- Pelemahan rupiah dan kenaikan BBM memicu kekhawatiran penyelenggara event di Yogyakarta terkait operasional serta daya beli masyarakat.
- Festival Keroncong Plesiran di Prambanan pada 13–14 Juni 2026 tetap optimistis berjalan berkat dukungan basis penonton yang loyal.
- Penyelenggara menghadapi tantangan besar untuk menjaga regenerasi musik keroncong agar tetap diminati oleh generasi muda masa kini.
"Kami sempat berpikir, apa bisa dapat 10 grup. Ternyata yang mendaftar banyak sekali, sehingga harus kami seleksi," ungkapnya.
Fenomena tersebut menjadi secercah harapan keroncong masih memiliki ruang untuk berkembang di tengah gempuran musik populer dan perubahan selera generasi muda.
Meski mengakui perkembangan musik keroncong masih berjalan terbatas, Ari menegaskan komunitas keroncong tidak boleh menyerah.
Terlebih keberadaan Keroncong Plesiran bertahan selama 10 tahun menjadi bukti bahwa musik tradisional tersebut masih memiliki tempat di hati masyarakat.
"Kalau dibilang keroncong susah, memang iya. Tapi bukan berarti tidak bisa berkembang. Buktinya kami masih bisa bertahan sampai 10 tahun. Kekhawatiran itu ada, tetapi rasa optimis kami lebih besar," katanya.
Ari menilai tantangan ekonomi akibat pelemahan rupiah dan kenaikan BBM memang membuat penyelenggara event di Yogyakarta mulai waswas. Namun, ancaman yang lebih besar bagi komunitas keroncong justru adalah hilangnya regenerasi.
"Ketakutan itu selalu ada. Tapi masih bisa diselamatkan. Optimisme kami masih lebih besar daripada kekhawatirannya," ungkapnya.
Asisten Sekretariat Daerah DIY Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Arya Nugrahadi yang menjadi pelindung Keroncong Pleairan mengungkapkan perayaan 10 tahun tersebut tidak hanya dimaknai sebagai keberhasilan sebuah agenda musik bertahan di tengah gempuran berbagai hiburan modernm. Namun juga menjadi momentum untuk memperkuat peran keroncong sebagai warisan budaya yang harus diteruskan kepada generasi berikutnya.
"Yogyakarta membuktikan bahwa kekuatan komunitas itu begitu kuat, sehingga kita bisa menyelenggarakan Keroncong Plesiran sampai penyelenggaraan yang ke-10 ini," ujarnya.
Baca Juga: MBG Bakal Libatkan Kantin Sekolah, Pemda DIY Minta Skema Kerja Sama Dibuat Jelas
Ia menilai, memasuki usia satu dekade, Keroncong Plesiran tidak lagi hanya dimaknai sebagai sebuah event musik semata, melainkan memiliki tanggung jawab untuk menjaga eksistensi musik keroncong yang diyakini sebagai salah satu kebudayaan asli Nusantara.
"Rumusannya tentu sudah memasuki rumusan baru, menemukan value baru. Bagaimana memaknai kebudayaan yang kita yakini sebagai kebudayaan asli Nusantara, yaitu musik keroncong, agar bisa diteruskan kepada generasi-generasi selanjutnya," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid Terkait Kasus Bupati Kuansing
- Polisi Telusuri Jejak Hotman Paris di Balik Kematian Tak Wajar Pengacara Rocky Martin
Pilihan
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Terkini
-
Ucapan 'Londo Ireng' Prabowo Dinilai Ancam Demokrasi, Jurnalis: Kami Bukan Musuh Negara
-
BRI Peduli Libatkan Petani Lokal Hijaukan Pesisir dengan 24.000 Mangrove
-
Kongres 3 Organisasi Kedokteran, Satukan Visi Hadapi Tantangan Penyakit Pencernaan dan Hati
-
GEMPAR Dorong Pasar Kebonagung Berkembang sebagai Destinasi Wisata Kuliner
-
Menjangkau yang Terpencil, Mantri BRI Layani Toraja Utara