- Warga Yogyakarta menghadapi kesulitan ekonomi akibat UMR rendah, ancaman PHK, dan prediksi guncangan struktural global 2026.
- Pekerja SKT seperti Zudiyati merasakan dampak penurunan produksi, perubahan fokus kualitas, dan hilangnya pendapatan lembur.
- Ketidakpastian kerja dialami pekerja lain seperti Yosua, yang sulit mencari pekerjaan layak setelah mengalami PHK akhir 2025.
Padahal bagi buruh pabrik, uang lembur selama ini menjadi harapan untuk kebutuhan tambahan. Pendapatan itu bisa digunakannya untuk membayar biaya sekolah anak hingga cadangan darurat.
"Kalau cuma ngandelin gaji borongan tanpa lembur, ya cukup buat muter sehari-hari,” katanya.
Di tengah ketidakpastian itu, Zudiyati mengaku masih bersyukur. Perusahaan tempatnya bekerja dinilai tertib dalam memenuhi hak pekerja.
Gaji tidak pernah terlambat, BPJS tersedia, THR dibayarkan tepat waktu, bahkan bingkisan Lebaran kini rutin diterima.
Bantuan juga datang dari luar pabrik. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima anaknya di sekolah memberi napas tambahan bagi ekonomi keluarga. Uang jajan yang biasanya habis untuk makan kini bisa dialihkan ke kebutuhan lain.
Bahkan jika ada temannya yang tidak menghabiskan jatah, anaknya kerap membawa pulang makanan tersebut.
"Di sini asal kita disiplin dan target selesai, hak kita pasti dibayar," ungkapnya.
Keluhan serupa disampaikan Yosua, warga Gowongan yang mengaku masih berjuang mendapatkan pekerjaan yang layak.
Setelah terkena PHK dari salah satu koperasi tempat dia bekerja pada akhir 2025 lalu, dia saat ini bekerja serabutan demi bisa menghidupi diri dan ibunya.
Baca Juga: Target PAD Pariwisata Bantul 2026: Realistis di Tengah Gempuran Gunungkidul dan Protes Retribusi
"Cari kerja sekarang ini susah, saingannya banyak sekali padahal yang dibutuhkan terbatas," paparnya.
Mengaku sempat putus asa, laki-laki 26 tahun ini berupaya bertahan dengan kerja part time sembari menunggu panggilan kerja. Hingga kini dia sudah mengirim lebih dari lima lowongan pekerjaan namun belum ada satupun panggilan kerja.
"Sekarang ya kerja seadanya dulu untuk bisa tetap makan sama ibu saya, lainnya tidak tahu lagi," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
Terkini
-
Dorong Ekonomi, Volume Transaksi Merchant BRI Raih Rp67,9 Triliun
-
Siswa Non Muslim di Jogja Diperlakukan Diskriminatif Saat Pelajaran Agama, Tak Punya Ruangan Tetap
-
Perry Warjiyo Mundur dari Bank Indonesia, Ekonom Sebut Tekanan Rupiah Bakal Membesar
-
Sidang Praperadilan Memanas, Hakim Pertanyakan Dasar Kejari Tetapkan Raudi Akmal Tersangka
-
Ucapan 'Londo Ireng' Prabowo Dinilai Ancam Demokrasi, Jurnalis: Kami Bukan Musuh Negara