- Pakar UGM menyoroti potensi 15 juta hektare sawit untuk pakan ternak, namun sering terabaikan orientasi keuntungan perusahaan.
- Integrasi ternak di bawah tegakan sawit dapat menekan biaya pakan, menyuburkan tanah, serta menciptakan sistem pertanian berkelanjutan.
- Untuk efektivitas, integrasi perlu didukung pengembangan varietas pakan unggul dan pemanfaatan limbah sawit guna menekan impor.
Akan tetapi dalam praktiknya, menurut Bambang banyak perusahaan sawit masih melihat integrasi sebagai tambahan beban alih-alih investasi jangka panjang. Padahal tekanan global terhadap isu lingkungan, deforestasi, dan keberlanjutan justru membuat integrasi semacam ini semakin relevan.
Di tengah dorongan untuk menekan impor pakan, upaya meningkatkan kemandirian pangan dan membangun pertanian berkelanjutan sangat penting dilakukan. Integrasi sawit-ternak menawarkan jalan tengah yang rasional karena menghubungkan kepentingan petani, peternak, industri serta lingkungan dalam satu sistem yang saling menopang.
"Kalau perusahaan sawit mau berpikir lebih jauh, integrasi ternak ini bisa menjadi bagian dari tanggung jawab lingkungan sekaligus strategi ekonomi. Bukan hanya sawit yang dihasilkan, tapi juga daging, susu, dan sistem pangan yang lebih mandiri," tandasnya.
Hal senada disampaikan guru besar Fakultas Peternakan UGM lainnya, Nafiatul Umami, yang menyatakan persoalan pakan bukan hanya soal kuantitas namun juga kualitas. Rumput-rumput tropis memang menghasilkan biomassa besar tetapi sering kali kandungan nutrisinya rendah.
Karena itu rekayasa dan pemuliaan tanaman pakan perlu dilakukan. Hal itu agar sesuai dengan kondisi lahan dan kebutuhan ternak.
"Kita tidak bisa mengandalkan rumput alami saja. Kita perlu tanaman pakan yang adaptif di lahan kering, di bawah sawit, di lahan marginal, tetapi juga punya kualitas nutrisi yang baik," ungkapnya.
Ia mencontohkan pengembangan rumput gajah varietas “Gamma Umami” yang telah dilepas sebagai varietas unggul nasional. Rumput ini dirancang agar adaptif di berbagai kondisi, memiliki kandungan gula lebih tinggi, disukai ternak dan bisa tumbuh kembali setelah dipotong.
Umami menambahkan, integrasi sawit dan ternak akan jauh lebih efektif jika didukung oleh pengembangan tanaman pakan yang tepat. Selain itu pemanfaatan limbah sawit seperti bungkil inti sawit sebagai pakan tambahan sehingga ketergantungan pada impor bahan baku pakan seperti jagung atau bungkil kedelai dapat ditekan.
"Prinsipnya sederhana, ternak mau makan dan peternak mau menanam. Kalau dua itu tidak ketemu, teknologi sehebat apa pun tidak akan dipakai," katanya.
Baca Juga: Sororti Gajah Bantu Bersihkan Sisa Bencana, Guru Besar UGM Sebut Berisiko pada Kesehatan Satwa
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- Biodata dan Agama DJ Patricia Schuldtz yang Resmi Jadi Menantu Tommy Soeharto
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
- 5 Sepatu Jalan Lokal Terbaik Buat Si Kaki Lebar Usia 45 Tahun, Berjalan Nyaman Tanpa Nyeri
- DPUPKP Catat 47 Hektare Kawasan Kumuh di Kota Jogja, Mayoritas di Bantaran Sungai
Pilihan
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
-
Mengapa Purbaya Tidak Pernah Kritik Program MBG?
-
Kuburan atau Tambang Emas? Menyingkap Fenomena Saham Gocap di Bursa Indonesia
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
Terkini
-
Mengenal Abdi Dalem Palawija: Peran dan Perubahannya di Keraton Yogyakarta
-
Ketika Sawit Sekadar Soal Untung, Pakar Sebut Potensi Besar Pakan Ternak jadi Terabaikan
-
Layanan KB Kini Rutin di Kota Yogya, Dibuka Setiap Selasa dan Jumat
-
Kisah Warga Sleman Serahkan Elang Jawa ke BKSDA Yogyakarta
-
Tak Ada Temuan APIP, Saksi dari Kemenparekraf Sebut Hibah Pariwisata Sleman Sesuai Mekanisme