- Trah Sri Sultan HB II menggugat UU Nomor 20 Tahun 2009 ke Mahkamah Konstitusi terkait hambatan pengusulan gelar Pahlawan Nasional.
- Pemohon menolak syarat administratif persetujuan seluruh ahli waris dan restu khusus karena dianggap tidak logis secara hukum publik.
- Mahkamah Konstitusi meminta pemohon memperbaiki materi permohonan hingga 24 Juni 2026 agar fokus pada pertentangan norma undang-undang tersebut.
SuaraJogja.id - Trah Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) II siap membuka dugaan penjegalan pengusulan gelar Pahlawan Nasional leluhur mereka di Mahkamah Konstitusi (MK). Adapun gugatan uji materi terhadap UU Nomor 20 Tahun 2009 telah didaftarkan dengan nomor perkara 197/PUU-XXIV/2026.
Ketua Yayasan Vasatii Socaning Lokika, Fajar Bagoes Poetranto, mengatakan pihaknya telah menyiapkan bukti-bukti terkait hambatan regulasi dan fakta sejarah Peristiwa Geger Sepehi 1812 untuk dibawa ke persidangan.
"Syarat administratif yang mewajibkan tanda tangan persetujuan seluruh ahli waris dinilai keliru. Gelar pahlawan adalah hukum publik, bukan ranah perdata," kata Fajar, Jumat (19/6/2026).
Menurut Fajar, aturan turunan dari UU Nomor 20 Tahun 2009 telah secara sistematis menghambat pengusulan gelar Sultan HB II sejak 2016. Kewajiban memperoleh persetujuan seluruh keturunan, termasuk restu khusus dari Sultan HB X, dinilai tidak masuk akal secara hukum.
Hal itu mengingat Sultan HB II telah wafat pada 1828 dan kini memiliki ribuan keturunan.
Ia menilai pemerintah menyamakan persyaratan tokoh abad ke-18 dan ke-19 dengan pahlawan modern yang memiliki dokumen administrasi lengkap dan saksi hidup.
"Kewajiban mengumpulkan restu seluruh klaster trah, termasuk keharusan mendapat restu spesifik dari Sultan HB X, tidak masuk akal secara hukum," tandasnya.
Untuk membuktikan kelayakan Sultan HB II sebagai Pahlawan Nasional, kata Fajar, pihaknya selaku pemohon menyertakan naskah akademik dan dokumen sejarah mengenai Geger Sepehi 1812. Dokumen itu memuat bukti perlawanan militer dan intelektual Sultan HB II terhadap kolonialisme Inggris.
Selain menggugat aturan di MK, Trah Sultan HB II turut mendesak pemerintah Indonesia dan Inggris membentuk Komite Restitusi Sejarah terkait Peristiwa Geger Sepehi.
Baca Juga: ARTJOG Minta Maaf atas Insiden Pemukulan Seniman, Evaluasi Sponsor Pasca-Protes Didit Foundation
"Sultan HB II adalah simbol kedaulatan. Baginya, tunduk pada administrasi Barat adalah penghinaan terhadap leluhur dan tanah Jawa," tegasnya.
Sekretaris Yayasan Vasatii Socaning Lokika, Ananta Hari Noorsasetya, mengatakan naskah akademik yang disiapkan akan memuat pula catatan penjarahan ribuan manuskrip dan aset Keraton Yogyakarta oleh pasukan Inggris pada Juni 1812.
"Naskah akademik yang disiapkan membuktikan Sultan HB II secara konsisten melakukan perlawanan militer langsung menentang kolonialisme Inggris (pimpinan Thomas Stamford Raffles) demi mempertahankan kedaulatan wilayahnya," tandas Ananta.
Dalam sidang pendahuluan yang dipimpin Hakim Konstitusi Enny Nurbaningsih dan Arsul Sani, majelis menilai permohonan pemohon masih didominasi persoalan implementasi birokrasi dan belum cukup menunjukkan pertentangan norma undang-undang dengan UUD 1945. MK memberikan waktu kepada pemohon untuk memperbaiki permohonan hingga 24 Juni 2026.
Berita Terkait
-
ARTJOG Minta Maaf atas Insiden Pemukulan Seniman, Evaluasi Sponsor Pasca-Protes Didit Foundation
-
ARTJOG Ricuh! Seniman Mengaku Dipukul Petugas Keamanan
-
ARTJOG 2026 Memanas! Kehadiran Didit Prabowo Batal Usai Diprotes Seniman
-
Data Tak Akurat Bisa Bikin Kebijakan Salah Arah, Warga DIY Diajak Jujur Saat Sensus Ekonomi 2026
-
DPRD Kritik Kesiapan Liburan di Jogja, Wisatawan Terancam Kesulitan Akses ke Malioboro
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Prestasi Kinclong Netty Rosdiana Siagian: Mundur dari Polri, Tak Sejalan dengan Hati Nurani
- 7 Sneakers Lokal dengan Rating Bintang 5 di Shopee yang Nyaman dan Modis
Pilihan
-
Gempa M 5,5 Guncang Laut Barat Laut Tanimbar, Getaran Terasa hingga Saumlaki
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
Terkini
-
Generasi Muda Mulai Apatis terhadap Tuhan, Muhammadiyah Jawab Fenomena Agnostisisme dengan ChatHPT
-
RANS Carnival Kena Cancel Culture, Pakar Komunikasi Sebut Ini Bukan Sekadar Retorika
-
Dominasi Lapangan, SMK Nusantara dan MAN 1 Kabupaten Sukabumi Jadi Juara AXIS Nation Cup 2026
-
Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat
-
Coach Justin Nilai AXIS Nation Cup Buka Jalan Talenta Muda ke Level Profesional