Budi Arista Romadhoni | Hiskia Andika Weadcaksana
Rabu, 28 Januari 2026 | 13:20 WIB
Ilustrasi gempa bumi. (pixabay)
Baca 10 detik
  • Gempa bermagnitudo 5,7 terjadi di tenggara Pacitan, Jawa Timur pada Selasa (27/1/2026) pagi disebabkan oleh deformasi lempeng intraslab.
  • Gempa susulan magnitudo 4,5 di timur laut Bantul, DIY beberapa jam kemudian diduga akibat pasokan tekanan dari gempa pertama.
  • Pakar UGM menjelaskan perbedaan efek gempa disebabkan oleh kekuatan, lokasi, dan pergerakan vertikal gelombang pada zona sesar aktif.

SuaraJogja.id - Gempa bumi beberapa kali mengguncang sejumlah wilayah di selatan Pulau Jawa terjadi pada Selasa (27/1/2026) kemarin. Gempa bermagnitudo 5,7 pada pukul 08.20 WIB dengan pusat gempa sekitar 24 kilometer arah tenggara Pacitan, Jawa Timur dengan kedalaman 122 kilometer. 

Lalu beberapa jam setelahnya, tepatnya sekitar pukul 13.15 WIB, gempa bumi kembali terjadi dengan magnitudo 4,5 dengan pusat gempa berada di timur laut Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta

Pakar Gempa dari Teknik Geologi UGM, Gayatri Indah Marliyani, menuturkan bahwa gempa bumi yang terjadi di Pacitan, Jawa Timur dapat dikategorikan sebagai gempa intraslab. Sebab sumber gempa berasal dari dalam lempeng samudra yang tersubduksi atau dikenal sebagai slab. 

"Deformasi terjadi apabila lempeng terus didorong ke dalam, sehingga lempeng dapat terus berubah bentuk dan bergeser. Perubahan dan pergeseran lempeng tersebut menyebabkan terjadinya gempa bumi," kata Gayatri, Rabu (28/1/2026). 

Soal kekuatan magnitudo dan karakter pada sumber gempa yang berbeda dari kedua kejadian tersebut menimbulkan adanya perbedaan efek yang dapat dengan jelas dirasakan oleh masyarakat. 

Gayatri mengungkapkan bahwa gempa yang terjadi pada pagi hari cenderung terasa seperti gerakan mengayun. Sedangkan gempa berikutnya terasa seperti sentakan. 

"Perbedaan efek yang dirasakan masyarakat dipengaruhi oleh lokasi terjadinya gempa. Kekuatan magnitude yang besar dan pergerakannya yang vertikal membuat gelombangnya naik ke atas, sehingga dampaknya meluas," ujarnya. 

Terkait kejadian gempa kedua di DIY menurut Gayatri terjadi di zona sesar aktif, Sesar Opak. Meskipun sumber pusat gempa berbeda. 

Namun ada kemungkinan gempa kedua terjadi akibat adanya pasokan tekanan yang diberikan oleh gempa pertama. 

Baca Juga: Trah Sultan HB II Ungkap Aset Rampasan Geger Sepehi 1812 yang Masih di Inggris, Nilainya Fantastis

"Tekanan tersebut yang membuat lempeng tidak stabil dan bergerak sehingga gempa dapat terjadi," ucapnya.

Dalam kesempatan ini, Gayatri mengimbau masyarakat untuk tak panik berlebihan. Melainkan harus tetap waspada dan bersiap jika gempa kembali melanda.

"Masyarakat memang harus selalu waspada dengan adanya gempa ini. Kejadian gempa pada hari ini dapat dijadikan pengingat bahwa kita berada di area tektonik aktif. Sehingga, masyarakat harus siap siaga dalam merespons gempa bumi ini," tuturnya.

Load More