- Dinas Kesehatan Bantul memperingatkan warga mengenai risiko peningkatan penyakit pernapasan, dehidrasi, dan iritasi mata akibat musim kemarau panjang.
- Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan terhadap ancaman gangguan kesehatan selama kondisi cuaca kering dan berdebu ini.
- Dinkes Bantul mengimbau masyarakat menerapkan pola hidup bersih, memenuhi nutrisi, serta menggunakan masker untuk mencegah penyebaran berbagai penyakit.
SuaraJogja.id - Musim kemarau yang diperkirakan lebih panjang dan kering tahun ini membawa ancaman kesehatan bagi masyarakat. Selain cuaca panas yang menyengat, sejumlah penyakit diprediksi meningkat, mulai dari influenza, iritasi mata, dehidrasi, hingga gangguan pernapasan akibat debu.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan karena kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia berisiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan selama musim kemarau.
Kepala Dinkes Bantul Agus Tri Widiyantara mengatakan kondisi udara yang kering dan meningkatnya debu di lingkungan dapat memicu berbagai penyakit yang umum muncul saat kemarau.
"Jenis penyakit yang sering terjadi saat musim kemarau di antaranya influenza dan iritasi mata karena banyaknya debu dari tanah kering yang beterbangan, kemudian terhirup atau mengenai mata," kata Agus, Jumat (12/6/2026).
Menurutnya, ancaman kesehatan saat kemarau tidak hanya terbatas pada flu dan iritasi mata. Masyarakat juga perlu mewaspadai dehidrasi akibat suhu udara yang tinggi, gangguan pencernaan karena kualitas air yang menurun, serta penyakit pernapasan yang dipicu polusi debu dan asap.
Anak-anak menjadi kelompok yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Cuaca panas dan kondisi lingkungan yang lebih kering dapat membuat daya tahan tubuh anak lebih rentan terhadap infeksi.
"Terutama pada anak harus lebih diwaspadai. Orang tua harus ekstra memperhatikan kondisi anaknya," ujarnya.
Menghadapi kondisi tersebut, Dinkes Bantul telah menginstruksikan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan untuk memperkuat sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai risiko penyakit saat kemarau.
Masyarakat juga diminta menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), mulai dari penggunaan air bersih, menjaga kebersihan lingkungan, rajin mencuci tangan, hingga memenuhi kebutuhan gizi seimbang.
Baca Juga: Polisi Ungkap Motif Pembunuhan di Bantul, Sakit Hati Dibilang Sok Alim saat Pesta Miras
Selain itu, penggunaan masker saat beraktivitas di luar ruangan dinilai penting untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat debu yang meningkat selama musim kemarau.
"Asupan cairan penting untuk mencegah dehidrasi karena cuaca panas yang berlebih dan pemenuhan gizi seimbang dengan vitamin dan mineral," kata Agus.
Dinkes berharap masyarakat tidak menganggap remeh dampak musim kemarau. Pasalnya, cuaca ekstrem tidak hanya berdampak pada ketersediaan air, tetapi juga berpotensi meningkatkan kasus penyakit yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Jelang COP31, Jaringan Orang Muda Kritik Eksploitasi Alam di Jogja, Rakyat yang Tanggung Akibatnya
-
Korban Luka Kericuhan Malioboro Capai 116 Orang, 13 Jalani Dirawat Inap
-
Bukti Negara Hadir Tingkatkan Kesehatan Masyarakat: Program CKG Sudah Deteksi Medis 105 Juta Orang
-
Usung Pelestarian Budaya Berkelanjutan, Ini Rangkaian Acara Tentrem Cultural Week 2026
-
JPW Pertanyakan Sikap Humanis Polda DIY: Ada Pelempar Berlindung di Balik Barikade Polisi