- Pelemahan rupiah dan kenaikan BBM memicu kekhawatiran penyelenggara event di Yogyakarta terkait operasional serta daya beli masyarakat.
- Festival Keroncong Plesiran di Prambanan pada 13–14 Juni 2026 tetap optimistis berjalan berkat dukungan basis penonton yang loyal.
- Penyelenggara menghadapi tantangan besar untuk menjaga regenerasi musik keroncong agar tetap diminati oleh generasi muda masa kini.
SuaraJogja.id - Pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai memunculkan kekhawatiran di kalangan penyelenggara acara di Yogyakarta. Kondisi ekonomi yang tidak menentu dinilai berpotensi menekan daya beli masyarakat dan berdampak langsung terhadap industri pertunjukan yang dalam beberapa tahun terakhir tumbuh pesat.
Ketua Penyelenggara Keroncong Plesiran, Ari Sulistiyanto atau Ari Kancil, mengakui situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku industri event. Di tengah menjamurnya berbagai festival dan konser hampir setiap akhir pekan, penyelenggara kini harus menghadapi ancaman baru berupa biaya operasional yang meningkat dan potensi menurunnya minat masyarakat untuk membeli tiket.
"Dengan kondisi seperti ini, dunia event memang banyak kendalanya. Apalagi sekarang event sangat masif. Hampir setiap Sabtu ada acara. Ditambah lagi kondisi daya beli masyarakat yang belum bagus," ujar Ari disela persiapan Satu Dekade Keroncong Plesiran di Yogyakarta, Rabu (10/6/2026).
Menurut dia, kenaikan BBM dan pelemahan rupiah secara tidak langsung memengaruhi seluruh ekosistem industri pertunjukan. Mulai dari biaya produksi, transportasi, hingga pengeluaran calon penonton yang semakin besar.
Meski demikian, pihaknya masih optimistis gelaran industri event bisa bertahan. Sebut saja Keroncong Plesiran tahun ini dapat berjalan sesuai harapan.
Salah satu modal utama yang dimiliki adalah basis penonton loyal yang selama ini terus mengikuti festival tersebut. Penjualan tiket bahkan telah dibuka sekitar tiga bulan sebelum acara berlangsung dan terpenuhi sejak jauh hari sebelum pelaksanaan.
"Kami memang tidak memaksakan menjadi tontonan yang massal seperti konser lapangan. Konsep yang kami ambil adalah intimate concert. Jadi penonton bisa menikmati pertunjukan dengan suasana yang lebih dekat," katanya.
Berbeda dengan konser berskala besar, Keroncong Plesiran selama ini membatasi jumlah penonton. Pada edisi-edisi sebelumnya, kapasitas maksimal hanya berkisar 3.500 hingga 4.000 orang. Tahun ini yang digelar di Prambanan pada 13-14 Juni 2026 besok, jumlah tersebut diperbesar dengan penyelenggaraan selama dua hari.
Selain itu, festival tersebut memiliki komunitas penonton tetap, terutama dari wilayah Jabodetabek. Bahkan, sejumlah penikmat Keroncong Plesiran rutin datang secara rombongan menggunakan bus wisata setiap tahun.
Baca Juga: MBG Bakal Libatkan Kantin Sekolah, Pemda DIY Minta Skema Kerja Sama Dibuat Jelas
"Kami punya fanbase yang cukup loyal. Mereka bahkan punya komunitas sendiri dan berangkat bersama setiap tahun untuk menonton Keroncong Plesiran," ujarnya.
Namun di balik optimisme tersebut, Ari mengakui ada kekhawatiran yang lebih besar, yakni masa depan musik keroncong di kalangan generasi muda. Memasuki usia satu dekade, Keroncong Plesiran tidak hanya berjuang mempertahankan festival, tetapi juga menjaga agar musik keroncong tidak kehilangan penerus.
Menurutnya, membuat keroncong semakin diminati anak muda masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai. Terlebih dengan gempuran genre musik lain maupun KPop.
"Kalau bicara keroncong supaya diminati anak muda, itu memang PR yang besar. Tugas kami adalah terus mengajak dan mengenalkan keroncong supaya semakin masuk ke generasi muda," tandasnya.
Namun Ari bersyukur dalam beberapa tahun terakhir mulai bermunculan kelompok-kelompok keroncong baru di Yogyakarta dan sekitarnya. Bahkan sejumlah sekolah sudah mulai memasukkan musik keroncong ke dalam kegiatan pembelajaran maupun ekstrakurikuler.
Harapan baru juga muncul dari program album kompilasi yang digagas Keroncong Plesiran. Awalnya, panitia hanya menargetkan sekitar 10 kelompok musik untuk terlibat. Namun, jumlah pendaftar ternyata jauh melampaui ekspektasi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Jelang COP31, Jaringan Orang Muda Kritik Eksploitasi Alam di Jogja, Rakyat yang Tanggung Akibatnya
-
Korban Luka Kericuhan Malioboro Capai 116 Orang, 13 Jalani Dirawat Inap
-
Bukti Negara Hadir Tingkatkan Kesehatan Masyarakat: Program CKG Sudah Deteksi Medis 105 Juta Orang
-
Usung Pelestarian Budaya Berkelanjutan, Ini Rangkaian Acara Tentrem Cultural Week 2026
-
JPW Pertanyakan Sikap Humanis Polda DIY: Ada Pelempar Berlindung di Balik Barikade Polisi