- Sekolah di Kulon Progo mengecat ulang sesuai SE Bupati yang mengganti motif batik Geblek Renteng dengan Gunungan Binangun.
- SDN 2 Pengasih membiayai pengecatan gapura dari keuntungan kantin karena anggaran BOS telah berjalan.
- Pemasangan foto pejabat daerah dan pusat tetap dilaksanakan, namun foto bupati/wabup terbaru menunggu ketersediaan gambar resmi.
Untuk pengecatan seluruh gedung, sekolah masih menunggu alokasi dana BOS Kabupaten. Sebab sekolah tidak lagi memiliki anggaran lebih.
"Untuk gedung semua kita belum ada dana, karena BOS itu sudah berjalan. Dari kabupaten nanti akan menganggarkan pengecetan. Kalau dananya sudah ada, kita alokasikan untuk pengecatan semua gedung," paparnya.
Sedangkan terkait kebijakan pemasangan foto bupati dan wakil bupati (wabup), Sri mengaku tidak mempermasalahkannya. Namun untuk pemasangan foto kedua pejabat tersebut, sekolah masih menunggu ketersediaan gambar resmi.
Sri menyebut, pemasangan foto pejabat sebenarnya bukan kebijakan baru. Sejak lama, sekolah telah memasang foto Presiden Republik Indonesia dan Wakil Presiden Republik Indonesia.
Seiring waktu, aturan berkembang dengan penambahan foto Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dan Wakil Gubernur, serta Bupati dan Wakil Bupati.
"Kalau pemasangan itu sudah lama. Aturan-aturan itu sudah ada, tinggal digerakkan lagi mungkin," ujarnya.
Ia menuturkan, di setiap ruang kelas terpasang enam foto pejabat, tiga di sisi kiri dan tiga di sisi kanan. Selain di kelas, foto juga dipasang di ruang guru, ruang kepala sekolah, perpustakaan, hingga ruang kegiatan.
"Semua memang dipasang. Dari dulu sudah begitu. Bukan mulai tahun ini," jelasnya.
Meski demikian, sekolah belum melakukan pemasangan foto terbaru bupati dan wabup karena belum memperoleh gambar resmi. Selama ini, pengadaan foto pejabat tidak diberikan langsung oleh dinas. Sekolah membeli dari pihak ketiga yang menawarkan ke sekolah.
Baca Juga: 7 Fakta Pencurian Tabung Gas LPG 3 Kg di Jogja: Maling Babak Belur Dihantam Stik Golf
"Biasanya ada pihak ketiga yang menjual gambar-gambar itu. Jadi sekolah beli sendiri, tidak diberi dari dinas," ungkapnya.
Sebelumnya Wakil Bupati Kulon Progo, Ambar Purwoko, mengungkapkan penghapusan motif batik Geblek Renteng sebagai bentuk penguatan identitas budaya daerah alih-alih politik. Seperti diketahui, motif tersebut digunakan saat masa kepemimpinan Hasto Wardoyo sebagai bupati kabupaten itu.
Sebab selama ini Geblek Renteng dikenal sebagai ikon Kulon Progo. Namun kini pemkab ingin menguatkan kembali filosofi Gunungan Binangun sebagai representasi identitas wilayah dan simbol historis dan kultural yang merepresentasikan semangat pembangunan, kemakmuran, serta kepemimpinan masyarakat Kulon Progo.
"Tiap kabupaten/kota kan punya identitas. Misalnya Kota Jogja dengan Segoro Amarto, nah Kulon Progo dengan Gunungan Binangun," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Berita Terkait
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
- 5 Rekomendasi Lipstik Anti Luntur Saat Dipakai Makan Gorengan
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Ibadah GMS di Bantul Dibubarkan Ormas, Polisi Turun Tangan, Begini Hasil Mediasinya
-
Penjualan Hewan Kurban Turun 10 Persen, Pedagang Pusing Harga Pakan Naik Jelang Idul Adha
-
Dugaan Korupsi Tiga Mantan Pengurus BUKP Tempel Sleman, Negara Rugi Rp2,1 Miliar
-
Siap Lari di Mandiri Jogja Marathon 2026? Marriott Yogyakarta Hadirkan Paket Race & Rest Bagi Pelari
-
Jalan Damai 57 Biksu Tembus Panas dan Luka, Yogyakarta Jadi Titik Istimewa Menuju Borobudur