- Dinas Pendidikan Sleman memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan selama libur Ramadan bagi siswa sekolah dasar.
- Mekanisme penyaluran selama libur menggunakan paket makanan kering yang diambil orang tua siswa setiap tiga hari sekali.
- Dinas mendorong inovasi menu makanan oleh SPPG agar gizi terpenuhi meskipun menyesuaikan preferensi lauk siswa.
SuaraJogja.id - Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa sekolah dasar di wilayahnya akan terus berlanjut meskipun memasuki masa libur Ramadan. Kebijakan ini diambil untuk menjaga konsistensi pemenuhan gizi siswa.
Kasi Kurikulum dan Kesiswaan SD Dinas Pendidikan Sleman, Akhmad Ritaudin, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi teknis dan pemantauan lapangan untuk memastikan kelancaran program ini selama siswa belajar di rumah.
"MBG ketika libur tetap berjalan sesuai dengan libur semester kemarin. Nah, sistemnya kemarin sudah dirapatkan juga, kami punya PIC kemarin ada rapat di Sekda dan juga kami terjun ke lapangan untuk memastikan," kata Akhmad di Pemkab Sleman, Kamis (12/2/2026).
Dinas Pendidikan Sleman juga telah mengumpulkan data pendukung dari Satuan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi (SPPG). Selain itu dilakukan pula wawancara dengan pihak sekolah untuk memetakan pola distribusi yang paling efektif.
Disampaikan Akhmad, mekanisme penyaluran selama libur Ramadan akan menggunakan pola paket makanan kering yang dapat diambil oleh orang tua siswa secara berkala di sekolah.
"Libur kemarin dan untuk libur Ramadan ini polanya sama, itu akan diberikan MBG itu bentuknya kering dan nanti diambil setiap tiga hari sekali," paparnya.
Adapun paket makanan kering yang disediakan terdiri dari menu bergizi seperti telur asin dan susu UHT.
Kendati demikian, Akhmad menekankan bahwa meskipun diberikan dalam bentuk kering, standar gizi harus tetap dikawal ketat oleh pengawas di setiap kapanewon.
"Jangan hanya langsung asal makan kering tetapi harus dikawal. Nah, kami juga berkolaborasi dengan pengawas untuk mengawal hal tersebut," tegasnya.
Baca Juga: Kota Jogja Siap Contek Strategi Lombok dan Dorong Penambahan Direct Flight Internasional
Tantangan di lapangan seringkali muncul dari preferensi siswa terhadap jenis lauk tertentu yang terkadang membuat anak enggan makan jika menu tidak sesuai selera mereka.
"Nah, solusi kita adalah ketika itu kami datang, kami terjun langsung, kami sama SPPG biasanya yang disukai anak apa," ungkapnya.
Berdasarkan pantauan di lapangan Akhmad bilang, siswa cenderung lebih menyukai menu telur atau olahan modern.
Oleh karena itu, pihaknya mendorong SPPG untuk melakukan inovasi pengolahan makanan. Sehingga sayuran tetap dapat dikonsumsi dengan lahap oleh siswa.
"Gimana caranya SPPG membuat inovasi makanan yang disukai anak tetapi dalamnya itu tetap bergizi, olahan dari sayur-mayur dan sebagainya. Kami berkolaborasinya seperti itu, berinovasi tetapi tetap gizi seimbangnya dapet," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sosok Arnold Aristoteles, Mantan Jenderal yang Dimarahi Menteri PU Dody Hanggodo
- Apakah Kulkas Harus Dimatikan saat Membersihkan Bunga Es? Begini Cara yang Benar
- Urutan Pemakaian Air Mawar, Moisturizer, dan Sunscreen di Pagi Hari yang Tepat
- 15 Kode Redeem FF Terbaru 27 September 2026, Lengkap Trik Jitu Dapatkan Bundle Sasuke
- 9 Bedak Padat dan Tabur Terbaik di Indomaret di Bawah 50 Ribu
Pilihan
-
Masinis Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka Kecelakaan Kereta di Bekasi
-
Hasil Rapat Haji di Istana, Masa Tunggu Jadi 14 Tahun
-
Hasil Investigasi di Lapas Cibinong: Kulkas Berisi Miras hingga Perabotan Mewah Milik Kasi Kamtib
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
Terkini
-
Kemarau Diprediksi hingga Desember, Kulon Progo Perpanjang Siaga Kekeringan
-
Cara PIMPASA Imigrasi Yogyakarta Cegah Perdagangan Orang Lewat Pangan dan Wayang
-
Direproduksi Antar Generasi, 200 Lebih Kasus Bullying Terjadi di Kota Jogja
-
Warganet Khawatir Girder Tol Jogja-Solo Rawan Roboh, Kontraktor Beri Penjelasan
-
Kasus Keracunan MBG Berulang di Jogja, Orang Tua Unjukrasa Desak Proses Hukum SPPG