- Ratusan warga mengantri di MPP Yogyakarta pada Kamis (12/1/2026) untuk reaktivasi kepesertaan PBI JK yang mendadak tidak aktif.
- Beberapa peserta seperti Rustini dan Jumiran terkejut karena tidak menerima pemberitahuan sebelum layanan kesehatan gratis mereka ditolak.
- Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta menyediakan delapan konter dengan kuota harian 300 pemohon untuk memproses 21.874 peserta dinonaktifkan.
SuaraJogja.id - Antrian panjang masih terlihat di layanan reaktivasi kepesertaan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK) di Mall Pelayanan Publik (MPP) Kota Yogyakarta, Kamis (12/1/2026). Ratusan warga menunggu sejak pagi untuk bisa menggunakan lagi akses kesehatan gratis tersebut.
Sebut saja Rustini, warga Gedongkuning yang mendapatkan nomor antrian 180. Perempuan ini mengaku bolak-balik mengurus reaktivasi PBI JK suaminya, Larna sejak dua hari terakhir yang mendadak tidak aktif.
"Dari hari rabu kemarin mengurus KK (Kartu Keluarga-red) untuk mengganti profesi di kartu dari pegawai jadi pensiunan," ujarnya.
Masalah bermula ketika ia hendak mengantar suaminya kontrol rutin dan mengambil obat bulanan di puskesmas. Suaminya telah enam tahun menderita stroke.
Bagian kanan tubuhnya sempat lumpuh dari atas hingga bawah. Kini sudah membaik, bisa berjalan perlahan tanpa tongkat, meski belum sepenuhnya pulih.
"Harus rutin tiap bulan ambil obat. Sehari minum empat macam, kadang lima," tuturnya.
Dalam kondisi stabil tanpa keluhan serius, biasanya suaminya tidak perlu dirujuk ke rumah sakit. Cukup kontrol dan mengambil obat di puskesmas.
Namun kemarin, semuanya berubah. Saat berada di puskesmas, bagian administrasi menolak mereka karena kepesertaan PBI JK milik suaminya tidak lagi aktif.
"Pas di puskesmas dibilang sudah enggak aktif. Enggak ada pemberitahuan sebelumnya. Tahu-tahu saja," ujarnya.
Baca Juga: BPJS Kesehatan Dicoret? Dinsos DIY Buka Layanan Pengaduan, Jangan Tunda
Ia mengaku benar-benar kaget. Selama ini tak pernah ada informasi kepesertaannya dinonaktifkan. Jika ingin tetap mendapatkan obat, ia diminta membayar terlebih dahulu.
Karena tak ingin suaminya sampai putus obat, ia pun bergegas melakukan reaktivasi. Apalagi obat diberikan untuk satu bulan, seperti biasa. Setelah itu, ia langsung menuju kantor layanan untuk mengurus pengaktifan kembali.
"Katanya bisa dapat obat, tapi bayar. Tergantung obatnya," ujarnya.
Perempuan 55 tahun ini mengaku suaminya kini berusia sekitar 70 tahun sudah menderita penyakit stroke sejak sebelum pensiun dari Kantor Pos.
Sesaat setelah pensiun mereka diberi pilihan melanjutkan kepesertaan BPJS secara mandiri atau ikut skema bantuan pemerintah. Dia memilih PBI JK karena uang pensiun yang didapat suaminya tak mencukupi kebutuhan sehari-hari, termasuk untuk berobat suaminya.
"Karena biaya rumah sakit mahal, obat tiap bulan harus ada, ya saya urus PBI," jelasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
Terkini
-
Gelombang Pengunduran Diri di Partai Buruh Berlanjut, Seluruh Pengurus DIY Kompak Pamit
-
Viral Debat Mahasiswa dan Rektorat UNY saat Hendak Gelar Aksi, Begini Kronologi Lengkapnya
-
Sri Sultan Absen dari Agenda Pemerintahan, Paku Alam X Ditunjuk Jadi Plh Gubernur DIY
-
Rp4,6 Miliar Digelontorkan, Mesin Produksi Susu di DIY Diduga Tak Pernah Berfungsi
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda