- Pasangan ZAI (32) dan SN (29) dari Semarang ditangkap karena mencuri 23 baterai motor listrik di Yogyakarta dan Semarang.
- Pelaku menggunakan modus mengganjal pintu slot pengisian untuk mengakali sistem penguncian mesin stasiun pengisian.
- Pasangan tersebut terpaksa mencuri karena desakan ekonomi untuk menambah modal bisnis yang sedang dirintis.
SuaraJogja.id - Desakan ekonomi seringkali menjadi pemicu seseorang melakukan tindakan di luar batas nalar. Kisah pilu ini dialami oleh pasangan suami istri ZAI (32) dan SN (29) asal Semarang.
Mereka terpaksa berurusan dengan hukum setelah nekat mencuri puluhan baterai motor listrik di berbagai stasiun pengisian di Yogyakarta dan Semarang.
Dari tangan keduanya, polisi berhasil mengamankan 23 unit baterai. Sebuah jumlah yang fantastis, mengingat harga satu unit baterai bisa mencapai Rp5.000.000. Namun, di balik angka-angka tersebut, tersembunyi cerita perjuangan hidup yang getir.
Kapolsek Depok Barat, Kompol Abdul Jalil, menjelaskan bahwa kasus ini terungkap setelah manajemen penyedia baterai listrik melaporkan kehilangan di sebuah stasiun pengisian di mini market Jalan Laksda Adisucipto pada awal Januari 2026.
"Ini pelaku suami istri dan berdomisili daerah Semarang," ucap Jalil saat konferensi pers di Mapolsek Depok Barat, Kamis (29/1/2026).
Penangkapan ini membuka tabir di balik aksi nekat mereka.
Modus operandi yang digunakan ZAI dan SN terbilang cerdik. Mereka mengelabui sistem penguncian mesin dengan menggunakan teknik ganjal pintu slot baterai.
Akibatnya, mesin merespons seolah penguncian telah sempurna, padahal baterai bisa dengan mudah diambil.
Kanit Reskrim Polsek Depok Barat, AKP Eko Haryanto, mengungkapkan bahwa ZAI, yang juga pengguna motor listrik, telah mempelajari celah keamanan sistem tersebut.
Baca Juga: Swiss-Belhotel Airport Yogyakarta Rayakan Ulang Tahun ke-2 dengan Menggelar Berbagai Kegiatan
"Pelaku ini mempunyai motor listrik dan sudah mempelajari cara mengelabui sistem itu sehingga dia bisa mengambil," kata Eko.
Mereka bahkan memanfaatkan aplikasi resmi untuk memantau lokasi stasiun yang memiliki baterai penuh sebelum melancarkan aksinya.
"Dari dari pelaku ini kami mengamankan 23 tiga baterai. 23 baterai itu dihasilkan dari pencurian di beberapa TKP di wilayah Jogja dan di wilayah Semarang," tandas Eko.
Ironisnya, meskipun harga satu baterai baru mencapai Rp5.000.000, pasangan ini menjualnya secara daring dengan harga sangat murah, hanya sekitar Rp700.000 hingga Rp800.000.
"Harga satu baterai Rp5 juta. Kalau ditawarkan cuma Rp 700-800 ribu ya tapi kan second tapi memang ini masih 90 persen kekuatan," ungkapnya.
Pihak kepolisian juga menegaskan bahwa setiap baterai sebenarnya telah dilengkapi dengan teknologi pelacak. Teknologi ini memungkinkan sistem mengetahui identitas pengguna terakhir.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bagaimana Cara Cek NIK Terindikasi Judol atau Tidak? Begini Langkah Mudahnya
- 25 Ribu Penerima Bansos di Sulsel Terindikasi Judol
- Buruh di Jogja Geruduk Kantor Gubernur DIY, Tantang Sultan Buktikan Keistimewaan untuk Pekerja
- Khofifah dan Emil Hadiri Pameran Tunggal Lukisan SBY, Apresiasi Karya Presiden ke-6 RI
- 3 Fakta Gila Usai Persib Bandung Kalahkan FC Seoul: Tumbangkan Ranking 26 Asia
Pilihan
-
Akhirnya Buka Suara Usai KPK Usut Korupsi di ATR/BPN, Ini Penjelasan Lengkap Nusron Wahid
-
Pria yang Tendang Perempuan di Senayan City Ditangkap Polisi!
-
Usut Dugaan Korupsi KSO Pertamina EP, Kejagung Geledah Kantor Setda hingga Bapenda Kota Bekasi
-
Mekkah Diserang Houthi, Kemlu Minta WNI Hati-hati di Arab Saudi
-
Dari Aceh hingga Nusa Tenggara, Membaca Peta Ancaman Megathrust Indonesia
Terkini
-
Sinergi Perumahan Diperkuat, BRI Dukung Percepatan Program 3 Juta Rumah
-
Tiga Kota Penuh Makna, Hifdzi Khoir Hadirkan Tur Showcase Intimate 'Berjalan Kaki'
-
Gegara Ayam Gongso, 413 Siswa dan Guru SMKN 2 Jogja Diduga Keracunan MBG
-
Kasus Kekerasan Seksual di Ponpes Sleman: Nikah Siri Dibongkar, Berpotensi Tambah Tersangka Baru
-
Eks Pengurus Ponpes di Sleman Ditahan Terkait Dugaan Kasus Perkosaan