- Obesitas sentral berisiko lebih tinggi dibandingkan obesitas umum; penilaiannya menggunakan lingkar perut di atas 90 cm.
- Lemak perut terkait sindrom metabolik seperti tekanan darah tinggi dan gula darah abnormal, meningkatkan risiko penyakit kronis.
- Penanganan obesitas sentral memerlukan perubahan pola pikir jangka panjang serta perbaikan pola makan dan aktivitas fisik.
SuaraJogja.id - Perut buncit bukan hanya soal penampilan, tetapi bisa menjadi tanda risiko penyakit serius yang mengancam kesehatan. Pakar Gizi Universitas Gadjah Mada (UGM) Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih menegaskan bahwa penumpukan lemak di area perut atau obesitas sentral memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan obesitas pada umumnya.
Mirza menjelaskan bahwa status gizi seseorang umumnya diukur menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT), yakni perbandingan antara berat badan dan tinggi badan.
Berdasarkan standar WHO, IMT 18-23 tergolong normal, 23-25 masuk kategori overweight, sementara di atas 25 sudah termasuk obesitas.
"Yang paling berbahaya itu yang nilainya sudah di atas 30," kata Mirza, dikutip Minggu (28/12/2025).
Perbedaan lokasi penumpukan lemak inilah yang membedakan obesitas sentral dengan obesitas lainnya. Penilaian obesitas sentral pun tidak cukup hanya menggunakan IMT.
Lingkar perut yang ada di atas 90 menjadi indikator penting. Pada perempuan, hormon estrogen menyebabkan lemak tersebar di berbagai bagian tubuh seperti lengan, dada, paha, pinggul, dan perut.
Sementara pada laki-laki, obesitas sentral lebih sering terjadi. Pasalnya penumpukan lemak cenderung terpusat di perut sebab tidak adanya estrogen.
Obesitas sentral ini menjadi perhatian serius karena berkaitan erat dengan sindrom metabolik karena lemak banyak menumpuk di perut.
Sindrom metabolik ini ditandai dengan peningkatan gula darah, tekanan darah tinggi, serta kolesterol yang tidak normal. Ketika kondisi ini berlanjut, risiko penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, penyakit jantung koroner, dan hipertensi pun meningkat.
Baca Juga: Usai Viral Sebut Jokowi Bukan Alumni, Layanan LISA AI UGM Tak Bisa Digunakan
"Kalau biokimia di dalam darah sudah bermasalah, nanti akan muncul berbagai penyakit tidak menular lain yang akhirnya berisiko juga pada kematian," tandasnya.
Secara alami, obesitas sentral lebih sering muncul pada usia di atas 40 tahun disebabkan oleh faktor hormonal. Hormon menjadi faktor adanya penumpukan lemak, memang risikonya terjadi pada usia di atas 40, terutama pada perempuan.
Namun, kondisi ini bisa muncul lebih dini akibat gaya hidup tidak sehat sejak usia muda. Pada kelompok usia muda, faktor utama obesitas sentral adalah kurangnya aktivitas fisik.
Ditambah pula dengan pola makan tinggi gula, garam, dan lemak. Asupan berlebih ini akan disimpan tubuh sebagai lemak dan mengubah metabolisme.
Ubah Pola Pikir
Untuk mengatasi obesitas, Mirza menekankan pentingnya untuk mengubah pola pikir terlebih dahulu sebelum melakukan diet. Penurunan berat badan harus dipahami sebagai proses jangka panjang yang membutuhkan kesabaran dan konsistensi.
Setelah itu, barulah pola makan diperbaiki sesuai usia dan kebutuhan tubuh, dengan mengurangi gula, garam, dan lemak serta meningkatkan konsumsi buah dan sayur.
"Mindset yang harus dibangun adalah ini 'turning point saya, saya mau berubah.' Kalau nggak ada ini, mau sebagus apa pun programnya tidak akan masuk," tegasnya.
Lebih lanjut, Mirza menyampaikan bahwa pada usia muda, metabolisme yang masih baik memungkinkan berat badan terkoreksi lebih cepat ketika pola makan dan aktivitas fisik diperbaiki.
Namun pada usia di atas 40 tahun, metabolisme melambat sehingga diperlukan strategi tambahan seperti pengaturan jendela makan atau Intermitten Fasting (IF).
Meski demikian, ia menekankan bahwa setiap intervensi harus bersifat personal dan didampingi tenaga profesional. Pasalnya kondisi kesehatan setiap individu berbeda.
Terakhir, Mirza menyampaikan bahwa tanpa perubahan gaya hidup yang konsisten, kondisi ini dapat berkembang menjadi berbagai penyakit kronis yang mengancam kualitas hidup.
"Apa yang kita investasikan ke dalam tubuh kita hari ini, itulah yang akan kita tuai sebagai penyakit atau kesehatan di masa depan," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 HP Xiaomi RAM 8 GB Termurah di Februari 2026, Fitur Komplet Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Pilihan HP RAM 16 GB Paling Murah, Penyimpanan Besar dan Performa Kencang
- 7 HP Murah Terbaru 2026 Buat Gaming: Skor AnTuTu Tinggi, Mulai Rp1 Jutaan!
- Baru! Viva Moisturizer Gel Hadir dengan Tekstur Ringan dan Harga Rp30 Ribuan
- 6 Tablet Murah dengan Kamera Jernih, Ideal untuk Rapat dan Kelas Online
Pilihan
-
Geger Taqy Malik Dituding Mark-up Harga Wakaf Alquran, Keuntungan Capai Miliaran
-
Kabar Duka: Mantan Pemain Timnas Indonesia Elly Idris Meninggal Dunia
-
Cibinong Mencekam! Angin Kencang Hantam Stadion Pakansari Hingga Atap Rusak Parah
-
Detik-Detik Mengerikan! Pengunjung Nekat Bakar Toko Emas di Makassar
-
Lika-liku Reaktivasi PBI JK di Jogja, Antre dari Pagi hingga Tutup Lapak Jualan demi Obat Stroke
Terkini
-
Gagal Gondol Burung Tengah Malam, Maling di Sleman Semprot Spray Gun saat Diringkus Warga
-
Sibuk Cari Cuan, Ratusan Pedagang di Bantul Akhirnya Bisa Cek Kesehatan Gratis
-
Lika-liku Reaktivasi PBI JK di Jogja, Antre dari Pagi hingga Tutup Lapak Jualan demi Obat Stroke
-
Dinas Pendidikan Sleman Pastikan Program Makan Bergizi Gratis Tetap Berjalan Selama Libur Ramadan
-
Super Apps BRImo dari BRI Hadirkan QRIS TITO, Permudah Nasabah Gunakan Transportasi Umum