- Forum BEM DIY menggelar unjuk rasa di DPRD DIY pada Selasa (23/6/2026) untuk menagih janji audiensi para wakil rakyat.
- Mahasiswa memprotes ketidakhadiran Fraksi Gerindra serta mengkritisi kebijakan pemerintah pusat terkait program Makan Bergizi Gratis dan kenaikan harga BBM.
- Para pengunjuk rasa menuntut pemerintah melakukan evaluasi total program nasional, menolak kenaikan harga, serta mendesak pengesahan berbagai regulasi strategis.
SuaraJogja.id - Usai unjukrasa yang sempat ricuh pada Jumat (19/6/2026) kemarin, Forum BEM DIY kembali melakukan aksi serupa, Selasa (23/6/2026). Puluhan mahasiswa dari sejumlah kampus pun menagih janji para wakil rakyat untuk menemui mereka.
Namun dari tujuh fraksi yang ada di DPRD DIY, hanya enam perwakilan fraksi seperti PDIP, PAN, PKB, Golkar, PKS dan Fraksi Gabungan Nasdem PPP dan PSI yang hadir mendengarkan tuntutan mahasiswa. Sedangkan Gerindra yang jadi sasaran unjukrasa sebagai partai penguasa justru tidak menampakkan kehadirannya.
"Pada aksi hari Jumat kemarin kita dijanjikan bertemu dengan tujuh fraksi DPRD DIY. Tapi sampai hari ini pukul 16.00 hanya ada enam fraksi. Dari sini dapat kita nilai bahwasanya statement dan omongan sebelumnya belum bisa dipercaya," papar koordinator aksi, Tegar Perdana di sela aksi.
Mahasiswa juga mempertanyakan pernyataan pimpinan dewan yang mengatasnamakan lembaga DPRD. Menurut mereka, kehadiran seluruh fraksi penting karena beberapa kebijakan yang dikritik berasal dari partai-partai pendukung pemerintah.
Apalagi dalam forum tersebut, Fraksi Partai Gerindra justru tidak hadir menemui mahasiswa. Padahal partai tersebut merupakan partai penguasa yang mengusung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
"Mana ini gerindra, kami datang karena mempertanyakan program-program prabowo yang saat ini banyak menyengsarakan rakyat," tandasnya.
Dalam aksi itu, mahasiswa mempertanyakan gelombang aksi dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang belakangan muncul di sejumlah daerah, termasuk di Yogyakarta. Mereka menyindir aksi-aksi yang mendukung program Presiden Prabowo Subianto tersebut hanya digerakkan demi wajan, panci dan uang saku.
"Salah satu yang kita soroti adalah terkait MBG. Kita tahu akhir-akhir ini banyak sekali demo yang mendukung MBG demi dapat wajan dan uang saku," paparnya.
Program Koperasi Desa (kopdes) Merah Putih yang gencar dilaksanakan pemerintah juga ikut jadi sasaran sindiran karena dianggap mubazir. Di saat MBG kacau pelaksanaannya, presiden masih saja memaksakan diri mengembangkan kopdes.
"APBN sudah habis diambil MBG, sekarang ada lagi kopdes. Mana ada pelatihan koperasi kok seperti pelatihan tentara, bukannya bagaimana manajemen mengelola koperasi biar maju," tandasnya.
Baca Juga: Gugat Aturan Gelar Pahlawan Nasional ke MK, Trah Sultan HB II Bongkar Dugaan Penjegalan
Selain kedua program itu, mahasiswa juga mempertanyakan menteri-menteri Prabowo yang seenaknya membuat kebijakan yang menyengsarakan rakyat. Sebut saja Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia yang diam-diam menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) yang justru semakin membebani masyarakat.
"Mana itu si bolu ketan yang tiba-tiba menaikkan harga BBM yang berdampak pada kenaikan harga lainnya," tandasnya.
Sementara Koordinator Umum Forum BEM DIY 2026, Faturahman Adjan Djaguna, dalam menyatakan pemerintah harus melakukan evaluasi total terhadap Program MBG agar tepat sasaran, transparan, dan tidak menjadi ruang pemborosan maupun kepentingan politik.
"Program dengan anggaran besar tidak boleh menjadi ruang pemborosan maupun kepentingan politik semata," ujarnya.
Mahasiswa juga secara tegas menolak segala bentuk kenaikan harga BBM dan kebijakan ekonomi yang dinilai semakin menekan masyarakat kecil. Sebab kebijakan energi dan ekonomi berpihak kepada rakyat, bukan menambah tekanan terhadap kelompok pekerja, petani, nelayan, UMKM, dan masyarakat berpenghasilan rendah.
Mereka juga menuntut pemerintah mencabut UU TNI/Polri yang dianggap mengancam demokrasi dan kebebasan sipil. Selain itu pengesahan RUU Perampasan Aset, RUU Masyarakat Adat, serta penyusunan dan pengesahan RUU Perlindungan Aktivis penghentian eksploitasi tanah adat di seluruh Indonesia, reformasi total partai politik dan reformasi birokrasi dan mewujudkan pendidikan gratis, ilmiah, dan demokratis bagi seluruh rakyat Indonesia.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Shio yang Tinggalkan Masa Sulit Mulai 5 November 2026, Siap Sambut Kebahagiaan
- 9 Sunscreen untuk Wanita Usia 50 Tahun ke Atas agar Kulit Awet Muda
- Viral Pendaki Ditandu Naik Gunung Merbabu, Biaya Capai Rp30 Juta
- Apa Bedanya Adidas Originals vs Adidas Performance? Kenali dari Logo dan Kegunaannya
- 4 Sepatu Jalan dengan Teknologi Penyangga Kaki Terbaik untuk Berjalan jauh
Pilihan
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa PUSPOM? Panglima TNI: Itu Hoaks
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
Terkini
-
Misi Hijau JCWF 2026: Wujudkan Wisata Berkelanjutan Lewat Kolaborasi Lintas Sektor
-
Jelajah Jogja Cultural Wellness Festival 2026: Sensasi Pemulihan Diri Berbalut Kearifan Budaya
-
Tuan Rumah JCWF & Munas DPP PUTRI 2026, Loman Park Hotel Dorong Sinergi Wellness-Pariwisata
-
Perempuan Tak Punya Pilihan Berhenti Haid, Pajak Pembalut 11 Persen Dinilai Nodai Keadilan Gender
-
Kota Jogja Vs Gunungkidul: Jarak Kualitas Hidup Ini Ternyata Masih Jauh!