- Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, memperingatkan pemerintah agar tidak melakukan militerisasi dalam berbagai aspek kehidupan sipil negara.
- Peringatan disampaikan saat peresmian gedung MSUS di Yogyakarta, Sabtu (4/7/2026), demi menjaga keseimbangan fungsi sipil dan militer.
- Haedar menekankan pentingnya penerapan kebijakan moderat serta pembagian wewenang yang tepat sesuai mandat institusi bagi pembangunan Indonesia.
SuaraJogja.id - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, memberikan catatan kritis mengenai dinamika kehidupan bernegara belakangan ini. Haedar menyoroti kecenderungan meluasnya keterlibatan militer dalam ranah sipil, mulai dari pelatihan manajer koperasi hingga sektor pendidikan dasar.
Pernyataan ini muncul di tengah perbincangan publik mengenai keterlibatan personel TNI dan Taruna Akmil dalam berbagai program sosial, seperti pelatihan manajer Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes) serta pengajaran di Sekolah Rakyat.
Dalam sambutannya saat meresmikan gedung Muhammadiyah Sapen Universal School (MSUS) di Yogyakarta, Sabtu (4/7/2026), Haedar menekankan pentingnya menjaga batas-batas fungsional antara institusi sipil dan militer.
Menurutnya, Indonesia sebagai negara demokrasi yang matang harus mampu menempatkan setiap elemen bangsa pada porsi kewenangan yang tepat.
"Indonesia perlu menjaga keseimbangan antara peran sipil dan militer. Keduanya mesti ditempatkan masing-masing pada fungsi dan kewenangannya secara tepat," ujar Haedar Nashir.
Karena itu Haedar mengingatkan pemerintah agar tidak terjadi militerisasi di berbagai aspek kehidupan sipil. Begitu pula tidak tepat apabila terjadi sebaliknya ketika penempatan fungsi-fungsi sipil pada ruang yang seharusnya menjadi domain militer.
"Jangan ada militerisasi di berbagai aspek kehidupan, sebagaimana juga jangan ada sipilisasi pada aspek-aspek yang memang menjadi kewenangan militer," ujarnya.
Meski demikian, Haedar mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru memberikan label atau tudingan terhadap setiap kebijakan pemerintah sebagai bentuk militerisasi.
Menurutnya, yang paling penting adalah memastikan setiap institusi bekerja sesuai mandat dan fungsi masing-masing.
Haedar menilai pembangunan Indonesia membutuhkan pendekatan yang terpadu, moderat dan holistik. Diantaranya dengan membuka ruang dialog dan masukan dari berbagai pihak.
"Jangan serta merta mengklaim bahwa itu militerisasi. Tempatkan sesuatu pada tempatnya. Bagi saya tawarannya adalah Pancasila. Pancasila merupakan ideologi yang moderat," ujarnya.
Haedar menyebut, semangat moderasi sebenarnya telah menjadi karakter bangsa Indonesia sejak awal berdirinya negara. Hal ini tercermin dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 hingga keseluruhan sistem ketatanegaraan Indonesia.
Karena itu, pemerintah perlu terus membuka ruang diskusi, dialog, serta mendengarkan berbagai masukan dari masyarakat dalam merumuskan kebijakan publik.
"Bangsa kita adalah bangsa yang moderat. Ketika menggunakan pendekatan-pendekatan yang ekstrem, biasanya tidak akan bertahan lama," katanya.
Moderasi disebut Haedar penting karena saat ini arah pendidikan Indonesia yang dinilai salah areha karena mulai bergeser hanya pada aspek kecerdasan intelektual semata. Sedangkan dimensi spiritual dan sosial sering kali terabaikan.
Berita Terkait
-
Kades Curhat Harus Urus Kopdes hingga Program Lain Terabaikan, Ratusan Mahasiswa Geruduk DPRD DIY
-
Muhammadiyah Desak Pembenahan Total Program MBG di Tengah Gelombang Kritik
-
Motor Listrik Rakitan Siswa SMK Ini Tembus 132 Km/Jam, Suaranya Nyaris Tak Terdengar
-
Rupiah Tembus Rp17.600, Aisyiyah: Pernyataan Prabowo 'Desa Tak Butuh Dolar' Cederai Rakyat
-
Tegaskan Indonesia Bukan Jalur Agresi, Pemerintah Didesak Tolak Akses Bebas Pesawat Militer AS
Terpopuler
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
- 5 Kipas Angin Sedingin AC Lebih Murah dan Irit Listrik
- Ramalan 12 Shio Bulan di Juli 2026: Peruntungan Karier, Keuangan, Asmara, dan Kesehatan
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Total Jadi 27 Orang, Seretan Tersangka Kekerasan Anak di Daycare Little Aresha Kian Panjang
-
Bayi Sengaja Ditinggal di Toilet Kereta Eksekutif KA Sancaka Jurusan Jogja - Surabaya
-
Muhammadiyah Ingatkan Pemerintah: Jangan Ada Militerisasi di Kehidupan Sipil
-
BRI Terus Membangun Budaya Integritas melalui Berbagai Program Internal
-
Asics Novablast 6 Diskon di Blibli, Sepatu Lari Empuk Mulai Rp2,299 Juta