, dan diberi pakan alami.

"Ayam bisa mengekspresikan sifat alaminya, bahkan bisa nggosip. Ini bagian dari animal welfare yang kami pegang," jelasnya.

Sementara itu Ketua AEPI DIY, Vipia Yanuachandra mengungkapkan, mereka membawa beragam jenis bibit pohon seperti tanaman keras, peneduh, hingga tanaman produktif seperti nangka untuk dibagikan ke orang-orang yang mau menanamnya.

"Ecoprint bukan sekadar menyusun daun di atas kain, tetapi seni berkelanjutan. Kami terus membagikan bibit pohon di berbagai wilayah, termasuk Wanagama," ungkapnya.

Founder & Managing Director Loman Park Hotel Yogyakarta, Handono S Putro mengungkapkan kolaborasi komunitas, kesadaran lingkungan dalam mengatasi masalah sampah sangat dibutuhkan.

"Kerjasama semua pihak diharapkan dapat menjaga kelestarian lingkungan," imbuhnya.

Caption : Barter sampah dengan sembako dalam acara "Merawat Alam, Menjaga Kehidupan" di Loman Park Hotel Yogyakarta, Jumat (28/11/2025).

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Load More