- Kebijakan Donald Trump yang unilateral dan agresif mengancam stabilitas ekonomi serta keamanan global secara signifikan.
- Langkah penarikan diri AS dari kesepakatan internasional melemahkan upaya kolektif mengatasi krisis lingkungan global.
- Kebijakan tersebut dikhawatirkan memicu sistem *self-help* global, meningkatkan konflik, dan melemahkan peran AS.
Apalagi melemahnya soft power AS bisa memicu munculnya sentimen anti-Amerika di berbagai belahan dunia. Dalam sejarah, sentimen semacam itu kerap berujung pada ekstremisme dan aksi terorisme.
"Kalau ketidakpuasan menumpuk dan tidak ada saluran politik yang efektif, sebagian kelompok bisa memilih jalur kekerasan. Itu bukan hanya merugikan Amerika, tapi seluruh dunia," ujarnya.
Kebijakan Trump juga dinilai akan menjadi bumerang bagi negara itu. Bahkan menggerus posisi Amerika sebagai panutan global. Jika sebelumnya Amerika kerap dipandang sebagai pemimpin dalam tata kelola global, kini citra itu memudar.
AS nantinya tidak lagi menarik sebagai role model. Dunia membutuhkan kepemimpinan kolektif untuk menghadapi masalah global, bukan pendekatan sepihak karena saat ini berada di persimpangan antara mempertahankan kerja sama internasional atau kembali ke pola lama hubungan internasional yang sarat konflik dan dominasi kekuatan.
“Kalau PBB terlalu tumpul karena veto dan tarik-menarik kepentingan, maka perlu ada mekanisme lain yang bisa menjaga agar tindakan sepihak tidak semakin liar,” ujarnya.
Ia juga berharap dinamika politik domestik di Amerika Serikat dapat menjadi penyeimbang terhadap kebijakan Trump. Kritik dari oposisi dan masyarakat sipil diharapkan mampu menahan laju kebijakan yang dianggap berisiko tinggi.
"Yang kita khawatirkan adalah jika dunia terbiasa dengan gaya dar-der-dor ini. Kalau itu menjadi normal, maka dunia akan jauh lebih tidak aman dan tidak stabil," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Baca Juga: Distributor Menjerit: Tarif Trump 19 Persen Bikin Usaha Lokal Mati Suri?
Berita Terkait
Terpopuler
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- 6 HP Snapdragon Paling Murah RAM 8 GB untuk Investasi Gadget Jangka Panjang
- Sabun Cuci Muka Apa yang Bagus untuk Atasi Kulit Kusam? Ini 5 Pilihan agar Wajah Cerah
- 5 HP Infinix Termurah dengan Fitur NFC yang Canggih, Mulai Rp1 Jutaan
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Babak Baru Kasus Korupsi Dana Hibah Pariwisata Sleman: Jejak Digital Seret Tersangka Baru
-
Ancaman BBM Naik Akibat Perang, Kurir Paket dan Ojol di Yogyakarta Kian Terhimpit
-
UGM-Bank Mandiri Taspen Lanjutkan Kemitraan, Siapkan Talenta Muda dan Literasi Pensiun
-
BRI Umumkan Dividen Rp52,1 Triliun, Didukung Laba Rp56,65 Triliun
-
BRI Group Buka Pegadaian di Timor Leste, Perluas Layanan UMi