Budi Arista Romadhoni
Kamis, 22 Januari 2026 | 15:44 WIB
Ilustrasi ekonomi di jogja, gaji pekerja yang rendah. [Dok Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Warga Yogyakarta menghadapi kesulitan ekonomi akibat UMR rendah, ancaman PHK, dan prediksi guncangan struktural global 2026.
  • Pekerja SKT seperti Zudiyati merasakan dampak penurunan produksi, perubahan fokus kualitas, dan hilangnya pendapatan lembur.
  • Ketidakpastian kerja dialami pekerja lain seperti Yosua, yang sulit mencari pekerjaan layak setelah mengalami PHK akhir 2025.

Padahal bagi buruh pabrik, uang lembur selama ini menjadi harapan untuk kebutuhan tambahan. Pendapatan itu bisa digunakannya untuk membayar biaya sekolah anak hingga cadangan darurat.

"Kalau cuma ngandelin gaji borongan tanpa lembur, ya cukup buat muter sehari-hari,” katanya.

Di tengah ketidakpastian itu, Zudiyati mengaku masih bersyukur. Perusahaan tempatnya bekerja dinilai tertib dalam memenuhi hak pekerja.

Gaji tidak pernah terlambat, BPJS tersedia, THR dibayarkan tepat waktu, bahkan bingkisan Lebaran kini rutin diterima.

Bantuan juga datang dari luar pabrik. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima anaknya di sekolah memberi napas tambahan bagi ekonomi keluarga. Uang jajan yang biasanya habis untuk makan kini bisa dialihkan ke kebutuhan lain.

Ilustras Makan Bergizi Gratis. [Suara.com/Alfian Winanto]

Bahkan jika ada temannya yang tidak menghabiskan jatah, anaknya kerap membawa pulang makanan tersebut.

"Di sini asal kita disiplin dan target selesai, hak kita pasti dibayar," ungkapnya.

Keluhan serupa disampaikan Yosua, warga Gowongan yang mengaku masih berjuang mendapatkan pekerjaan yang layak.

Setelah terkena PHK dari salah satu koperasi tempat dia bekerja pada akhir 2025 lalu, dia saat ini bekerja serabutan demi bisa menghidupi diri dan ibunya.

Baca Juga: Target PAD Pariwisata Bantul 2026: Realistis di Tengah Gempuran Gunungkidul dan Protes Retribusi

"Cari kerja sekarang ini susah, saingannya banyak sekali padahal yang dibutuhkan terbatas," paparnya.

Mengaku sempat putus asa, laki-laki 26 tahun ini berupaya bertahan dengan kerja part time sembari menunggu panggilan kerja. Hingga kini dia sudah mengirim lebih dari lima lowongan pekerjaan namun belum ada satupun panggilan kerja.

"Sekarang ya kerja seadanya dulu untuk bisa tetap makan sama ibu saya, lainnya tidak tahu lagi," imbuhnya.

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Load More