Budi Arista Romadhoni | Hiskia Andika Weadcaksana
Kamis, 12 Februari 2026 | 14:09 WIB
Ilustrasi Para siswa membawa menu Makan Bergizi Gratis (MBG). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Dinas Pendidikan Sleman memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan selama libur Ramadan bagi siswa sekolah dasar.
  • Mekanisme penyaluran selama libur menggunakan paket makanan kering yang diambil orang tua siswa setiap tiga hari sekali.
  • Dinas mendorong inovasi menu makanan oleh SPPG agar gizi terpenuhi meskipun menyesuaikan preferensi lauk siswa.

SuaraJogja.id - Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa sekolah dasar di wilayahnya akan terus berlanjut meskipun memasuki masa libur Ramadan. Kebijakan ini diambil untuk menjaga konsistensi pemenuhan gizi siswa.

Kasi Kurikulum dan Kesiswaan SD Dinas Pendidikan Sleman, Akhmad Ritaudin, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi teknis dan pemantauan lapangan untuk memastikan kelancaran program ini selama siswa belajar di rumah.

"MBG ketika libur tetap berjalan sesuai dengan libur semester kemarin. Nah, sistemnya kemarin sudah dirapatkan juga, kami punya PIC kemarin ada rapat di Sekda dan juga kami terjun ke lapangan untuk memastikan," kata Akhmad di Pemkab Sleman, Kamis (12/2/2026).

Dinas Pendidikan Sleman juga telah mengumpulkan data pendukung dari Satuan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi (SPPG). Selain itu dilakukan pula wawancara dengan pihak sekolah untuk memetakan pola distribusi yang paling efektif.

Disampaikan Akhmad, mekanisme penyaluran selama libur Ramadan akan menggunakan pola paket makanan kering yang dapat diambil oleh orang tua siswa secara berkala di sekolah.

"Libur kemarin dan untuk libur Ramadan ini polanya sama, itu akan diberikan MBG itu bentuknya kering dan nanti diambil setiap tiga hari sekali," paparnya.

Adapun paket makanan kering yang disediakan terdiri dari menu bergizi seperti telur asin dan susu UHT. 

Kendati demikian, Akhmad menekankan bahwa meskipun diberikan dalam bentuk kering, standar gizi harus tetap dikawal ketat oleh pengawas di setiap kapanewon.

"Jangan hanya langsung asal makan kering tetapi harus dikawal. Nah, kami juga berkolaborasi dengan pengawas untuk mengawal hal tersebut," tegasnya.

Baca Juga: Kota Jogja Siap Contek Strategi Lombok dan Dorong Penambahan Direct Flight Internasional

Tantangan di lapangan seringkali muncul dari preferensi siswa terhadap jenis lauk tertentu yang terkadang membuat anak enggan makan jika menu tidak sesuai selera mereka.

"Nah, solusi kita adalah ketika itu kami datang, kami terjun langsung, kami sama SPPG biasanya yang disukai anak apa," ungkapnya.

Berdasarkan pantauan di lapangan Akhmad bilang, siswa cenderung lebih menyukai menu telur atau olahan modern. 

Oleh karena itu, pihaknya mendorong SPPG untuk melakukan inovasi pengolahan makanan. Sehingga sayuran tetap dapat dikonsumsi dengan lahap oleh siswa.

"Gimana caranya SPPG membuat inovasi makanan yang disukai anak tetapi dalamnya itu tetap bergizi, olahan dari sayur-mayur dan sebagainya. Kami berkolaborasinya seperti itu, berinovasi tetapi tetap gizi seimbangnya dapet," tandasnya.

Load More