Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 19 Juni 2026 | 14:59 WIB
Antrian pengunjung dalam ARTJOG 2026 di JNM Yogyakarta, Jumat (19/6/2026). [Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi]
Baca 10 detik
  • Seniman dan pekerja seni menolak kehadiran Didit Hediprasetyo pada pembukaan pameran ARTJOG 2026 di Jogja National Museum.
  • Penyelenggara ARTJOG membatalkan kehadiran Didit sebagai pembuka pameran guna merespons kritik dan aksi protes publik tersebut.
  • ARTJOG 2026 tetap berlangsung dengan menampilkan 54 karya seniman yang mengangkat tema dialog serta pewarisan tradisi antargenerasi.

SuaraJogja.id - Polemik mengiringi penyelenggaraan ARTJOG tahun ini. Musababnya, putra Presiden Prabowo Subianto, Didit Hediprasetyo atau Didit Prabowo yang dijadwalkan membuka pameran tahunan sekaligus menjadi salah satu sponsor utama ARTJOG 2026 tersebut ditolak para seniman dan pekerja seni.

Di media sosial (medsos) ramai ajakan aksi demonstrasi menolak kedatangan Didit. Protes tersebut akhirnya membuat panitia ARTJOG membatalkan kehadiran Didit dalam pameran yang diikuti 54 seniman itu dalam pembukaan yang digelar di Jogja National Museum (JNM), Jumat (19/6/2026).

Bahkan Nama Didit yang sebelumnya sempat tercantum dalam materi publikasi dipastikan batal hadir, menyusul munculnya kritik dan aksi protes dari sejumlah seniman.

Head of Curator ARTJOG, Bambang Toko Wicaksono, mengatakan keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan situasi yang berkembang di ruang publik. Menurut dia, pihak penyelenggara menghormati berbagai respons dan pandangan yang muncul.

"Ya, kami menghormati komentar maupun berbagai postingan yang muncul. Beliau juga memahami situasi yang ada dan akhirnya memutuskan tidak datang," ujarnya.

Nama Didit sebelumnya sempat muncul dalam poster dan materi promosi ARTJOG. Namun, setelah adanya berbagai reaksi dari publik, kehadirannya dibatalkan dan agenda yang semula melibatkan dirinya digantikan pihak lain.

Meski demikian, Bambang memastikan dukungan yang telah terjalin sebelumnya tetap berjalan. Ia menegaskan dukungan tersebut tidak berkaitan dengan intervensi terhadap karya maupun arah kuratorial pameran.

"Beliau tetap mendukung. Dukungan itu lebih pada menjembatani penyelenggaraan. Bukan kemudian ada penunjukan atau intervensi tertentu," katanya.

Di tengah ramainya seruan aksi dari sebagian kalangan seniman, ARTJOG memastikan tidak ada peserta yang memutuskan menarik diri. Seluruh seniman yang terlibat telah menjalani proses persiapan sejak tahun lalu dan tetap berpartisipasi dalam pameran.

Baca Juga: ARTJOG 2026 Siap Guncang Yogyakarta, Usung Tema 'Generatio' untuk Seniman Muda

"Kalau seniman yang mundur tidak ada. Semuanya tetap karena prosesnya sudah berjalan sejak tahun lalu," jelasnya.

Ia menegaskan para pendukung acara tidak memengaruhi kebebasan berekspresi para seniman. Menurutnya, berbagai karya yang memuat kritik sosial maupun politik tetap memiliki ruang dalam ARTJOG.

"Ini tidak mengintervensi apa pun terhadap karya. Tidak berpengaruh. Dulu juga ada karya-karya yang berisi kritik, ada Aksi Kamisan, ada aktivis, semuanya tetap bisa tampil," ujarnya.

Polemik tahun ini pun mengingatkan sebagian kalangan pada perdebatan sekitar satu dekade lalu ketika sejumlah seniman menolak keterlibatan Freeport dalam ajang seni. Bambang mengakui ARTJOG belajar dari pengalaman tersebut.

Menurut dia, saat ini dukungan yang diterima berasal dari lembaga berbentuk yayasan dengan sistem yang lebih terbuka dan memiliki rekam jejak dalam mendukung kegiatan seni.

"Kami belajar dari pengalaman sebelumnya. Foundation itu sifatnya terbuka dan dapat diaudit. Rekam jejak dukungannya terhadap seni juga kuat," ujarnya.

Load More