SuaraJogja.id - Media sosial tengah dihebohkan dengan fenomena 'gas tertawa' atau laughing gas /happy gas . Namun, di balik namanya yang ceria, gas ini menyimpan bahaya mematikan jika disalahgunakan.
Alih-alih membawa kebahagiaan, penggunaan gas ini secara sembarangan bisa memicu kerusakan organ tubuh hingga merenggut nyawa.
Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Zullies Ikawati, menjelaskan bahwa gas ini adalah nitrous oxide atau dinitrogen oksida (NO), berbeda dengan nitrogen (N).
"Nitrogen (N) tidak berefek ke otak dan tidak bikin 'fly' atau happy. Sedangkan Nitrous oxide (NO), punya efek euforia sesaat, rasa ringan, tertawa tanpa sebab, sehingga dijuluki laughing gas ," ujar Zullies dikutip dari BBC News.
Berikut adalah 7 fakta mengerikan di balik 'gas tertawa' yang wajib Anda tahu:
1. Bukan Nitrogen Biasa, Ini NO dengan Efek Euforia Sesat
Penting untuk membedakan NO (*nitrous oxide*) dengan N (nitrogen) biasa. Nitrogen adalah gas utama di udara yang kita hirup dan tidak memiliki efek psikoaktif.
Sementara NO, meskipun berwujud gas tak berwarna dan sedikit beraroma manis, memiliki efek euforia sesaat, rasa ringan, dan memicu tertawa tanpa sebab. Inilah yang membuatnya disalahgunakan untuk tujuan rekreasional.
2. Kemasan Menarik Mirip Produk Kuliner, Pemicu Penyalahgunaan
Baca Juga: Kunci Jawaban Bahasa Inggris Kelas 10 Halaman 117: Why Do You Think They Write the Posts?
Fenomena penyalahgunaan NO diperparai oleh strategi pemasaran yang cerdik. Gas ini sering dikemas dalam botol kaleng berwarna cerah, seperti merah jambu bermerek Whip Pink, dan dipasarkan sebagai produk kuliner, khususnya untuk krim kocok (whipped cream).
Bahkan, beberapa produsen menawarkan resep masakan di situs web mereka. Kemasan menarik dan *gimmick* rasa seperti Blue Raspberry atau Strawberries and Cream memicu rasa ingin tahu, terutama di kalangan remaja.
3. Dijual Bebas dan Ukuran Kian Jumbo, Dorong Penyalahgunaan Massal
Penjualan NO yang bebas karena masuk kategori produk kuliner menjadi celah besar. Dulu hanya tersedia dalam botol kecil dengan balon untuk menghirup, kini produsen menjual botol kaleng hingga berat dua kilogram secara daring atau di toko vape.
"Jika ada kaleng besar, itu berarti lebih banyak orang bisa mencobanya dan menggunakannya, dan hal itu bisa menimbulkan tekanan yang besar pada lingkungan pertemanan apabila memilih tak ikut serta," kata Pat Aussem dari Partnership to End Addiction.
4. Risiko Hipoksia dan Kerusakan Saraf Jangka Panjang
Berita Terkait
Terpopuler
- PP Nomor 9 Tahun 2026 Resmi Terbit, Ini Aturan THR dan Gaji ke-13 ASN
- 31 Kode Redeem FF Max Terbaru Aktif 10 Maret 2026: Sikat Diamond, THR, dan SG Gurun
- Media Israel Jawab Kabar Benjamin Netanyahu Meninggal Dunia saat Melarikan Diri
- Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
- Promo Alfamart dan Indomaret Persiapan Hampers Lebaran 2026, Biskuit Kaleng Legendaris Jadi Murah
Pilihan
-
Trump Ancam Timnas Iran: Mundur dari Piala Dunia 2026 Kalau Tak Mau Celaka
-
Eksklusif! PowerPoint yang Dibuang Trump Sebabkan Tentara AS Mati
-
Belanja Rp75 Ribu di Alfamart Bisa Tebus Murah: Minyak Goreng Rp36.900 hingga Sirup Marjan Rp6.900
-
Ayah hingga Istri Tewas! Mojtaba Khamenei: AS-Israel Akan Bayar Darah Para Syuhada
-
Abu Janda Maki Prof Ikrar di TV, Feri Amsari Ungkap yang Terjadi di Balik Layar
Terkini
-
Detik-detik Mencekam Kebakaran Kantor Kas BPD DIY di Jogja: Ledakan Trafo Diduga Jadi Pemicu
-
Jelang Tuntutan Kasus Hibah Sleman, Pertanyaan Majelis Hakim Soroti Risiko Kriminalisasi Kebijakan
-
XL ULTRA 5G+ Raih Sertifikasi Ookla, Bukti Performa Jaringan Diakui Dunia
-
Syukuran Satu Danantara, Cermin Semangat BUMN Bergerak dalam Satu Langkah
-
Antisipasi Nuthuk Harga dan Penimbunan Pangan, DPRD Kota Yogyakarta Minta Pemkot Perketat Pengawasan