- Revitalisasi pasar Sentul di Yogyakarta menghasilkan bangunan modern, namun berdampak signifikan pada penurunan omzet pedagang secara drastis.
- Pedagang mengeluhkan sepinya pembeli akibat perubahan struktur pasar, penambahan jumlah kios, dan pembatasan zonasi dagangan.
- Pemerintah Kota Yogyakarta merespons dengan dispensasi pembayaran dan berencana mengadakan promosi serta kegiatan untuk menghidupkan kembali pasar.
SuaraJogja.id - Daftar keluhan keberadaan pasar Sentul di Kota Yogyakarta pasca revitalisasi sejak beberapa tahun terakhir terus bertambah. Bagaimana tidak, meski bangunan kini tampak lebih bersih dan rapi, lantai-lantainya tertata, kios-kios dibagi sesuai zonasi, dan wajah pasar rakyat berubah menjadi lebih modern, pedagang justru mengalami penurunan omzet alih-alih untung lebih besar.
Setelah pedagang kuliner di Pusat Jajanan Serba Ada (pujasera) lantai 3 atau rooftop Pasar Bantul yang memilih tutup karena omzet pedagang anjlok drastis usai dipindah dari Sewadanan Pura Pakualaman, pedagang lain di lantai 1 dan 2 pun mengeluhkan persoalan yang sama.
Di balik tampilan fisik yang diperbarui sejak dua tahun terakhir, denyut transaksi para pedagang justru kian melemah. Sebut saja Narsih, pedagang snack di lantai satu yang mengaku kondisi pasar saat ini jauh berbeda dibandingkan pasar lama. Sejak direvitalisasi, jumlah pengunjung menurun signifikan.
"Pengunjungnya cukup sepi, pembeli sedikit," ujar Narsih di Yogyakarta, Rabu (21/1/2026).
Menurut perempuan 67 tahun itu, salah satu penyebab sepinya pembeli adalah perubahan struktur pasar. Bangunan yang lebih tinggi dan jumlah kios yang terus bertambah tidak diimbangi dengan peningkatan jumlah pembeli.
"Pedagangnya nambah terus. Dulu mungkin cuma seratus orang, sekarang bisa dua kali lipat, padahal pembelinya ya itu-itu saja," katanya.
Kondisi tersebut membuat persaingan antar pedagang semakin ketat. Narsih menyebut, bagi pedagang kecil sepertinya, mencari keuntungan kini menjadi sangat sulit.
"Kalau saya yang kecil begini, untung sehari Rp20.000 saja sudah susah," paparnya.
Bahkan, ada hari-hari ketika dagangannya tak laku sama sekali. Padahal sebelumnya, Pasar Sentul masih memberi ruang ekonomi yang cukup layak bagi pedagang kecil sepertinya.
Baca Juga: Sempat Hilang saat Orang Tua Ronda, Seorang Bocah Ditemukan Tewas di Selokan Mataram
Ketika omzet mencapai Rp300.000, keuntungan bersih yang didapat hanya sekitar Rp30.000. Saat ini, keuntungan Rp10.000 hingga Rp20.000 pun belum tentu diperolehnya setiap hari.
"Dulu masih lumayan, masih bisa buat ikut arisan di rumah. Sekarang sudah tidak. Kadang pulang alhamdulillah, kadang malah tidak dapat apa-apa," ujarnya.
Selain soal sepinya pembeli, pedagang juga menghadapi keterbatasan ruang. Kios Narsih hanya selebar dua meter. Lemari dagangan yang dulu bisa diletakkan di tengah kini tak lagi muat.
Perubahan karakter pasar yang berubah juga jadi masalah buat pedagang. Jika dulu pasar tradisional memberi kebebasan bagi pedagang untuk menjual berbagai barang, kini aturan zonasi membatasi jenis dagangan.
"Kalau dulu panen pisang di rumah, bisa langsung dibawa jual. Sekarang tidak boleh, harus sesuai zonasi. Kalau melanggar bisa dimarahi," ungkapnya.
Narsih berharap pasar lebih dikenal dan dikunjungi masyarakat luas. Sehingga bagi para pedagang kecil Pasar Sentul, revitalisasi bukan hanya menghadirkan bangunan baru, tetapi juga memastikan pasar tetap hidup sebagai ruang ekonomi rakyat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
JPW Pertanyakan Sikap Humanis Polda DIY: Ada Pelempar Berlindung di Balik Barikade Polisi
-
Polda DIY Akui Terima BKO Pasukan Luar Daerah untuk Pengamanan Aksi di Malioboro
-
Peringatan Dini Cuaca DIY: Kota Jogja hingga Sleman Berpotensi Hujan Petir
-
11 Pengasuh Day Care Little Aresha Divonis Maksimal 3 Tahun, Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa
-
Kronologi Kericuhan Malioboro Usai Demo Sumpah Pemuda, Massa Tak Dikenal Serang Gedung DPRD DIY