Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 20 Maret 2026 | 11:13 WIB
Ketum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan khutbah Idul Fitri 1447 Hijriah, Jumat (20/3/2026).[Suara.com/Putu]
Baca 10 detik
  • Muhammadiyah melaksanakan Salat Idulfitri pada Jumat, 20 Maret 2026, berbeda dengan ketetapan pemerintah saat itu.
  • Haedar Nashir menekankan Idulfitri harus memperkuat toleransi, kebersamaan, dan perilaku mulia pasca Ramadan.
  • Umat diimbau menghindari provokasi, ujaran kebencian digital, serta menjaga gaya hidup moderat dan peduli sosial.

SuaraJogja.id - Berbeda dengan pemerintah, Muhammadiyah menggelar Salat Idulfitri 1447 Hijriah, Jumat (20/3/2026). Ketua Umum (Ketum) PP Muhammadiyah, Haedar Nashir pun menyampaikan pesannya dalam momen Lebaran kali ini.

Haedar menyatakan Idulfitri harus menjadi momentum untuk memperkuat nilai-nilai toleransi, kebersamaan, dan akhlak mulia dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab keberhasilan ibadah puasa Ramadan tidak hanya diukur dari pelaksanaan ritual, tetapi juga dari perubahan sikap dan perilaku umat setelahnya.

"Puasa tidak boleh berhenti pada aspek formal. Harus ada perubahan nyata dalam perilaku, baik secara individu maupun dalam kehidupan sosial," ungkapnya.

Menurut Haedar, membangun kehidupan yang harmonis dan damai di tengah keberagaman masyarakat Indonesia sangatlah penting. Sikap toleran menjadi kunci utama dalam menjaga persatuan bangsa, sekaligus mencerminkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin.

Karenanya Haedar berharap umat tidak mudah terprovokasi oleh perbedaan, baik dalam kehidupan nyata maupun di ruang digital, termasuk perbedaan perayaan Lebaran tahun ini. Media sosial, kata Haedar, seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana untuk mempererat silaturahmi dan menyebarkan kebaikan, bukan menjadi ruang konflik dan perpecahan.

“Kehidupan bersama harus dibangun dengan semangat rukun, saling menghargai, dan tidak saling merendahkan. Hindari ujaran kebencian, fitnah, dan permusuhan, baik secara langsung maupun di media sosial," tandasnya.

Haedar juga mengajak umat Islam untuk menerapkan sikap moderat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hal konsumsi dan gaya hidup. Umat tidak berlebihan, serta mampu mengelola sumber daya secara bijak, terlebih di tengah tantangan ekonomi saat ini.

Nilai-nilai Ramadan seperti kepedulian sosial harus terus dijaga setelah Idulfitri. Umat harus lebih aktif berbagi melalui infak dan sedekah, serta peka terhadap kondisi sesama.

“Gunakan kelebihan yang dimiliki untuk hal-hal yang bermanfaat. Kepedulian sosial adalah bagian penting dari keberhasilan ibadah puasa, tandasnya.

Baca Juga: Tak Kenal Pelapor, Muhammadiyah Minta Pandji Lebih Cermat dan Cek-Ricek Materi Stand Up

Haedar pun menyinggung berbagai persoalan bangsa yang masih menjadi tantangan, seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan kerusakan lingkungan. 

"Nilai-nilai yang diperoleh selama Ramadan mampu menjadi benteng moral bagi umat untuk menjauhi perilaku tersebut," imbuhnya.

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Load More