- Sidang replik kasus korupsi hibah pariwisata terdakwa Sri Purnomo berlangsung di pengadilan pada Jumat, 3 April 2026.
- Kuasa hukum menilai replik jaksa gagal membuktikan unsur pidana dan hanya memperluas narasi tanpa bukti yang relevan.
- Sri Purnomo menyatakan kebijakan hibah adalah respons krisis pandemi Covid-19 tanpa motif keuntungan pribadi maupun kepentingan politik.
SuaraJogja.id - Sidang lanjutan perkara dugaan korupsi hibah pariwisata dengan terdakwa Sri Purnomo memasuki tahap replik dari Jaksa Penuntut Umum.
Namun, dalam perkembangan persidangan tersebut, pembelaan menilai tidak terdapat hal baru yang mampu membantah substansi yang telah disampaikan sebelumnya.
Kuasa hukum Sri Purnomo, Soepriyadi, menegaskan bahwa replik yang disampaikan belum menyentuh inti persoalan dalam perkara ini.
"Replik tidak mengoreksi kelemahan mendasar dalam tuntutan, terutama terkait pembuktian unsur. Ini justru menguatkan bahwa perkara ini dipaksakan dalam konstruksi yang tidak utuh," kata dia, Jumat (3/4/2026).
Ia juga menyoroti adanya upaya perluasan narasi dalam replik, termasuk dengan menyebut pihak lain dalam perkara.
“Bawa nama pihak lain tidak ubah substansi perkara. Yang harus dibuktikan adalah unsur perbuatan terdakwa, bukan memperluas narasi,” tegasnya.
Menurutnya, penyebutan nama seperti Raudi Akmal tidak relevan jika tidak diikuti dengan pembuktian yang jelas terhadap unsur pidana.
“Replik justru terlihat memperluas narasi, tetapi tidak menjawab unsur pidana yang menjadi pokok perkara. Penyebutan pihak lain tanpa hubungan kausal yang jelas tidak memiliki relevansi dalam pembuktian,” lanjutnya.
Dalam nota pembelaan pribadi yang disampaikan di hadapan majelis hakim, Sri Purnomo menegaskan bahwa sejak awal dirinya melihat adanya ketidaksesuaian antara fakta persidangan dengan konstruksi perkara yang dibangun.
Baca Juga: Kuasa Hukum Sri Purnomo Sebut Tuntutan 8,5 Tahun Penjara Bentuk Frustrasi Jaksa
“Saya menemukan beberapa kejanggalan yang terjadi saat sidang yaitu saat Jaksa Penuntut Umum mulai membacakan dakwaan dilanjutkan dengan menghadirkan saksi-saksi dan ahli serta menunjukkan bukti-bukti, bahkan sampai tuntutan dapat saya simpulkan bahwa banyak terjadi ketidaksesuaian fakta-fakta yang sebenarnya dengan apa yang dituduhkan kepada saya,” ungkapnya.
Pandangan tersebut menjadi dasar bahwa pembelaan yang disampaikan tidak berubah, sekaligus menegaskan bahwa replik yang diajukan belum menghadirkan fakta baru yang dapat menggugurkan argumentasi sebelumnya.
Di sisi lain, Sri Purnomo juga menekankan bahwa kebijakan hibah pariwisata yang menjadi pokok perkara lahir dalam situasi krisis, yakni saat pandemi Covid-19 melanda dan berdampak besar terhadap masyarakat, khususnya sektor pariwisata.
“Pemerintah Kabupaten Sleman tidak mungkin tinggal diam melihat kondisi tersebut. Saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk hadir memberikan solusi,” ujarnya.
Ia menyebut, keputusan tersebut diambil sebagai bentuk tanggung jawab seorang kepala daerah terhadap masyarakat yang sedang mengalami kesulitan, bukan untuk kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu.
“Saya memilih untuk bertindak, saya memilih untuk membantu, saya memilih untuk hadir,” katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- WNI Tentara Bayaran Rusia, Rendi Apriyanto Sempat Kirim Duit ke Ortu Tapi Rekening Diblokir
- 5482 Korban Keracunan MBG, Viral Ucapan Wapres Gibran: Bawa Bekal dari Rumah, MBG Jangan Dimakan
- Kekayaan Jusuf Hamka yang Dilaporkan Hary Tanoesoedibjo ke Polisi
- Jaksa Agung Burhanuddin Muncul di Istana, Bantah Bakal Dilantik jadi Jampidum
- 3 Sepatu Lokal Paling Nyaman dan Empuk untuk Jalan Terbaik Menurut Review
Pilihan
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
-
Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan
Terkini
-
Bahlil Rangkap Menteri dan Menko, Pengamat Sebut Prabowo Selamatkan Agenda Politik 2029
-
Resep Kuliner Tradisional Mulai Hilang, 45 Persen Warisan Gastronomi Indonesia Terancam Punah
-
Keluarga Eks-Napiter Terjebak Stigma, Deradikalisasi Dinilai Tak Cukup Sasar Pelaku
-
JPW: Kapolri Baru Tak Berdampak Jika Pekerjaan Rumah Dibiarkan Mangkrak
-
Pratikno dan Listyo Sigit Kena Resuffle, Prabowo Disebut Bersih-bersih Orang Jokowi