- Pakar kegempaan UGM, Dwikorita Karnawati, menyatakan zona megathrust selatan Jawa telah memasuki fase 30 tahun terakhir siklus 200 tahunan.
- Pembangunan Bandara Yogyakarta International Airport dirancang sebagai infrastruktur mitigasi bencana gempa bermagnitudo 8,7 serta tempat evakuasi tsunami.
- Pemerintah daerah perlu terus melakukan edukasi kebencanaan berkelanjutan kepada masyarakat dan aparatur demi menjaga kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.
Namun ia mengingatkan tantangan terbesar dalam kesiapsiagaan bencana bukan hanya pada pembangunan infrastruktur.Keberlanjutan edukasi kepada masyarakat juga sangat dibutuhkan.
"Biasanya yang sudah dilatih di sekolah kemudian lulus. Ketika ada murid baru, mereka belum mendapat pelatihan. Karena itu latihan harus terus-menerus dilakukan," ujarnya.
Hal serupa juga berlaku pada aparatur pemerintah. Pergantian pejabat atau mutasi pegawai sering membuat pengetahuan kebencanaan tidak berkelanjutan.
"Bupati bisa berganti, pejabat bisa pindah tugas. Maka orang yang baru harus kembali dilatih. Edukasi kebencanaan harus berkelanjutan," ungkapnya.
Sementara Ketua Umum Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Harkunti P Rahayu, menyatakan kolaborasi antara akademisi, peneliti, praktisi, hingga pemerintah dalam penanggulangan bencana sangat dibutuhkan.
Diantaranya usulan pembentukan pusat studi siklon nasional, menyusul dampak besar siklon yang melanda wilayah Sumatera pada 2025.
"Pusat studi ini diharapkan menjadi sumber informasi dan pengetahuan untuk menghadapi fenomena tersebut serta mengembangkan upaya penanggulangan bencana ke depan," paparnya.
Sementara itu, akademisi Rahmawati Husein dari UMY mengatakan pengalaman Yogyakarta dalam pemulihan pascabencana sering dijadikan rujukan di berbagai negara.
Menurutnya, keberhasilan pemulihan pascagempa 2006 menunjukkan kekuatan solidaritas masyarakat yang menjadi modal utama dalam membangun ketangguhan menghadapi bencana.
Baca Juga: Petani Jogja Makin Terjepit! Biaya Angkut dan Karung Mahal Gegara BBM Naik, Kesejahteraan Merosot
"Semangat guyub, gotong royong, dan kekuatan budaya di Jogja menunjukkan ketangguhan masyarakat. Itulah yang ingin kita tularkan," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Dorong Inovasi PAI dan Kualitas Pendidikan, UNY Bekali Guru dengan Project Based Learning
-
PAI UNY Dorong Guru PAI SMA Jogja Terapkan Kesetaraan Gender Berbasis Islam
-
Gugat Aturan Gelar Pahlawan Nasional ke MK, Trah Sultan HB II Bongkar Dugaan Penjegalan
-
Warga Sleman Mengeluh Mati Listrik Tiap Hari, PLN Buka Suara dan Beberkan Penyebabnya
-
Nenek 80 Tahun di Sedayu Bantul Tewas Tercebur Sumur Saat Menimba Air