Tasmalinda
Minggu, 21 Juni 2026 | 16:47 WIB
Ribuan mahasiswa UGM diterjunkan ke desa,
Baca 10 detik
  • UGM melepas 8.178 mahasiswa pada 19 Juni 2026 untuk melaksanakan KKN-PPM di 32 provinsi di seluruh Indonesia.
  • Program ini memfokuskan pemberdayaan masyarakat pada isu ketahanan pangan serta adaptasi terhadap tantangan perubahan iklim global.
  • Sebanyak 550 alumni terlibat mendampingi mahasiswa guna memastikan keberlanjutan program dan efektivitas solusi di setiap lokasi desa.

SuaraJogja.id - Sebanyak 8.178 mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) bersiap menyebar ke berbagai pelosok Indonesia melalui program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Periode 2 Tahun 2026. Di tengah ancaman krisis iklim yang semakin nyata, kehadiran ribuan mahasiswa tersebut tidak sekadar menjalankan agenda akademik tahunan, melainkan menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan masyarakat desa dalam menghadapi perubahan zaman.

Pada Jumat (19/6/2026), UGM secara resmi melepas para mahasiswa yang akan bertugas di 298 unit KKN yang tersebar di 32 provinsi, mencakup 132 kabupaten dan 274 kecamatan. Tahun ini, KKN-PPM mengusung tema pemberdayaan masyarakat untuk ketahanan pangan dan adaptasi perubahan iklim, dua isu yang kini menjadi tantangan besar bagi banyak daerah di Indonesia.

Bagi Universitas Gadjah Mada dan Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA), desa tidak lagi dipandang sebagai objek pengabdian semata. Desa justru ditempatkan sebagai ruang belajar bersama, tempat bertemunya ilmu pengetahuan, pengalaman masyarakat, serta berbagai inovasi yang dibutuhkan untuk menjawab persoalan nyata di lapangan.

Krisis iklim menjadi salah satu alasan mengapa desa mendapat perhatian khusus. Perubahan pola musim, meningkatnya risiko gagal panen, berkurangnya ketersediaan air, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan kini dirasakan langsung oleh masyarakat di berbagai wilayah. Persoalan yang sebelumnya banyak dibahas dalam forum akademik tersebut kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Melalui KKN-PPM, UGM mendorong pendekatan yang menggabungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan riil masyarakat. Mahasiswa dari 15 fakultas diterjunkan dalam tim multidisiplin yang melibatkan berbagai bidang keilmuan, mulai dari teknik, geografi, kehutanan, pertanian, kesehatan, hingga ilmu sosial.

Koordinator Satgas KKN-PPM UGM x KAGAMA, Yanto Herliyanto, mengatakan pendekatan multidisiplin menjadi penting karena persoalan yang dihadapi masyarakat tidak dapat diselesaikan dari satu sudut pandang saja.

“Desa hari ini adalah garis depan krisis iklim. Kehadiran mahasiswa menjadi jembatan antara inovasi kampus dan kebutuhan riil masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, teknologi pertanian yang baik tidak akan berjalan optimal tanpa memahami kondisi sosial dan budaya masyarakat. Begitu pula strategi adaptasi iklim membutuhkan dukungan pengetahuan lokal yang telah lama hidup di tengah masyarakat desa.

Selain mahasiswa, keterlibatan alumni juga menjadi salah satu kekuatan dalam pelaksanaan KKN-PPM tahun ini. Melalui Satgas KKN-PPM UGM x KAGAMA, sebanyak 550 alumni dari 32 provinsi ikut terlibat dalam mendukung pelaksanaan program di berbagai daerah.

Baca Juga: Diskusi di UGM Dibubarkan Paksa, Mahasiswa Lintas Kampus DIY: Ini Ancaman Serius Demokrasi!

Kehadiran alumni tersebut tidak hanya memperluas jejaring kerja sama dengan pemerintah daerah, dunia usaha, dan komunitas lokal, tetapi juga membantu memastikan program-program yang dijalankan mahasiswa memiliki keberlanjutan setelah masa KKN berakhir.

Bagi KAGAMA, KKN bukan sekadar program pengabdian selama 50 hari. Program ini dipandang sebagai investasi sosial jangka panjang yang membentuk kepemimpinan, sensitivitas sosial, serta kemampuan mahasiswa dalam memahami persoalan masyarakat secara langsung.

Di sisi lain, dukungan alumni dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan berbagai program yang telah dirintis mahasiswa. Inisiatif seperti pengelolaan air bersih, pengembangan energi terbarukan, diversifikasi pangan lokal, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk berkembang ketika mendapat dukungan jaringan alumni di daerah.

Skala pelaksanaan KKN-PPM 2026 yang menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia juga menjadi ujian bagi model kolaborasi yang dibangun antara kampus dan alumni. Tidak hanya menuntut koordinasi yang baik, tetapi juga kemampuan menghadirkan program yang sesuai dengan kebutuhan setiap daerah yang memiliki karakteristik berbeda-beda.

Karena itu, Satgas KKN-PPM UGM x KAGAMA mendorong pendekatan berbasis data lokal, kemitraan multipihak, serta orientasi pada dampak yang terukur. Tujuannya bukan sekadar menjalankan kegiatan, tetapi menghadirkan perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Lebih jauh, KAGAMA memandang KKN sebagai bagian dari siklus pengetahuan yang saling terhubung. Pengalaman dan pembelajaran yang diperoleh mahasiswa di desa diharapkan kembali ke kampus sebagai bahan pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, hingga rekomendasi kebijakan publik.

Load More