- Perlambatan ekonomi DIY berdampak signifikan pada UMKM, terutama yang terkait pariwisata, menyebabkan penurunan penjualan diperkirakan melebihi 20 persen.
- Pelaku UMKM merespons kondisi ini dengan melakukan efisiensi biaya menyeluruh dan harus memperkuat pemasaran melalui platform digital.
- Pemerintah DIY didorong untuk memberikan dukungan melalui stimulus, bantuan pemasaran, dan mengoptimalkan perluasan akses penerbangan internasional.
Ia mengakui, kebijakan ekonomi seperti kenaikan upah minimum juga membawa konsekuensi bagi pelaku usaha. Namun hingga saat ini, dampaknya masih diupayakan dapat diatasi melalui strategi efisiensi dan peningkatan pendapatan.
Apalagi angka pengangguran di DIY masih cukup tinggi. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di DIY pada Agustus 2025 tercatat sebesar 3,46 persen.
"Kalau dampak ekonomi pasti ada. Maka efisiensi itu lebih ditekankan, dan juga bagaimana meningkatkan pendapatan. Kalau sampai pengurangan tenaga kerja, saya kira belum sampai ke sana, meskipun kekhawatiran itu ada dengan kondisi global saat ini," paparnya.
Deddy menambahkan, kondisi pariwisata dunia memang belum sepenuhnya pulih. Namun Indonesia, termasuk DIY, dinilai masih berada dalam situasi yang relatif lebih baik dibandingkan sejumlah negara lain.
"Kondisi pariwisata dunia itu kan belum baik-baik saja, tapi lebih baik di Indonesia. Kita berusaha melalui PHRI Pusat untuk memajukan pariwisata Indonesia, khususnya DIY, bersama pemerintah daerah dan stakeholder pariwisata," tandasnya.
Salah satu upaya yang dinilai penting untuk menggerakkan kembali sektor pariwisata, menurutnya adalah perluasan akses penerbangan internasional. Kemudahan akses menjadi faktor krusial untuk menarik wisatawan mancanegara di tengah ketidakpastian ekonomi global.
"Harapan kita, akses penerbangan internasional di bandara bisa diperbanyak. Kemudian ada kemudahan-kemudahan bagi wisatawan asing untuk datang ke Indonesia," ungkapnya.
Ia menambahkan, meskipun belum terjadi penurunan drastis, jumlah wisatawan mancanegara ke Yogyakarta tercatat mengalami penurunan sekitar 5 hingga 10 persen, terutama dari kawasan Eropa. Sementara itu, wisatawan dari Tiongkok justru menunjukkan tren peningkatan.
"Yang turun dari Eropa, yang naik malah dari Cina. Ini menjadi tantangan bagaimana mengubah pola wisatawan sekaligus pola promosi. Karena dunia pariwisata ini adalah nafas kehidupan kita," imbuhnya.
Baca Juga: Demi Keselamatan Publik! Mahasiswa UMY Gugat UU LLAJ ke MK Setelah Jadi Korban Puntung Rokok
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Berita Terkait
Terpopuler
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
- Beredar 24 Nama Terseret Kasus BGN, Kuasa Hukum Sony Sonjaya: Nama Itu Sudah Diserahkan ke Penyidik
Pilihan
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
-
Mahasiswa Belum Muncul, Begini Kondisi Terkini Bundaran HI Jelang Aksi 12 Juni
Terkini
-
PTN Masih Ngeyel Buka Jalur Mandiri, PTS di Jogja Terancam Tutup Prodi
-
BRI Umumkan Buyback Saham Hingga Rp500 Miliar Sesuai Ketentuan OJK
-
Kemarau Panjang Mengintai, Penyakit dari Flu, Iritasi Mata hingga Dehidrasi Ancam Warga Bantul
-
8 Orang Diperiksa dalam Kasus Dugaan Malapraktik, Dua Dokter RSUD Prambanan Dimintai Keterangan
-
Shafiyah Journey & Expo 2026 Bakal Hadir di Jogja: Jadi Ruang Terpadu Gaya Hidup Islami