Budi Arista Romadhoni
Senin, 30 Maret 2026 | 12:17 WIB
Ribuan warga antre bersalaman dengan Sri Sultan HB X di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Senin (30/3/2026). [Suara.com/Putu]
Baca 10 detik
  • Ribuan warga memadati Kompleks Kepatihan pada Senin (30/3/2026) untuk tradisi Syawalan bersalaman dengan Sri Sultan HB X.
  • Siswa berkursi roda dari SLB 1 Yogyakarta turut hadir sebagai bagian pembelajaran untuk bertemu langsung dengan pemimpin.
  • Acara akbar tersebut menyediakan 70 angkringan gratis dan diperkirakan dihadiri 5.000 hingga 10.000 warga DIY.

SuaraJogja.id - Lautan manusia tumpah ruah di Kompleks Kepatihan, Kantor Gubernur DIY, sejak fajar belum sepenuhnya menyingsing, Senin (30/3/2026).

Di antara ribuan wajah yang berpeluh karena antrean panjang, ada sebuah pemandangan yang menyentuh: rombongan siswa berkursi roda dari SLB 1 Yogyakarta, dengan sabar menanti giliran untuk satu tujuan mulia, bersalaman langsung dengan Raja mereka, Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) X.

Ini bukan sekadar antrean biasa. Ini adalah potret perjuangan, harapan, dan penghormatan dalam tradisi Syawalan yang kembali digelar setelah tahun sebelumnya absen. Antrean yang mengular sejak pukul 07.00 WIB dari pintu masuk Kepatihan hingga Jalan Suryatmajan menjadi saksi bisu betapa dalamnya kerinduan warga terhadap pemimpinnya.

Bagi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) dari SLB 1 Yogyakarta, momen ini adalah pengalaman pertama yang tak ternilai. Didampingi guru dan orang tua, mereka menempuh perjalanan demi merasakan atmosfer silaturahmi akbar dan menatap langsung sosok Sultan.

Sunardi, guru pendamping, menuturkan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari pembelajaran di luar kelas. "Kita ikut ini karena mengenalkan siswa untuk bertemu langsung dengan Sultan. Kebetulan kita mewakili SLB 1 Jogja," ujarnya dengan raut wajah bangga.

Meski sebagian siswa menggunakan kursi roda, Sunardi menyebut akses menuju lokasi cukup ramah bagi mereka. "Kebetulan yang kita pilih memang pengguna kursi roda. Tapi tadi lewat jalannya sudah aman," jelasnya, menunjukkan bahwa semangat inklusivitas terasa dalam perhelatan ini.

Kisah lain datang dari Maria Moy (27), seorang perantau asal Serui, Papua. Baginya, bisa bertemu Sultan adalah sebuah kemewahan yang tak bisa diukur dengan materi. Ia sengaja datang pagi buta untuk mengamankan posisi di antrean.

"Belum tentu semua orang yang tinggal di Jogja bisa bertemu langsung dengan Sri Sultan. Ini kesempatan yang tidak datang dua atau tiga kali, jadi kalau ada kesempatan saya langsung datang," tutur Maria dengan mata berbinar.

Pengalamannya semakin lengkap dengan hadirnya 70 angkringan yang menyajikan kuliner khas Yogyakarta secara gratis untuk seluruh warga. "Menurut saya acaranya luar biasa. Selain bisa bersalaman dengan Sultan, juga ada makanan yang disediakan. Ini pengalaman yang berbeda bagi saya," paparnya.

Baca Juga: Pemkot Yogyakarta Jajaki Uji Coba WFH Satu Hari Sepekan, Efisiensi BBM Jadi Tolok Ukur Utama

Semangat komunal juga ditunjukkan oleh Rohayatun, warga Sewon, Bantul. Ia bersama sekitar 90 ibu-ibu lainnya menyewa tiga bus demi bisa hadir dalam acara ini. Bagi mereka, bersalaman dengan Sultan bukan sekadar tradisi, melainkan sebuah ikhtiar spiritual.

"Naik bus tadi tiga bus. Satu busnya berisi sekitar 30-an orang, jadi sekitar 90 orang. Kebanyakan ibu-ibu semua," katanya. "Insyaallah bisa ketemu. Pengin silaturahmi, *ngalap berkah* (mencari berkah)," imbuhnya penuh harap.

Di tengah lautan massa, Sri Sultan HB X didampingi GKR Hemas, serta Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X bersama GKBRAA Paku Alam X, dengan sabar menyalami satu per satu warga yang datang silih berganti. Sebuah pemandangan yang menunjukkan kedekatan tanpa sekat antara pemimpin dan rakyatnya.

Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, memperkirakan sekitar 5.000 hingga 10.000 warga hadir dalam acara silaturahmi ini. "Kami dengan keterbatasan memfasilitasi warga, semoga berkenan," pungkasnya.

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Load More