- Gangguan bahan baku nafta akibat konflik geopolitik memicu lonjakan harga kemasan plastik hingga lebih dari 50 persen secara global.
- Pelaku usaha kecil di Yogyakarta terdampak kenaikan biaya produksi namun enggan menaikkan harga jual demi mempertahankan jumlah pelanggan.
- Pemda DIY berupaya memfasilitasi akses bahan baku bagi pedagang untuk meminimalisasi tekanan ekonomi akibat lonjakan harga kemasan plastik tersebut.
SuaraJogja.id - Kenaikan harga kemasan plastik dalam beberapa waktu terakhir hingga lebih dari 50 persen karena gangguan bahan baku impor nafta akibat konflik geopolitik di Timur Tengah akhirnya berdampak pada kehidupan pelaku usaha kecil di Yogyakarta. Pedagang keliling, tukang siomay hingga pelaku usaha sablon plastik kini dihadapkan pada dilema yang sama.
Mereka kebingunan untuk menaikkan harga jual dagangannya atau menahan harga dengan konsekuensi keuntungan yang semakin menipis. Padahal selama ini, penghasilan yang mereka dapat juga terbatas akibat daya beli masyarakat yang menurun.
Sebut saja Mang Kardi (57), penjual siomay keliling yang biasa mangkal di kawasan Jalan Parangtritis. Laki-laki 60-an tahun ini mengaku terpaksa menaikkan harga jual siomay yang ia jajakan setiap hari demi bisa tetap berjualan. Kalau sebelumnya, satu porsi siomay ia jual Rp12.000, namun kini naik menjadi Rp13.000.
"Naiknya cuma seribu rupiah. Kalau dinaikkan terlalu banyak nanti pembeli juga repot gara-gara plastik naik," ujarnya di Yogyakarta, Selasa (4/7/2026).
Dalam satu porsi siomay, Mang Kardi menyajikan telur, dua buah siomay, kentang, tahu, dan kubis. Ia mengaku kenaikan harga bukan hanya terjadi pada bahan makanan, tetapi juga pada kemasan plastik yang digunakan untuk membungkus dagangannya.
Harga plastik kertas yang biasa ia gunakan untuk membungkus siomay bahkan melonjak cukup tajam. Jika sebelumnya hanya sekitar Rp25.000 per 100 biji kini harganya mencapai Rp37.000.
"Naiknya hampir setengahnya, padahal harga cabai, telur juga terus naik," ujarnya.
Warga Bantul ini menyebut, kenaikan juga terjadi pada kemasan plastik kresek yang digunakan sebagai pembungkus tambahan. Jika sebelumnya hanya sekitar Rp15.000 per pak maka kini mencapai Rp23.000.
Meski ada kenaikan yang cukup signifikan, Mang Kardi mengaku gamang untuk menaikkan harga jual siomaynya. Bila dipaksakan menaikkan harga terlalu tinggi dikhawatirkan pembeli berkurang. Opsi terbaik hanya menaikkan harga jual Rp1.000 per porsi, tidak lebih.
Baca Juga: Bandara YIA Layani 251 Ribu Penumpang Selama Periode Angkutan Idulfitri 2026
"Kalau rugi sih tidak, tapi sekarang keuntungannya diatur supaya tidak rugi saja," ujarnya.
Ia pun hanya bisa berharap harga bahan baku, termasuk plastik dan cabai yang juga ikut naik, bisa kembali stabil. Sehingga dia tetap bisa menghidupi keluarganya.
"Harapannya begitu. Tapi sekarang semuanya naik," katanya.
Kondisi serupa juga dirasakan Yanti, seorang pedagang makanan keliling yang menjual berbagai menu seperti nasi teri tempe, jus, hingga makanan ringan lainnya. Janda dua anak yang berjualan di kawasan Malioboro ini mengaku kenaikan harga plastik sudah terasa sejak menjelang Ramadan dan semakin terasa setelah Lebaran.
Berbagai jenis kemasan yang biasa ia gunakan naik drastis. Mulai dari plastik kiloan, cup minuman, hingga botol jus dan thinwall atau kotak makanan.
"Naiknya sampai 40 sampai 60 persen. Plastik sekiloan yang dulu wajarannya Rp3.500 sekarang sampai Rp6.500," ujarnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
Prabowo Dampingi PM India Narendra Modi Beribadah di Prambanan, 2.690 Personel Gabungan Siaga Penuh
-
Rekonstruksi Pembunuhan di Depan SMA 3 Jogja Digelar, Empat Orang Masih DPO
-
Perpres Cap LGBTQ Ancaman Nonmiliter, Dinsos DIY Belum Lakukan Penindakan, Fokus Perkuat Keluarga
-
Trah Sri Sultan HB II Ajukan Uji Materi Baru UU Gelar Pahlawan Nasional ke MK, Soroti Poin Ini
-
Sigit Mustofa Nahkodai Warkaban 2026-2029, Perkuat Solidaritas Diaspora Bantul di Seluruh Indonesia